Bangga dengan Makanan dari Dapur Sendiri

Beberapa bulan yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam acara ulang tahunnya komunitas Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI) yang ke-2 di bilangan Senopati. Tentu kehadiran tersebut bukan karena saya anggota ACMI, namun saya dalam tugas untuk wawancara ketua ACMI yaitu Santhi Serad. Di sana juga saya ketemu dengan pakar kuliner Indonesia yaitu William Wongso yang pernah saya wawancara di beberapa bulan sebelumnya.

ACMI adalah sebuah komunitas yang memiliki semangat untuk memajukan kuliner Indonesia. Banyak sekolah kejuruan yang justru murid-muridnya diajarkan masakan western daripada masakan Indonesia. Padahal justru harusnya mereka diajarkan masakan Nusantara. "Kalau mereka ke luar negeri yang notabene pada jago masakan baratnya, mereka hanya akan jadi jongos saja," kata Santhi.

Selain itu, Santhi juga menyesalkan bahwa orang Indonesia seringkali tidak berbangga dengan nama masakan Indonesia saat dibawa ke luar negeri. Mayoritas orang menyebutkan nama masakan dengan bahasa Inggris seperti "Maranggi satay" atau "Kampong Fried Rice". Padahal sebut saja dengan nama aslinya seperti Sate Madura, Soto Betawi, atau Nasi Goreng Kampung. Kalau mau pakai Bahasa Inggris, ya sebut saja di penjelasannya.

Salah satu kegiatan ACMI adalah bluksukan ke pasar tradisional. Menurut Santhi, pasar tradisional adalah sebuah tempat yang merepresentasikan kuliner suatu daerah. Sepertinya kegiatan ACMI baru diadakan di pasar-pasar Jakarta. Santhi dan William tampaknya beberapa kali bluksukan ke pasar di luar Pulau Jawa. Misalnya Santhi cerita pengalamannya saat ia bluksukan ke pasar tradisional di Tomohon, Sulawesi Utara.

Di sana banyak daging yang tidak lazim dijual di pasar tradisional kebanyakan seperti kelelawar atau anjing. Tapi Santhi terkejut saat ia melihat kucing dan Yaki. Aduh, mendengarnya saja saya ngeri. Santhi juga memperlihatkan foto Yaki yang sudah mati digantung. Yaki adalah sejenis monyet yang badannya seperti anak manusia. Duh!

Lalu apakah makan daging kucing atau Yaki adalah warisan budaya? Santhi bilang kalau 10 tahun lalu tidak ada yang jualan seperti itu. Berarti ini menunjukkan bahwa selera dan keingintahuan masyarakat sudah beranjak ke hal-hal yang ekstrim. Huhu. Saya ceritakan tentang hal ini pada pacar saya, lalu dia bilang, "Mungkin kita merasa jijik karena tidak terbiasa. Coba kalau dari dulu kucing atau kera sudah dikonsumsi seperti ayam atau sapi, mungkin tidak aneh."

Ya tapi kaan.. kasihan. Terserah deh kalau mau makan ular atau tikus, tapi kucing kan lucu. :(

Oke, balik lagi ke masalah makanan tradisonal Indonesia. Intinya, ACMI mengajak agar kita (tentu bukan hanya wanita) untuk kembali lagi untuk masak masakan Indonesia di rumah. Karena, ketahanan pangan itu berasal dari rumah. Jika resep masakan Indonesia dari orang tua tidak dilestarikan, anak-anak kita hanya akan tahu makanan cepat saji seperti ayam krispi, kentang goreng, atau pasta saja, 'kan?

Sejalan tentang masakan, beberapa hari yang lalu saya wawancara Ida Kamal sebagai ketua program Banten Berkebun. Saat ditemui, Ida sedang berada di Sekolah Dasar Negeri Lengkong Gudang Timur, Tangerang Selatan. Ia dan teman-teman dari Indonesia Berkebun sedang mengajarkan anak-anak untuk panen kangkung dengan benar. Ternyata ini adalah kunjungan kedua mereka, sekitar 21 hari saat kangkung masih berupa benih yang mereka tanam bersama.




