Jauh di Timur

Hi, teman-teman!

Wah lama sekali tidak menulis blog ini. Kerjaan di kantor lumayan padat karena sekarang saya handle dua majalah, dan yang salah satunya adalah project Roro Jonggrang alias project yang deadline-nya begitu mepet seperti pembuatan candi dalam sehari semalam. Kendala kecil-kecil yang bikin panik ada saja. Ya mudah-mudahan lancar ya.

Semesta menunjukkan kebaikannya pada saya di awal Juni lalu. Saya mendapatkan kesempatan untuk pergi liputan ke Merauke bersama para wartawan dari berbagai media. Wah, ini lho nama daerah yang disebut-sebut dalam lagu legendaris Sabang Sampai Merauke. Keberadaannya adalah titik tolak luasnya Indonesia dari ujung ke ujung! Uwoo.

Horee, touchdown Merauke!

Saya berangkat hari Jumat tengah malam dari Jakarta, kemudian transit di Bandara Sentani, dan sampai di Bandara Mopah, Merauke, pada Sabtu pagi. Hari pertama di sana dilalui dengan senang-senang. Sebelum berkegiatan, kami makan Coto Makassar. Duh, ini di Merauke kok makan Coto Makassar? Merauke adalah daerah tujuan transmigrasi dan banyak orang Makassar yang pindah ke sini. Maka tidak aneh jika ditemukan Coto Makassar. Coto yang saya makan dagingnya tebal, pakai lontong yang bercampur dengan santan. Rasanya? Sejujurnya tidak enak-enak amat. Kuahnya sedikit hambar.

Di Merauke langsung diajak makan Coto Makassar? Hm.


Setelah dari situ, kami menemui seorang kontraktor lokal yang katanya dia adalah kontraktor terbaik di Merauke. Dia bercerita bahwa untuk mendapatkan materialnya, dia harus ekspor dari Surabaya dan Jakarta, karena harga di Jawa lebih murah daripada di Merauke. Dia hanya menjadi kontraktor Merauke dan sekitarnya saja karena buruknya infrastruktur di sana sehingga sulit untuk mengembangkan sayap.

Kemudian kami lanjut ke distrik Sota yang merupakan tempat terujung di Merauke yang berbatasan dengan Papua Nugini. Sota ditempuh dalam waktu sekitar dua jam, melewati hutan kayu putih. Sesampainya di sana, saya menemukan banyak rumah semut yang tingginya bisa sampai 3-4 meter! Tipikal semut merah yang besar-besar dan jalannya tidak merayap gitu. Hiii.

Semutnya di dalam, jadi tidak kena tangan.

Kayu putih di mana-mana.

Namanya perbatasan pasti banyak tentara. Tapi perbatasan di sini nuansanya tidak kaku dan mengintimidasi. Bahkan orang Papua Nugini bisa keluar masuk dengan bebas (tentu selama ada border pass). Biasanya mereka ke Indonesia untuk belanja atau sekolah gratis. Saking bebasnya, saya bisa lewat patok batas negara tanpa merasa takut. Sekarang saya resmi sudah ke luar negeri! Hehe.

Untuk menciptakan suasana akrab itu bukan terjadi dengan sendirinya. Ada seorang polisi bernama Ma'ruf yang berperan besar dalam menciptakan keakraban dua negara ini. Ma'ruf, seorang warna transmigran yang dulu berasal dari Jawa, datang ke Sota yang saat itu masih berupa semak belukar. Karena tingkat kriminalitas rendah, bahkan dalam setahun bisa tidak menangani sebuah kasus, ia memutuskan untuk bercocok tanam yang segala benihnya ia beli sendiri dengan gajinya.

Ma'ruf. The gate keeper.

Karena sering berada di dekat perbatasan, ia juga jadi sering berinteraksi dengan warga Papua Nugini. Kalau ada warga yang ingin belanja tapi tidak punya border pass, Ma'ruf minta daftar belanjanya lalu ia sendiri yang membelanjakan. Oleh karena itu, banyak orang yang respect sama dia. Dia sudah dianggap saudara dan sekarang disebut dengan Pakdhe oleh warna Papua Nugini.

Sota jadi semacam tempat argowisata. Selain sayur mayur, Ma'ruf juga punya pertenakkan rusa dan kasuari. Lama kelamaan daerahnya pun jadi berkembang. Bahkan ada bangunan semi permanen tempat orang Papua berjualan cinderamata seperti tas yang dihias bulu kasuari, minyak kayu putih, dan madu. Tempat ini jadi hidup.

Sepulang dari Sota, saya makan sate rusa. Tidak perlu khawatir, di sana rusa banyak! Dagingnya keras dan cenderung anyep. Saya kira karena kurang bumbu. Tapi ibu penjual sate menjelaskan bahwa daging rusa memang begitu, susah menyerap bumbu walaupun sudah dikasih banyak. Saya sih tidak suka, maka tidak habis.

