Labirin Manusia

Manusia diberi sebuah anugerah oleh Tuhan yang tak terkira yaitu sebuah otak. Oke, jika tidak percaya Tuhan, anggap saja si otak *pop* muncul entah dari mana. Kebetulan, misalnya. Si otak ini memiliki kemampuan super yaitu berpikir, sehingga ia yang membedakan manusia satu dengan manusia lain. Ia pula yang menjadi ciri khas seorang individu. Dan ia yang menentukan keputusan pilihan hidup yang mengarahkan manusia entah pada apa.

Di tahun 2014 ini, situasi Indonesia sedang seru-serunya karena sekarang adalah tahun pemilihan presiden. Yang mencalonkan adalah dua tokoh kontroversial yang begitu bertolakbelakang. Di kutub satu, ada seorang calon presiden yang dikenal oleh masyarakat sebagai dalang dari penculikan aktivis dan pelanggar Hak Asasi Manusia. Di lain hal, orang-orang melihat tokoh ini begitu tegas, keras, dan penuh wibawa. Tipe yang sangat tepat untuk orang-orang yang ingin disuruh-suruh secara otoriter atau orang-orang yang merasa tidak disiplin sehingga ingin didisiplinkan.

Di kutub dua, ada seorang calon presiden yang dikenal oleh masyarakat sebagai tokoh yang penuh prestasi. Mulanya ia seorang walikota Solo yang membenahi kota ini dengan baik sehingga namanya tercium dari kota yang disebut juga Surakarta itu. Aksi blusukan ke kampung-kampung atau daerah padat penduduk begitu terkenal. Penggurusuran pemukiman di sekitar waduk dilakukan tanpa kekerasan. Tokoh yang pernah mendapat prestasi walikota terbaik ketiga di dunia ini sangat tepat bagi mereka yang berharap akan negara yang lebih baik dan sudah memiliki rencana program yang jelas.

Serunya dari pemilihan ini, survey cawapres menunjukkan persaingannya begitu sengit. Jika dilitik di social media secara kasar, pemilih kedua kubu ini tampak imbang. Ada yang pro dan kontra. Ada yang kampanye negatif dan ada yang mencoba kampanye positif. Ada yang sebar foto-foto atau berita dari website berita yang tidak jelas dan ada yang cukup pintar untuk baca dari portal yang terverifikasi.

Karena cara berpikir setiap individu berbeda-beda, maka ekspresinya berbeda-beda. Semuanya berbicara dengan gayanya, tulisan atau foto. Untuk yang sudah tahu apa yang dipilih, tentunya merasa paling benar sehingga seringkali terjadi perdebatan. Lalu ada saja orang yang merasa perlu melawan mainstream dengan berkomentar, "Untuk apa pusing-pusing berpikir tentang politik atau cawapres? Toh mereka tidak memikirkan kita."

Semua itu tumpah dalam social media (karena mau ditumpahkan kemana lagi) sehingga hiruk pikuk. Padat. Penuh. Bising. Muak. Sekaligus fenomena yang menarik bahwa begitu membingungkannya manusia dengan jalan berpikirnya yang berbeda-beda. Saking bingungnya, seperti benang kusut atau labirin gelap yang baru akan terang dalam satu jentikan jari pada tanggal 9 Juli nanti.

Kondisi dimana kau ingin bergegas keluar karena semua begitu berbeda dan menjemukan indera.

Kenaikan Kelas Sosial Secara Instan

Siapa yang tidak ingin masuk ke kelas sosial yang tinggi, yang dipuja-puji, yang membuat orang jalan menunduk-nunduk di depan kita, dan disegani. Jangankan menjadi orangnya, berteman dengan orang-orang kelas sosial atas juga bikin bangga. Kalau tidak berteman, ya setidaknya bekerja dengan mereka lah ya. Sekaligus menipu diri pura-pura memiliki harta dan tahta, punya bibit, bebet, dan bobot yang baik pula.

Kenaikan kelas sosial secara instan yang fana sering saya lihat di restoran atau kantor yang melayani orang-orang kelas atas. Saya yakin, para pegawainya pasti berada satu atau dua tingkat di bawahnya. Karena jika setara, mana mau bekerja, kan? Misalnya restoran-restoran mewah di Bundaran HI itu paling pegawainya berasal hanya lulusan SMA atau akademi yang orang tuanya di gang-gang sempit atau jalan kecil. Setidaknya bukan Kemang Raya atau Menteng.