Kalau ACMI menyebarkan semangat masak di rumah, Ida menyebarkan semangat menanam sayuran di rumah. Menanam sayuran di rumah dengan betul pasti akan menghasilkan sayuran yang bagus dan tentunya bebas bahan kimia. Ida juga ingin agar orang-orang bisa mandiri dalam menghasilkan sayuran sendiri. Wah, ide bagus ini. Kalau sudah bisa mandiri, kita jadi tidak tergantung dengan pasar. Lagipula Ida lebih menekankan pada menanam sayur yang bermanfaat bagi tubuh. Karena bunga, hanya menyediakan oksigen dan kecantikan saja.

Memang sekarang lahan hijau kian menyempit seiring padatnya penduduk. Tapi kalau tidak ada halaman, bukan berarti tidak bisa bercocok tanam lho. Bisa pakai vertikultur atau menanam tanaman di pot kemudian disusun ke atas, hidroponik atau menanam tanaman di pot sambil menyediakan unsur hara yang dibutuhkan, atau membuat taman minimalis dengan pohon-pohon yang tidak terlalu besar.

Wah, saya merasa beruntung nih bisa ketemu dengan orang-orang inspiratif dengan informasi-informasi yang hebat. Mudah-mudahan suatu saat saya bisa melakukannya.

Jakarta Daylight Walkers

Banyak hal yang menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya belakangan ini. Entah kenapa, saya lupa menuliskannya. Tapi harus dituliskan agar tidak lupa, agar momennya bisa dikenang. Selain itu juga ada pengalaman baru seperti mencoba dua teh yang unik, tapi nanti dulu, saya akan menulis dari urutan kejadian.

Kalau ke Jakarta, pergi ke kawasan Kota Tua sepertinya sudah basi. Sama saja seperti pergi ke Braga saat berkunjung ke Bandung. Ternyata si pacar ingin diajak ke Kota Tua saat ia berkunjung ke Jakarta. Daripada ke museum, saya mau ajak dia lihat Pelabuhan Sunda Kelapa. Ternyata di sekitar sana banyak atraksi menarik yang letaknya cukup jauh dari Taman Fatahillah seperti Toko Merah, Jembatan Kota Intan, Menara Syahbandar, dan Museum Bahari.

Kebetulan saya juga belum pernah ke sana. Jadi kami pergi sambil meraba-raba, bermodal GPS, dan bertanya.

Setelah sightseeing sebentar di Taman Fatahilah, kami jalan kaki ke Toko Merah. Saya penasaran dengan toko ini dari fotonya teman saya. Dari kejauhan, toko berbata merah ini tampak mencolok. Gedungnya besar dan bagus. Rupanya gedung ini dipakai sebagai gedung serba guna. Karena kami baru datang sore, gedungnya mau tutup sehingga tidak bisa lihat ke dalam.



Sesuai dengan plakatnya, bangunan yang termasuk cagar budaya ini dibangun oleh Gubernur Jendral V.O.C bernama Gustaaf Willem Baron Van Imhoff tahun 1730. Dan menurut yang saya baca di internet, gedung ini pernah dijadikan tempat tinggalnya.

Setelah dari Toko Merah, kami jalan kaki cukup jauh ke Menara Syahbandar. Tanpa disengaja, kami menemukan Jembatan Kota Intan. Memangnya Batavia memiliki sumber daya alam intan sehingga disebut Kota Intan? Bukan, bukan seperti itu. Nama "Intan" diberikan karena jembatan ini letaknya dekat dengan salah satu bastion Kastil Batavia yang bernama Bastion Diamant (atau Intan).




Jembatan ini dibangun tahun 1628 dan dulunya merupakan penghubung Benteng Belanda dan Benteng Inggris, sehingga jembatan ini pernah disebut Jembatan Inggris. Nama Jembatan Pasar Ayam pun pernah disandang karena letaknya berdekatan dengan pasar ayam. Selain perubahan nama, jembatan ini telah melalui banyak renovasi. Pertama, akibat Mataram dan Banten menyerang Benteng Batavia. Kedua, akibat banjir dan korosi laut. Meskipun demikian, bentuknya tidak pernah berubah.

