Memaknai Keseharian

Apapun yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, atau disentuh dengan kulit, mungkin akan tidak ada artinya jika manusia tidak memusatkan perhatiannya terhadap fenomena-fenomena di luar dirinya itu. Rutinitas juga menumpulkan seseorang dalam mencandra, melihat apa yang terjadi atau apa yang dilakukan adalah hal yang biasa. Terlalu lebur sehingga tidak bisa mengenal, mengurai, memahami, dan memetakan kejadian-kejadian.

Manifesto merupakan Pameran Besar Seni Rupa Indonesia yang diadakan dua tahun sekali. Kali ini tema yang diusung adalah Keseharian. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Nasional Jakarta ini berlangsung hingga 7 Juni 2014 dan diikuti ± 79 karya yang terdiri dari karya 5 perupa sebagai commission artists. Banyak seniman muda yang berkontribusi dalam pameran ini.

Saya senang datang ke pameran ini karena banyak seniman yang menggunakan media yang tidak biasa. Lihatlah Between Existence and Non-Existence karya Teguh Agus Priyanto yang terbuat dari kumpulan kancing yang dihubungkan dengan benang nilon. Atau Malin Kundang - A tale of The Sailing Stones karya Desrat Fianda yang terbuat dari batu andesit. Dari banyak pameran yang saya kunjungi, saya baru melihat karya dari batu andesit selain bangunan candi. Hehe. Sang seniman membuat replika buku dari batu yang besar dan pastinya berat sekali.

Between Existence and Non-Existence karya Teguh Agus Priyanto

Malin Kundang - A tale of The Sailing Stones karya Desrat Fianda

A Day Like A Year, A Day Like A Month, A Day Like A Week karya David Armi Putra

Trans at November 2005 #02 karya Itsnaini Rahmadillah

Foto-foto lainnya bisa dilihat di Flickr saya.

Saya senang dengan pameran ini karena karya-karyanya terlihat segar. Salah satu teman saya, Desta, juga pameran di sini. Ia menampilkan majalah seni buatannya bernama fur. Sayangnya karena tidak ada biaya (menurut pengakuannya), ia hanya menampilkan dalam bentuk fotokopian. Haha. Desta juga bilang bahwa majalahnya ingin mendobrak paradigma seni di Jakarta yang dikendalikan oleh orang yang itu-itu saja. Ia ingin menyediakan ruang alternatif dan memberikan kesempatan orang banyak untuk menampilkan karya seni mereka.

Amen to that, Desta.

Menurut saya, seni di Bandung pun sama dikendalikan oleh orang-orang itu saja. Galeri-galeri besar di Bandung mayoritas menampilkan seniman-seniman dari ITB, bukan UPI atau UNPAS. Tidak hanya dinikmati, pelaku seni pun seharusnya bisa digerakan oleh semua orang.

Sepasang Sepatu (Bukan Lagu Tulus)

Salah satu teman saya di kantor punya ketertarikan khusus terhadap salah satu barang fashion, yaitu sepatu. Beberapa bulan yang lalu ia membeli sepatu Dr. Martens di Singapura kisaran Rp1,7 juta. Saya hanya berdecak dan berkomentar buat apa beli sepatu mahal karena hanya akan dipakai di kaki dan diinjak-injak. Teman saya menjawab, "Nah itu bedanya gue sama elu." Ia memang mengkoleksi beragam sepatu dan tampaknya ia sangat menyukai alas kaki ini--sebagaimana orang lain suka jam tangan atau kacamata.

Jauh sebelum kejadian di atas, teman saya yang lain bilang bahwa ia menilai orang dari sepatunya. Ia akan mempertimbangkan selera fashion seseorang dari sepatunya. Sepatu tidak lagi hanya sandang yang dipakai untuk melindungi kaki. Jauh dari itu, sepatu bukan hanya penunjang berbusana, tapi ia bisa menjadi hal yang paling penting dari diri, walaupun letaknya di bawah. Sepatu menjadi identitas.

Sepatu saya sama seperti sepatu-sepatu orang biasa. Maksudnya, saya tidak punya minat yang khusus pada sepatu. Saya hanya punya satu sepatu untuk setiap jenis dan baru diganti jika sudah rusak. Namun beberapa tahun ke belakang ini, tampaknya saya dikenal orang-orang mengenakan sepatu boot atau sepatu gunung.