Para pegawai ini diajari untuk melayani para kaum kelas atas dengan baik. Dengan senyum sapa dan ramah. Dan helpful. "Ada yang bisa kami bantu, Bapak atau Ibu? Ini adalah menu spesial kami. Oh, toilet ada di sana, Pak," ujar pelayan sambil menunjuk dengan empat jari. Kalau pelanggan sudah pulang, tak lupa mengucapkan terima kasih sambil memegang tangan di dada.

Tapi perlakuan tersebut berubah drastis jika melihat seseorang yang setara atau di bawah darinya. Anggap jika si pelanggan membawa baby sitter, akankah baby sitter tersebut diperlakukan sama? Akankah seseorang yang terlihat kumuh kucel miskin dan setara akan digadang-gadang layaknya pelanggan kelas atas? Tentu tidak. Karena kebaikan mereka hanya sebatas standar operasional yang penuh tipu daya. Karena mereka yang sudah naik kelas sosial secara instan tentunya tidak mau turun kelas dengan melayani orang yang setara atau di bawahnya.

Tidak sekali atau dua kali teman-teman saya mengeluh diperlakukan tidak baik oleh SPG di counter brand ternama. Padahal jika dilihat, mereka sama saja dengan kami-kami (tentu saya termasuk) yang proletar ini. Mereka sama-sama cari uang. Bahkan barangkali mereka ngekos di tempat yang lebih busuk dari kami sekarang. Tapi sombongnya sudah seperti orang di kelas sosial atas.

Ya begitulah. Manusia mulai kelimpungan dengan standar-standar yang mereka ciptakan. Mungkin sebagian menikmatinya.

Art Through Guitar

"Yang dipamerkan hanya gitar doang?" tanya saya pada Dika ketika kami akan pergi ke Selasar Sunaryo ArtSpace. Sinisme sudah keburu keluar saat memikirkan apa bagusnya melihat gitar. Pertama, saya bukan music junkie yang memiliki minat khusus terhadap alat musik. Kedua, saya membayangkan pameran ini hanya akan menampilkan Fender atau Gibson.

Begitu sampai ke galeri dan melihat gitar, saya banyak ter-wah-wah! Gitar-gitar Dewa Budjana dipamerkan dalam sebuah pameran tunggal berjudul Dawai Dawai. Sebanyak 34 gitar yang diukir atau dilukis dengan para seniman itu ditampilkan di ruang B dan ruang sayap. Sayangnya tidak boleh difoto sehingga saya meminjam beberapa foto dari akun Facebook Selasar Sunaryo ArtSpace untuk tulisan kali ini.

Beberapa karya seniman yang dipamerkan yang saya sudah tahu sebelumnya adalah Srihadi Soedarsono, Jeihan, Nasirun, Wayan Tuges, Nyoman Nuarta, dan Agus Suwage. Yang paling berkesan adalah saat saya melihat karya Wayan Tuges, seorang pengukir gitar yang sangat terkenal dari Bali. Karena beberapa hari sebelumnya, saya baru saja mewawancarai Wayan via telepon. Karya-karyanya pun baru saya lihat di foto. Ketika lihat secara langsung, ternyata betul-betul indah!

Gitar paling kiri dilukis oleh Midori Hirota.

Gitar diukir dan dilukis oleh Nasirun.

Dilukis oleh Made Budhiana.

Karya Astari Rasjid.

Tidak hanya dilukis dan diukir, ada satu buah gitar karya Teguh Ostenrik yang begitu luar biasa. Gitar  listrik Fender Stratocaster diselimuti oleh pelat-pelat besi, teralis, dan gir yang saling menempel. Bentuknya sudah bukan seperti gitar lagi, malah jadi sebuah patung. Tentunya sudah tidak bisa dimainkan.