Untuk masuk ke area jembatan, kami harus melewati gerbang kecil. Di sana ada loket untuk tiket tapi kami tidak disuruh untuk beli tiket. Ada pengujung yang sepertinya bertanya tentang tiket, kemudian saya lihat dia menyerahkan uang tanpa diberikan karcis. Mungkin donasi sukarela? Tapi saya sih memilih pura-pura bodoh tidak lihat daripada donasi tidak resmi. Hehe.

Melewati kolong jembatan dan jalan yang sepi dan berdebu, kami jalan kaki ke arah Menara Syah Bandar. Jalannya agak horor jika dilalui sendirian karena ada beberapa truk yang parkir dan ada kios-kios yang isinya para supir. Hiii, ngeri kalau dijalani oleh perempuan sendirian. Meski jalan sama pacar yang jelas laki-laki saja masih dilihat. Mungkin karena asing.

Saya senang sekali begitu melihat Menara Syahbandar walaupun tidak menjulang terlalu tinggi (bahkan cenderung bantet). Menara yang merupakan titik nol kilometer ini dulunya menara pemantau. Jendela empat sisi di puncaknya berguna untuk mempermudah proses pemantauan. Ternyata di sini terdapat pintu masuk lorong bawah tanah menuju Museum Sejarah Jakarta dan Masjid Istiqlal! Dan dulu ini adalah bangunan tertinggi di Batavia.


Tidak jauh dari sana, kami pergi ke Museum Bahari. Karena kami baru datang 10 menit menjelang tutup, kami tidak melihat-lihat isi museum dengan detail. Kami lebih mengagumi sisi arstitektur bangunannya. Bangunannya hanya tingkat dua. Tapi di dalamnya ada sebuah lapangan, dikelilingi oleh bangunan yang memiliki banyak jendela dan pintu yang cantik sekali.



Rupanya dulu museum ini merupakan gudang rempah-rempah. Karena rempah-rempahlah Indonesia terjajah! Gudang dibangun secara bertahap sejak tahun 1652 hingga 1759. Tahun pendiriannya terlihat di setiap pintu masuk bangunan.



Setelah dari sana, kami menuju destinasi terakhir yaitu melihat matahari sore di Pelabuhan Sunda Kelapa. Tampaknya si pacar tidak terlalu tertarik dengan perahu, bukannya lihat laut luas. Hehe. Pelabuhan Sunda Kelapa yang bernuansa abu-abu ini sering dikunjungi oleh para pengunjung untuk berburu foto.

Kaki sudah sangat pegal sementara perjalanan pulang masih jauh. Kami memutuskan untuk kembali ke Taman Fatahillah untuk duduk-duduk sambil melihat suasana malam yang pedagangnya kian banyak. Kalau dilihat seksama, gedung-gedung di sini semakin terawat, seiring dengan program revitalisasi Kota Tua yang dilakukan oleh Wagub Basuki Tjahja Purnama. Indah.


----------------

Foto lainnya bisa dilihat di sini.
Video perjalanan bisa dilihat di sini.

Menemukan Diri Sendiri

Ketika sudah saatnya kuliah, saya berpikir tentang teknik industri karena aa dan teteh saya kuliah di jurusan teknik. Teknik industri juga bisa kerja di perusahaan atau pabrik sebagai HRD. Bukankah yang namanya bekerja itu artinya berada di kantor? Dan tampaknya teknik industri lebih menyenangkan daripada teknik mesin, teknik elektro, atau planologi.

Keluarga saya bukan keluarga yang mampu membiayai pendidikan mahal sehingga saya harus bisa masuk universitas negeri. Walaupun Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tampak tidak mungkin karena jumlah pendaftar jauh lebih banyak ketimbang yang diterima, saya ikut juga. Karena saya jurusan IPA, saya hanya punya dua pilihan. Pilihan pertama dikorbankan untuk memenuhi keinginan keluarga kuliah di ITB. Karena UNPAD dirasa tidak mungkin, saya memilih Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Jujur saja, saya tidak melihat UPI sebagai universitas yang bagus dan prestisius. Saya juga tidak berkeinginan mengajar di sekolah. Tapi saya perlu UPI yang kiranya masuk akal dengan kemampuan saya. Selain jurusan pendidikan, di sini banyak juga jurusan yang non pendidikan seperti Matematika, Kimia, atau Fisika. Tapi saya benci eksak. Maka saya menjatuhkan pilihan ke jurusan psikologi dengan alasan 'tampak keren'.