Saya bukan pecinta gunung karena itu melelahkan. Sepatu boot atau sepatu gunung menjadi kesukaan karena saya enak dipakai, menutup kaki dengan sempurna dan.. keren. Apalagi saya sering jalan kaki ke sana sini. Saya butuh sepatu yang enak untuk jalan jauh. Dan ia tahan resistensi. Flat shoes sangat tidak disarankan untuk jalan kaki karena jauh lebih pegal dan tidak jarang menimbulkan kram. Maka dari itu, sepatu seperti ini jadi kegemaran saya.

Tapi setelah dipikir-pikir, casual shoes juga bisa dipakai buat jalan kan..

Dunia Baru

Diambil dari sini.

Kulihat dunia yang familiar, tapi ini berbeda. Ia bersinar, penuh gemintang. Berpendar menarik mata untuk terus menerus melihat tanpa jemu. Oh, dunia yang sungguh menggoda, aku ingin memasukinya.

Dunia ini baru, ia muncul entah dari mana. Ia membuka lapisnya satu persatu dengan malu-malu, meminta untuk disingkap. Dunia ini mendapatkan apa yang aku mau: rasa penasaran. Ketertarikan demi ketertarikan terus bermunculan. Dunia yang kukenal, tapi ini lebih dari yang kuharapkan. Aku berdecak setiap melihat indahnya. Ingin kukecup dan kuhisap sari-sarinya. Aku ingin memilikinya.

Ia hampir mirip dengan dunia yang aku punya dulu. Sayangnya, dunia dulu kini berdebu. Aku terlalu malas membersihkan. Kotak hitam transparan yang kini pudar pesonanya. Tapi dunia baru ini berbeda. Ia biru bergradasi dengan manik-manik bintang yang kadang terang kadang gelap. Ia berwarna.

Bolehkah aku tinggal untuk mengetahui esensi dunia baru ini barang sebentar?

Taman Bungkul dan Keteraturan Lainnya

Akhir bulan April kemarin, saya pergi ke Pasuruan dalam rangka wawancara seorang petani mangrove yang mendapatkan penghargaan Kalpataru tahun 2005 sambil belanja informasi wisata selama sehari. Redaktur saya, Mbak Dian, menyarankan agar saya menginap di Surabaya dan menghabiskan waktu di sana untuk jalan-jalan. Waahh.. terakhir saya ke Surabaya itu ketika saya masih SMA--itu juga karena ongkos pulang pergi naik kereta ditraktir oleh kakak sepupu saya. Mahal!

Berhubung kalau tugas kantor pasti dibayarkan baik transportasi dan akomodasi, saya senang sekali punya kesempatan itu. Seperti biasa, saya mendaftar tempat-tempat yang layak dikunjungi. Di Surabaya, saya kenalan dengan seorang wartawan foto. Ia bilang ia akan mengantarkan saya seharian (tapi nyatanya tidak). Akhirnya saya pergi ke tempat-tempat yang saya rencanakan sendirian menggunakan angkot yang baru saya browsing informasinya saat itu. Betapa mudahnya hidup kita karena internet. Terima kasih!

Sebelum check out dari Surabaya Plaza Hotel yang harga per malamnya 1.8 juta (anjrit) itu, saya pergi ke Taman Bungkul. Semenjak walikota Risma menjabat, taman ini begitu tersohor dan dikenal sebagai taman terbaik se-Asia dan mendapatkan penghargaan penghargaan internasional "The 2013 Asian Townscape Sector Award" dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Wah, saya penasaran. Letaknya tidak jauh dari hotel, hanya sekali naik angkot. Ternyata taman ini begitu terawat.

Semua fasilitas berfungsi. Ada skatepark, taman bermain, pancuran yang bisa dipakai mandi, bebatuan untuk refleksi, dan kamar mandi. Walaupun saat itu banyak orang, taman ini terlihat bersih. Bagaimana tidak, saya menemukan beberapa orang yang membawa pengki dan sapu lidi yang bertugas membersihkan taman. Selain itu, fungsi ruang publik dari taman ini pun terpakai. Selain bercengkrama, saya juga melihat beberapa orang latihan menari di sini.






