The Missing Joy

Sudah hampir tiga minggu lamanya Joy menghilang. Bagi yang belum tahu, Joy itu anjing milik pacar saya, Anto. Badan Joy tidak terlalu tinggi, bahkan panjang, dan cenderung bohay. Bulunya hitam dan putih, panjang, dan kadang kusut karena Anto suka malas menyisir. Saya pernah membelikan sisir dan gunting karena bulu Joy mulai gimbal di beberapa tempat.

Joy adalah anjing baik, hanya menggongong pada orang yang tidak ia kenal dan menggonggong pada dirinya sendiri saat berkaca. Ia seringkali riweuh dan over excited dengan melompat dan menjilat kalau Anto datang. Joy juga suka ngaso, tiduran dari atas lantai dengan kedua kaki yang terlentang--sehingga ia menyerupai keset. Keset yang lucu.



Di balik perannya sebagai hewan peliharaan, ia berperan sebagai The Escape Artist. Keset hidup ini suka membuka pintu gerbang rumah, membobol kandang, dan--terakhir--ia membobol sekat rumah. Biasanya Joy jalan-jalan sendirian ke luar dan balik lagi ke rumah. Tapi kali ini tidak. Joy tidak pulang.

Joy adalah anjing yang diberi makan sejak ia kecil. Seharusnya ia pulang jika ia merasa lapar. Tapi ia tidak kunjung pulang. Kalau pulang ke rumah, Anto selalu mengecek makanan yang ditaruh di atas wadah. Tapi banyaknya makanan itu selalu sama karena tidak ada yang makan. Joy, kamu tidak lapar?

Yang membuat saya khawatir adalah Indonesia, negara yang penduduknya mayoritas muslim ini, adalah negara yang tidak ramah pada anjing. Karena najis adalah hal yang harus dihindari, maka anjing pun demikian. Cara menghindari bisa saja bermacam-macam, seperti memukul, menyiram, menendang, melempar, atau menelantarkan. Padahal apa yang salah dari hewan lucu, baik, dan berbulu ini? Kalau kena hidung atau liurnya 'kan tinggal dicuci pakai tanah. Di balik anti anjing, ada sebuah ironi kecintaan pada anjing. Beberapa suku di Indonesia gemar sekali mengkonsumsi daging anjing. Tapi mudah-mudahan tidak ada di Sumedang karena kota kecil ini mayoritas penduduknya tidak makan daging anjing.

Saya berharap sekali Joy baik-baik di luar sana. Tidak apa-apa diambil orang, asal orang itu jauh lebih sayang Joy dibandingkan Anto. Semoga Joy terawat, tidak kesakitan, dan tidak kelaparan. Dan seperti namanya, semoga Joy selalu berbahagia di manapun ia berada.

Joy, kalau sudah bosan di luar, pulang ya. Kami selalu menunggumu ...

Obituary Uwa Ema

Sepertinya saya terbiasa bahwa setiap kali seseorang sakit, pasti ia akan sembuh. Ah, apalagi kalau baru sakit sekali. Tapi hidup baru mengingatkan saya bahwa tidak semua orang sakit itu akan sembuh--walaupun ia tampak segar setelah sakitnya berlalu. Sakit membawa orang ke jalan yang berbeda selain kesembuhan.

Akhir pekan panjang kemarin saya habiskan jalan-jalan bersama teman-teman kantor di Jawa Tengah. Saat akan kembali ke Jakarta di Minggu malam, saya menelepon ibu saya untuk memberi tahu kabar. Ibu saya bilang bahwa kakaknya, yang saya panggil Uwa Ema, kena serangan jantung. Ia sudah dioperasi, ibu saya sudah jenguk, dan uwa tampak sudah sembuh. Bahkan menurut sepupu lain, uwa sudah bisa berbicara untuk menanyakan kabar.

Saya sampai di Jakarta hari Senin pukul setengah 6 pagi. Rasanya capek dan teler sekali. Begitu sampai kosan, saya tidur selama dua jam sambil membiarkan hp yang tidak saya isi baterainya. Ketika bangun dan mengecek hp, saya mendapat kabar bahwa Uwa Ema sudah meninggal. Hal pertama yang terlintas di pikiran saya adalah kegalauan apakah saya harus pulang ke Bandung atau tidak. Setelah dipikir-pikir, tentu saya harus pulang! Pikiran itu berubah menjadi tangisan ketika kakak sepupu saya menelepon dan mengkonfirmasi kabar itu ke saya sambil menangis.