Oke, saya akui kalau saya memang dangkal saat itu. Kemudian bertahun-tahun kemudian baru tahu ada yang namanya jurusan design atau sastra. Hiks.

Saya masuk ke jurusan psikologi tahun 2004. Saat itu kami diasuh oleh kakak tiri--kakak yang mirip seperti psikologi padahal bukan. Mereka adalah para senior di jurusan Bimbingan dan Konseling. Oh, ternyata kami adalah jurusan pertama. Oh, no, berarti jurusan ini belum settle! Pasti banyak trial and error. Setelah itu kami akan sulit mencari kerja karena kami tidak punya senior yang bisa digunakan link-nya. Dan pastinya jurusan ini belum terakreditasi. Oh tidaak!

Ternyata berangkat dari ketiadaan membuat kami begitu kompak, berusaha untuk jadi mahasiswa terbaik, dan menaikkan standar. Kami mandiri karena terpaksa. Dan itu bagus. Kami mendirikan organisasi, memulai program perdana sambil meraba-raba. Dan ternyata, setelah lulus pun, kami mendapatkan pekerjaan yang baik. Bahkan beberapa mendapatkan beasiswa. Bahkan saya menjadi penulis di media ternama! Ha.

Sebagai pemudi galau yang penuh memar di hatinya akibat konflik keluarga, saya merasa kuliah di psikologi adalah sebuah penyelamat. Jurusan ini membantu saya menemukan diri, terutama melakukan analisis sok tahu (yang kemudian dipercaya karena sudah teruji waktu dan berbagai kondisi), tahu kelebihan diri, dan percaya kelebihan itu akan membawa saya kepada orang-orang dan tempat-tempat yang belum pernah saya temui sebelumnya. Psikologi membantu saya memperbaiki diri sendiri.

Di sini saya melakukan katarsis atau melepaskan emosi melalui tulisan. Terutama emosi negatif. Mulanya, amunisi tulisan tersebut berawal hal-hal yang berbau filsafat (karena saya belajar itu di kampus). Filsafat menjadi ketertarikan lain. Kemudian saya mencoba mengawinkan pengetahuan baru itu dengan diri dan lingkungan. Begitu nikmat. Begitu lega.

Selain menemukan diri, saya juga banyak menemukan orang lain. Banyak hal-hal atau pengalaman hidup yang tidak pernah saya ketahui sebelumnya. Banyak jiwa-jiwa yang misterius dan dalam yang menggoda untuk digali dan diketahui. Kemudian menyadari bahwa jiwa manusia adalah hal yang rapuh, yang mudah pula dipengaruhi oleh suatu hal yang diserap secara sadar ataupun tidak. Dan betapa sulit untuk memperbaikinya.

Lucunya adalah teman-teman di sini lebih menerima perbedaan. Mungkin karena kami diajarkan untuk memahami orang lain (kemudian menganggap kemampuan memahami itu sebagai kutukan karena jadi menuntut orang lain bisa memahami saya). Berbeda dengan masa sekolah dimana perbedaan tampak sebuah kenistaan. Saya menghabiskan 12 tahun di-bully karena masalah fisik dan hanya mingle dengan beberapa orang. Tapi di jurusan ini saya punya banyak. Dan saya tidak peduli kalau saya berbeda. Karena mereka berbeda pula. Dan setiap orang berbeda.

Saya kira, ketika orang sudah tahu dirinya dan mau apa dia nantinya, semua akan berjalan mudah karena jadi teratur dan menuju ke satu titik. Menuju piala kehidupan diri.


----
Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati satu dekade jurusan Psikologi UPI.