Bunga-bunga pun tertata rapi. Rumput-rumput juga terjaga. Sayangnya berita terakhir tentang Taman Bungkul justru mengkhawatirkan karena taman ini rusak akibat pembagian es krim Walls gratis. Walaupun pihak Walls sudah  mau ganti rugi, tapi tetap saja disayangkan mana aturan jelas para pengunjung sehingga bisa merusak tanaman yang ada. Huhu.



Di depan taman ini pun terdapat sebuah zebra cross dan tombol untuk menyebrang jalan. Kalau kita memencet tombol tersebut, lampu berubah jadi merah dan mobil pun berhenti. Saya mencobanya dan berhasil! Waah, rasanya di Bandung tidak ada yang seperti ini. Kalaupun ada tombol penyebrangan, sepertinya jarang ada yang berfungsi. Saya merasa disayang di kota ini. Hihi.


Ngomong-ngomong tentang disayang, saya pergi ke jembatan penyebrangan yang ada di depan kantor walikota. Jembatan itu sangat bagus dan ada lampu-lampu besar yang masih lengkap. Sebelum saya naik jembatan, di sana ada plang yang menyebutkan bahwa jembatan ini dilengkapi cctv dan ada nomer-nomer yang bisa dihubungi jika terjadi kejahatan di atas jembatan. Waah.. belum pernah saya merasa diperhatikan seperti ini oleh pemerintah. *lebay

Selain ke taman, saya juga mengunjungi beberapa tempat di Surabaya. Tadinya mau dijadikan satu tulisan, tapi sayang jika tulisan Taman Bungkul hanya menjadi beberapa paragraf saja. Jadi, tempat lainnya saya ceritakan di postingan berikutnya ya. Jika tidak malas.

Berdasarkan yang saya lihat selama di Surabaya, saya melihat kota ini begitu bersih. Kota metropolitan yang tidak semerawut Jakarta. Trotoarnya besar dan bersih. Saking 'bersih'-nya, saya juga jarang melihat ada orang yang berdiri di pinggir jalan untuk memberhentikan angkot, tidak seperti di Bandung. Menurut teman fotografer, rata-rata orang di Surabaya pakai kendaran pribadi dan taksi. Selain itu, faktor bersih juga sepertinya didukung dengan petugas kebersihan yang cukup sering saya lihat.



Bahkan sungai di Surabaya pun tak kalah bersihnya, hingga beberapa kali saya melihat orang yang memancing di sana. Menurut teman-teman yang pernah tinggal di Surabaya, usaha pembersihan sungai ini sudah dimulai dari tahun 90-an. Pantas saja jika sampahnya hanya sedikit.

Wah, saya suka kota ini. Selain hasil usaha bertahun-tahun, hasil kerja walikota Risma yang baru menjabat sekitar 2 atau 3 tahun ini pasti berarti signifikan untuk kotanya. Risma dikenal sebagai orang yang saklek dan cinta terhadap Surabaya. Ia sering terlihat langsung turun ke jalan untuk membersihkan sampah. Semoga semakin banyak pemimpin dan kota seperti ini.

3 Days 3 Cities: Yogyakarta

Seperti Bandung, Yogyakarta itu semacam kota yang mainstream banget untuk dikunjungi. Saat sekolah, kota ini semacam destinasi wajib sebagai tujuan study tour. Tapi study tour sekolah saya tidak pergi ke Candi Prambanan dan saya penasaran setelah membaca novel Ayu Utami berjudul Maya yang membahas tentang Roro Jonggrang. Maka pergilah saya dan Eka ke sana.

Dari kejauhan, Prambanan adalah candi yang cantik. Bentuknya ramping dan tinggi. Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9. Candi ini ditujukan untuk Trimurti, yaitu Brahma, Wisnu, dan Siwa. Di tengah teriknya Yogyakarta, saya dan Eka berkeliling kompleks candi untuk mencari patung Roro Jonggrang. Beberapa jam setelahnya, saat mau pulang, kami baru sadar kalau Roro Jonggrang itu kan nama keseluruhan candinya, bukan berbentuk patung. Duuh.



Candi yang termasuk situs warisan dunia UNESCO juga memiliki sebuah cerita legenda tentang Pangeran Bandung Bondowoso yang jatuh cinta dengan putri kerajaan seberang bernama Rara Jonggrang. Prambanan adalah bentuk cinta yang ditolak dan berlandaskan tipu-tipu wanita yang tidak berani bilang tidak mau dengan mengemukakan syarat yang tidak masuk akal. Cantik bener pasti dia.