Saya dan Dika bertanya-tanya apakah para seniman yang menawarkan diri untuk berkarya di atas karya Budjana atau gitaris GIGI ini yang meminta para seniman tersebut. Karena kalau senimannya yang menawarkan diri, pasti Budjana ini semacam musisi yang prestisius. Ternyata di buku Dawai-Dawai Dewa Budjana itu diceritakan bahwa Budjana meminta para seniman untuk berkarya di gitarnya. Misalnya, Budjana meminta Jango Paramarta dan Made Sumadiyana.

Saya dan Dika menikmati setiap sentuhan seni dari para seniman di setiap gitar. Kami terkagum-kagum bersama. Gitar yang mulanya biasa (bagi saya), menjadi sangat cantik. Saya membayangkan ketika Dewa Budjana memainkannya di panggung. Pasti akan terlihat luar biasa. Kami membayangkan jika gitar ini dijual. Akan sangat mahal karena ada tiga nilai: nama Budjana, nama seniman, dan gitarnya yang sudah mahal. Haha. Hitung kekayaan orang.

Pameran ini berlangsung sampai tanggal 22 Juni 2014. Untuk yang sedang ada di Bandung, sempatkan untuk datang. Bagi saya, ini adalah salah satu pameran seni terbaik yang pernah saya hadiri selama ini. Pulang dari sana, membuat hati saya terasa penuh, hidup, dan berseri-seri.

Picture (Not) Perfect Relationship

Banyak artikel beserta tips n trick tentang bagaimana menciptakan hubungan yang ideal. Tidak hanya berupa bacaan, orang-orang di sekitar pun pintar menceramahi tentang bagaimana sebuah hubungan harus berjalan. Penonton memang lebih jagoan memberi komentar tanpa diminta. 'Manual-manual' tersebut menjadi sebuah standar bahwa hubungan yang baik adalah a, b, c, dan d. Kalau di luar itu, berarti kita berada di dalam sebuah hubungan yang tidak sehat.

Jika dilihat dari standar orang lain dan standar sosial, saya sadar bahwa hubungan saya dengan si pacar jauh dari sempurna. Ia bukan pangeran bermuka Ken barbie, memiliki kuda putih, dan senjata yang berkilat. Jika standar orang ideal adalah seseorang yang rajin memberikan bunga atau gemar mengucap kata-kata romantis, maka ia jauh dari itu. Dia adalah dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Untuk memahaminya tentu membutuhkan waktu dan banyak keluhan yang saya utarakan kepadanya. Keluhan itu menyuarakan sebuah tuntutan bahwa 'Kamu harus begini! Kamu harus begitu! Aku maunya begini dan begitu!' Namun jika ia melakukan apa yang saya mau, saya malah enggan. Ia menjadi orang lain. Ia tidak menjadi orang yang saya kenal. Ia tidak menjadi dia dengan segala kekurangan dan kelebihan yang saya ketahui dulu.

Pada sebuah kegiatan hangout di kantor, beberapa teman berbagi tentang pentingnya menjadi diri sendiri dalam sebuah hubungan. Ada saja orang yang perilakunya berubah saat ia bersama pasangannya--lebih jaga image, misalnya. Lalu, yang manakah diri kamu sebenarnya? Karena ketika pasangan sudah tidak ada, kita mau menjadi siapa selain menjadi diri kita sendiri?

Katanya "If you love a flower, don't pick it up. Because if you pick it up it dies and it ceases to be what you love. So if you love a flower, let it be. Love is not about possession. Love is about appreciation." Ya, mungkin itu. Seseorang harus bisa mengapresiasi pasangannya untuk jadi diri mereka sendiri.

Begitu juga pada hubungan. Saya ingin hubungan kami apa adanya, sebagaimana diri kami yang menjalaninya. Kalau tidak jalan kemana-mana, ya sudah. Saya lebih memilih itu ketimbang harus maju dengan paksaan atau tuntutan. Bukannya kesempurnaan itu adalah pemaknaan yang sifatnya subjektif?

Dan yang terpenting, orang lain (selain keluarga dan sahabat) tidak berhak untuk menghakimi hubungan kami. Kami yang menjalani suka dukanya. Kami akan melanjutkan atau mengakhiri hubungan kapanpun kami mau. Orang lain hanyalah orang di luar kami yang hanya berlaku sok tahu dan merasa mampu untuk menceramahi. Sosok yang tidak penting.