Hal yang saya takutkan saat itu adalah saya tidak dapat mengejar travel dan terlambat datang ke acara pemakamannya. Tidak boleh terlambat karena kapan lagi saya bisa melihat uwa terakhir kali. Travel baru tersedia pukul setengah satu siang, sementara jadwal pemakaman pukul empat sore. Dan mobil travel datang terlambat 30 menit. Begitu keluar dari tempat travel, sudah ketemu macet. Saya mengutuk Semesta. Bagus!

Meskipun sudah saya kutuk, Semesta masih berbaik hati. Malah terlalu baik. Rupanya saya beberapa menit lebih cepat dari iring-iringan mobil jenazah. Jalur dari rumah duka ke pemakaman itu pas sekali dengan jalur saya turun dari travel. Tidak menunggu lama, saudara saya menjemput di Pasteur. Akhirnya saya bisa sampai pemakaman sebelum mobil jenazah datang.

Mobil itu datang. Keranda dikeluarkan dari mobil, diangkut menuju tanah yang sudah digali. Keranda ditaruh di bawah, tutupnya dibuka, dan saya melihat sebuah kain batik yang menutupi sesosok tubuh. Sebelum masuk liang lahat, kain batik itu disingkap dan memperlihatkan sebuah tubuh yang dibalut kain kafan. Tubuh itu milik uwa saya.

Saat masih kecil, saya cukup sering menghabiskan liburan di rumah Uwa Ema di Cianjur. Uwa Ema menikah dengan seorang dokter sehingga saya main ke rumah dinas mereka yang sampai sekarang hafal betul bentuk rumah dan rumah sakitnya. Di sana, saya banyak menghabiskan waktu main dengan saudara-saudara yang lain.

Semenjak meninggalnya kakak ibu saya yang lebih tua dari Uwa Ema, uwa ini menjadi sosok yang dituakan. Sosok yang selalu dikunjungi saat lebaran. Kalau ada masalah, orang-orang sering berkonsultasi dengannya. Uwa Ema juga sering memantau dan perhatian kepada adik-adiknya, termasuk si bungsu--ibu saya.

Kalau ditanya siapa yang berperan besar atas keberhasilan saya sekarang ini, Uwa Ema adalah salah satunya. Ia banyak sekali membantu saya. Sangat banyak. Sangat amat banyak. Saya merasa saya berhutang budi kepada Uwa Ema. Jika tidak ada Uwa Ema, saya tidak akan menjadi orang seperti sekarang.

Uwa Ema juga sigap ketika ibu saya kena stroke ringan. Ia memberikan rekomendasi obat. Saya bisa melihat ekspresi Uwa Ema yang kasihan melihat ibu saya. Bagi saya, uwa sedang menunjukkan rasa sayangnya. Kalau ibu saya ada keluhan sakit kaki, uwa juga memberi obat oles. Uwa juga banyak membantu ibu saya. Sangat amat banyak. Ia memberikan satu koper pakaian saat ibu saya akan umroh.

Saya lupa kapan terakhir ketemu Uwa Ema karena saya seringkali tidak datang kalau ia sedang mengadakan acara keluarga. Saya menyesal. Saya juga merasa kehilangan dengan sosok Uwa Ema yang begitu mengasuh dan perhatian ke keluarga besarnya. Ia tampak punya energi besar untuk melakukan itu semua. Ia tampak begitu sayang dengan keluarganya. Saya merasa kehilangan sosok yang biasanya saya kunjungi saat lebaran.

Uwa, sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya ya. Semoga Tuhan melapangkan kuburmu, melancarkan urusanmu di akhirat, menerima semua amal baikmu karena uwa sangat baik sekali dengan sepenuh hati. Uwa berjasa sekali. Uwa tidak hanya memberikan kebaikan pada saya, tapi uwa memberikan kehidupan.

Begitu uwa masuk pusara, A'Herul, anak laki-lakinya, mengumandangkan adzan. Suaranya bergetar. Ia tidak kuasa menahan air matanya.

Uwa, you will be missed..


Foto diambil hari Selasa, 5 Mei 2015, di atas kereta dari Stasiun Bandung ke Stasiun Gambir.