Karena pihak pengurus candi ini juga menawarkan tiket terusan ke Candi Boko yang letaknya hanya 3 km dari Prambanan, kami memutuskan untuk mengambil tiket terusan tersebut. Saya ingat candi ini, yang menurut legenda namanya diambil dari nama ayahnya Roro Jonggrang yaitu Ratu Baka, gara-gara iklan stasiun televisi yang syuting di sini. Jika Prambanan bentuknya ramping, Candi Boko terkenal dengan pintunya yang membingkai pemandangan gunung yang ada di depannya.

Dengan buru-buru, kami pergi ke keraton. Kenapa buru-buru? Karena kami harus pulang dengan bus pukul 5, sementara kami harus cari oleh-oleh dulu. Begitu sampai, ternyata keraton tutup karena ada acaranya. Maka dengan lelah, kami pergi ke Benteng Vredeburg karena Eka belom pernah ke sana. Dari kejauhan, benteng ini begitu memikat mata. Karena tidak setiap hari kita melihat ada benteng Belanda di pinggir jalan 'kan?

Setelah melihat benteng dengan tidak maksimal, kami pergi mencari oleh-oleh. Saya membeli kaos buat si pacar dan bakpia buat teman-teman kantor. Oh ya, selama di Yogyakarta, kami sangat dibantu oleh saudaranya Eka. Transportasi kami pun dimudahkan dengan dipinjamkannya motor. Kalau pakai bus, pasti tidak akan terburu. Setelah saudaranya mengantarkan Eka pulang naik bus ke Bandung, saya diantarkan pula ke terminal bus di Jombor. Di terminal, saya menunggu bus cukup lama, tapi tidak selama saat menunggu bus ke Semarang. Sendirian di kota yang jauh dan membayangkan jarak yang harus ditempuh ke Jakarta, saya merindukan mamah.

Huuu, cengeng.

Perlu saya akui bahwa perjalanan tampak menyenangkan saat direncanakan, tapi setelah dijalani, sepertinya kami terlalu ambisius. Jadi serba terburu-buru, tidak menikmati, dan tidak mendalami. Mungkin karena kami jarang memiliki waktu untuk jalan-jalan. Jadi, sekalinya jalan, kami mencoba memaksimalkan destinasi yang ada. Saran untuk pejalan lainnya, saat jelajah kota besar luangkan waktu minimal dua hari.

Sekian perjalanan tiga kota dalam tiga hari, Masih jelajah kota, saya akan menceritakan perjalanan saya ke Pasuruan dan Surabaya. Sampai jumpa!

3 Days 3 Cities: Solo

Judul trip kali ini adalah merepotkan orang lain. Perjalanan ke Solo betul-betul go show. Saya dan Eka betul-betul tidak browsing angkutan di dalam kota, selain mencari rental motor. Tentu karena mendadak dan saat libur panjang, rental motor pun penuh. Kemudian saya menghubungi teman lama saya di sana, Hilman namanya. Barangkali ia punya teman yang motornya nganggur dan bisa disewakan. Ternyata ada! Bahkan perjalanan kemarin ditemani seharian oleh Hilman dan temannya, Bowo.

Sambil menunggu Hilman dan Bowo siap-siap, saya dan Eka pergi ke keraton naik becak dari terminal bus. Keraton Surakarta Hadiningrat ini begitu khas dengan warna bangunan yang biru putih. Rupanya keraton yang didirikan tahun 1743 hingga 1745 ini tidak hanya terdiri dari satu bangunan saja, tetapi menyebar dan dibagi menjadi komplek-komplek.

Kami berjalan melalui alun-alun utara yang panas. Di sana terdapat dua buah pohon beringin yang dikeramatkan. Kemudian kami melihat sebuah pendopo yang bernama Sasana Sumewa. Dulu tempat ini berfungsi sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Lalu di belakang bangunan terdapat Sitihinggil Lor/Utara yang digunakan para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Bangunan ini lebih tinggi daripada bangunan sebelumnya.

Kami berjalan terus ke gerbang belakang dan menemukan jalan kecil untuk mobil. Di sana juga terdapat bangunan bernama Kemandungan Lor/Utara. Bangunan ini begitu cantik, didominasi dengan dinding dan lantai berwarna biru. Pintu tengah bangunan dijaga oleh dua orang penjaga dengan kostum khas. Pengunjung boleh masuk ke teras dan berfoto dengan mereka. Tidak dipungut bayaran, tapi sumbangan sebaiknya diberikan.



Perjalanan kami dilanjutkan ke Museum Keraton Surakarta Hadiningrat. Jika dilihat dari Kemandungan Lor/Utara, museum tersebut berada di sebelah kiri. Selain ruangan-ruangan, kami melihat halaman yang berisi menara dan pendopo di dalam museum. Halamannya tidak terdiri dari tanah, melainkan pasir. Menurut Hilman, pasir tersebut diambil dari pantai selatan dan mungkin memiliki nilai magis tersendiri. Namun secara logika, pasir lebih menyerap air ketimbang tanah. Mungkin itu alasan agar tidak ada genangan itulah sehingga dipilih menggunakan pasir.

Semua bangunan keraton dirancang oleh Pangeran Mangkubumi. Jika dibandingkan dengan keraton di Yogyakarta, akan terlihat beberapa kesamaan. Ini disebabkan karena kedua keraton tersebut dirancang oleh arsitek yang sama karena Pangeran Mangkubumi memberontak dan mendirikan kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwana I.

Kami bertemu Hilman dan Bowo saat kami sedang makan wedang ronde pakai es di pinggir jalan. Cuaca Solo begitu panas dan muka berminyak tidak karuan. Kami mengemukakan rencana kami untuk pergi ke Candi Cetho dan Candi Sukuh yang terletak di Karanganyar. Tapi karena saat itu sudah tengah hari, dan perjalanan ke candi memakan waktu dua jam, akhirnya rencana tersebut dibatalkan. Kami keliling kota saja.

Kami berempat makan siang di sebuah tempat yang tampaknya sangat terkenal bagi para turis yang berkunjung ke Solo yaitu Warung Selat "Mbak Lies" yang terletak di jalan entah apa. Haha. Jadi makanan di sini semacam daging sapi (bistik) dengan telur dan kuah, seperti semur. Jujur, untuk saya, makan di sini tidak mengenyangkan. Namun yang menarik dari tempat ini adalah dekorasi restoran serta kostum pramusaji yang unik.




Di sini banyak keramik dan barang pecah belah. Rupanya barang-barang tersebut merupakan koleksi dari sang pemilik. Mungkin karena dalam jumlah yang banyak, barang-barang tersebut membuat restoran ini unik. Jadi semacam organized chaos. Hehe. Dan pegawai prianya dipakaikan topi dan celemek paduan merah muda dan hijau. Waw.

Setelah itu kami pergi ke Museum Pers Nasional untuk melihat koran zaman dulu, alat cetak, serta tokoh-tokoh wartawan Indonesia. Lalu kami melihat barang-barang antik di pasar Triwindu. Dari sana, kami pergi ke makan es krim di Kusuma Sari. Mengunjungi tempat makan yang dianggap kuno menjadi salah satu tujuan wajib saya. Saat berada di tempat makan tersebut, saya kaget dengan harga yang super murah. Apakah ini dunia nyata?

Saat itu langit mulai mendung. Saya meminta Hilman untuk menunjukkan gereja tua di sini. Ternyata ada sebuah gereja yang sangat cantik bernama Gereja Katolik St Antonius. Ini merupakan gereja katolik pertama di Solo. Letaknya dekat balai kota Solo. Wah, dengan bebungaan merah muda yang mekar di depannya, membuat gereja ini semakin indah saja saat ditangkap kamera.

Rupanya gereja tersebut dekat dengan kawasan Pecinan. Bangunan yang paling terlihat di kawasan ini adalah Pasar Gedhe Harjonagaro. Bangunannya dirancang oleh Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, dan selesai dibangun tahun 1930. Di antara cahaya matahari sore yang hampir terbenam serta basahnya hujan, bangunan ini pun tidak kalah cantik. Halah, tapi bangunan kolonial mana sih yang gak disebut cantik sama saya. Haha.



Hanya beberapa meter dari Pasar Gedhe Harjonagaro terdapat kelenteng Tien Kok Sie. Wah, kesukaan saya juga nih! Saat kami datang, para pengurus kelenteng tengah mempersiapkan dekorasi untuk pertunjukkan wayang potehi. Saya tergiur untuk nonton (dan Hilman juga mengajak untuk nonton wayang orang), tapi kami enggan berada di Solo terlalu malam karena kami harus pergi ke Yogyakarta sebelum tengah malam.

Sebelum benar-benar meninggalkan kota ini, kami semua makan sate yang porsinya super nampol--akibat makan bistik yang tidak kenyang. Saking nampolnya, saya enggan makan sate beberapa hari kemudian. Belum lagi bumbu kacang yang super kental. Heheh. Saya lupa nama tempatnya, dan letaknya tidak jauh dari area pasar dan kelenteng.

Terima kasih kepada Hilman dan Bowo yang telah menjadi pemandu yang seru dan menyenangkan. Saya sih benar-benar terkesan dengan kota ini dan masih penasaran dengan candinya. Tapi sebelum membuat rencana perjalanan ke Solo berikutnya, mari kita ke Yogyakarta sebagai destinasi terakhir dengan alat teleportasi KW 15 karena kami pergi dengan bus antara kota dengan kecepatan tinggi.

3 Days 3 Cities: Semarang

Setelah beragam kesibukan (idiw), akhirnya saya memiliki waktu untuk menulis catatan perjalanan saya terakhir ke Semarang, Solo, dan Jogjakarta saat akhir pekan panjang di awal April lalu. Ini kali pertama saya dan Eka traveling dari kota masing-masing. Artinya kami berada di perjalanan ke luar kota di malam hari sendirian. Agak seram juga.

Saya naik bus Sido Rukun seharga Rp110.000 dari Terminal Grogol di Jumat sore. Agennya bilang kalau bus akan berangkat sekitar pukul setengah empat. Oleh karena itu saya datang pukul setengah dua karena belum pesan dan takut kehabisan. Sambil menunggu, saya juga sempat pergi ke Mal Citraland untuk beli celana jeans yang sudah robek. Duh.

Ternyata bus baru datang menjelang sekitar pukul setengah enam. Padahal bus-bus yang lebih tampaknya lebih bagus seperti Bejeu, Pahala Kencana, Selamet, atau Shantika, sudah pada berdatangan. Saya semakin cemas saja. Semangat traveling pun agak melempem. Mengingat harga tiketnya yang paling murah, saya membayangkan bus seperti apa yang akan saya tumpangi. Apakah bus omprengan yang penuh dengan preman? Apakah karena harga yang murah, bus akan datang sesuka hati? Lebih parah lagi--apakah bus tersebut betul-betul ada?

Akhirnya bus tersebut datang dan membuat saya lega karena bus tersebut bukan bus khayangan. Busnya tidak lebih baik dari bus reguler Jakarta - Bandung seperti Arimbi atau Primajasa. Setelah datang, bus pun tidak langsung berangkat. Ia semacam menunggu 'surat jalan' selama setengah jam. Kalau begini, kapan saya sampainya di Semarang? Hal ini diperparah dengan tol dalam kota yang macet sehingga kami menghabiskan hampir dua jam di Jakarta. Daftar rencana jalan-jalan Semarang dari pagi hari pun terancam bubar.

Setelah melewati beberapa fase tidur, melihat supir yang sudah kali ganti shift dan merokok di dalam bus, istirahat di restoran biasa namun harganya selangit, akhirnya saya sampai di Semarang sekitar pukul 11.00--totalnya enam belas perjalanan akibat Pantura yang macet karena sedang diperbaiki dan macet di daerah Pekalongan. Di Krapyak, yang ternyata hanya beberapa meter dari Jalan Siliwangi, Semarang, saya dijemput oleh sepupunya Eka bernama Windy. Kami langsung pergi ke rumah tantenya Eka karena Eka sudah sampai di Semarang dari tadi pagi. Bahkan Eka sudah sempat makan dan tidur.

Saya dijamu makan siang dan dipersilakan untuk mandi. Namun karena sudah kepalang kotor (ternyata Semarang panas) serta waktu yang kian menipis, kami memutuskan untuk pergi diantar dua saudara Eka, Windy dan Via. Beruntung Windy cukup terencana dan tahu betul Semarang, ia pun membantu kami menentukan destinasi untuk menghemat waktu. Akhirnya kami memutuskan daerah kota tua (dikenal sebagai Little Netherlands) dan pergi ke Gereja Blendug. Ini merupakan gereja Kristen tertua di Jawa Tengah yang dibangun tahun 1753. Blendug merupakan sebutan dari atapnya yang berbentuk seperti kubah.




Tidak jauh dari gereja, terdapat sebuah perusahaan rokok lokal bernama Praoe Lajar. Begitu lewat gedungnya, aroma tembakau yang khas begitu terasa. Ini merupakan perusahaan rokok pertama di Semarang. Sampai kini masih beroperasi dan menurut Windy rokoknya dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah.

Setelah dari kota tua, kami pergi ke Kelenteng Sam Poo Kong. Kelenteng ini adalah alasan utama saya pergi ke Semarang. Dari kejauhan tulisan Sam Poo Kong begitu jelas terlihat. Untuk masuk, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp3.000. Dan saya melihat sebuah kelenteng merah yang besar dan luas. Terbesar dan terluas seumur hidup saya. Lihatlah warnanya yang begitu menari, ornamennya yang begitu cantik, ukiran pilarnya.. saya jatuh cinta!




Selain aula utama, di sana ada tiga tempat untuk beribadah. Untuk bisa masuk ke area tersebut, kami harus membayar Rp20.000 per orang. Wah, mahal ya. Saya dan Eka masuk ke Goa Sam Poo Kong. Goa yang dimaksud adalah sebuah ruangan yang remang-remang dan sunyi--begitu khidmat. Goa tersebut dihiasi dengan relief batu yang diukir oleh cerita. Bagus!

Setelah dari Sam Poo Kong, kami menuju Lawang Sewu. Ternyata Lawang Sewu merupakan bekas kantor kereta api. Dari luar, bangunan ini juga begitu cantik dan terawat. Setiap orang harus membayar Rp10.000 dan pemandu Rp30.000. Pemandu di sini menggunakan kostum layaknya orang Belanda zaman dulu. Ia menjelaskan secara sistematis.


Pertama, kami diantarkan ke sebuah sumur sedalam 1.000 meter. Sumur ini merupakan sumber air yang dialirkan ke kamar mandi. Menurut sang pemandu, wastafel di kamar mandinya juga masih asli. Lalu kami diantar melihat ruangan-ruangan yang memiliki banyak pintu penghubung. Karena sejajar, pintu tersebut terlihat seperti kereta api. Tak lupa, kami diantarkan untuk melihat loteng yang penuh kelelawar. Salah satu tempat pamungkas dari Lawang Sewu adalah mengunjungi ruang bawah tanah. Untuk bisa masuk, penungjung harus menyewa boot dan senter, karena tempatnya terendam oleh air.

Sama seperti Malang, Semarang memiliki toko Oen. Sebetulnya toko Oen pertama dibuka tahun 1910 di Yogyakarta. Semarang merupakan kota terakhir yang menjadi cabang Oen yaitu tahun 1936. Melihat Oen dengan gaya Dutch Colonial mengingatkan saya pada Sumber Hidangan dan Braga Permai di Bandung. Saya membeli es krim dan kue telur yang konon kue khas dari toko ini (setelah tanya ke pramusaji). Cenderung tidak ada rasa dan tampaknya ini adalah makanan pendamping untuk sarapan.



Saya senang sekali bisa ke Semarang. Semarang kaya akan nilai sejarah. Bagaimana tidak, kendali kota ini pernah diberikan kepada VOC tahun 1678 oleh Sunan Amangkurat II sebagai pembayaran hutang. Dan ibukota Jawa Tengah ini secara resmi menjadi kota milik VOC ketika Susuhunan Pakubuwono I membuat kesepakatan untuk memberikan hak-hak perdagangan yang luas sehingga utang Mataram bisa dihapus. Semarang pun menjadi pusat perdagangan yang penting. Maka tidak aneh jika banyak peninggalan bangunan sejarah di sini.

Perjalanan saya dan Eka belum berhenti, kami pergi ke destinasi selanjutnya. Sebuah kota asal Joko Widodo yang kini sedang melambung namanya, yaitu Solo.