Daging rusa yang disate. Keras dan anyep. Saya sih tidak suka.
Keesokan harinya, saya pergi ke pengrajin kulit buaya yang bernama Mas Kulit. Konon pengrajin ini terkenal sekali sehingga ada jargon "Kalau ke Merauke tidak pergi ke Mas Kulit artinya tidak lengkap". Buayanya tidak sembarang buaya yang diambil. Ada ukuran dan kuotanya, sehingga pembeli mendapatkan label hologram pertanda buayanya aman. Produknya macam-macam, dari gantungan kunci hingga tas golf. gantungan kunci saja harganya Rp100.000. Kebayang kan tas golf-nya berapa?

Setelah menjalankan tugas utama yaitu meliput tentang potensi Papua dan bantuan perbankan untuk mengoptimalisasikan potensi ini, saya cari oleh-oleh. Setelah itu, kegiatan dilanjut makan malam. Karena Merauke kecil dan makanannya itu-itu saja, juga melewati dua makanan yang biasa saja, saya ingin makan makanan enak. Lalu saya pergi ke tempat seafood. Tapi entah kotor atau bagaimana, malamnya saya alergi gatal-gatal sekujur tubuh. Duh.

Saya menemukan hal yang menarik selama berada di sana. Merauke adalah tujuan transmigrasi. Selama berada di jalan, saya melihat Merauke ini sama saja dengan Jawa--didominasi kulit cokelat yang berambut lurus. Kata warga, perbandingan orang Papua dan pendatang adalah 50:50. Tapi dari berbagai toko yang saya datangi, kebanyakan dimiliki oleh orang Jawa. Orang Papua masih miskin, lebih cenderung berburu atau bercocok tanam, dan uangnya habis saat itu juga.

Karena banyak pendatang, tentunya jadi banyak percampuran budaya. Saking banyaknya, saya tidak/belum menemukan sesuatu yang khas di sini. Misalnya masalah kain untuk oleh-oleh, di sini hanya ada batik yang motifnya dibuat motif Papua tapi dibikinnya ya di Jawa juga. Makanan juga begitu. Kalau Bandung, kita langsung terpikirkan dengan peyeum, Yogyakarta terpikirkan bakpia atau gudeg, Jakarta terpikirkan dengan ketoprak. Tapi kalau Merauke? Papeda? Makan papeda itu tidak mudah karena orang harus pesan dulu untuk bisa makan. Untuk oleh-oleh, saya malah menemukan roti abon yang bisa ditemukan di mana saja tuh. Tidak spesial.

Yang spesial dari Merauke barangkali adalah letak geografisnya. Tidak semua orang bisa ke sini, mengingat tempatnya yang begitu jauh. Jika tidak ada kerjaan, atau ada proyek seperti yang pernah dilakukan dua orang wartawan yang keliling Indonesia dan mendokumentasikan dalam buku.. barangkali Merauke tidak pernah tersentuh.

Ayo, Maksimalkan Manfaat Alam

Ladies, gaya hidup sekarang itu sudah tidak zaman merokok sampai kanker, narkobaan sampai menyusahkan keluarga, atau minum sampai mabuk rese. Gaya hidup sekarang itu hidup sehat! Kalau tidak percaya, coba tengok majalah-majalah yang ada di toko buku. Pasti membahas gaya hidup sehat, 'kan? Ya walaupun majalah mana ya yang bahas hal negatif. Heu.

Agak tumben ya pembuka tulisannya kayak gini. Kebiasaan menulis di kantor agak sedikit terbawa.

Ceritanya belakangan ini saya mencoba untuk memanfaatkan alam demi hidup yang lebih sehat. Hal-hal yang saya lakukan untuk menjaga kesehatan di dalam dan luar tubuh adalah sebagai berikut:

Minum perasan air lemon
Awalnya saya keranjingan infused water. Tapi karena buah itu rawan pestisida, agar ngeri juga harus mencampurkan buah dengan kulitnya di air. Jadi, setiap pagi saya memeras lemon ke dalam air hangat. Lemon dipercaya dapat membantu pencernaan dalam menyerap nutrisi makanan dan memiliki kandungan vitamin C. Ini cocok sekali untuk saya yang tidak setiap hari makan buah karena yang jualan buah cukup jauh dari tempat tinggal. Apalagi angkot mahal kan. Curhat.

Minum teh hijau
Sumber foto: http://foodfitnesswellness.com/
Saya memilih untuk suka teh dibandingkan kopi. Alasannya sederhana yaitu saya bisa minum teh tanpa gula. Kalau minum kopi dengan gula setiap hari, aduh takut diabetes. Kalau kata websitenya National Geographic Indonesia, minum teh hijau teratur dapat membantu meningkatkan kesehatan mental (ini penting untuk tetap waras di Jakarta yang keras), melawan diabetes, membantu penurunan berat badan (tidak berharap banyak, anggap saja bonus), mengobati penyakit gusi dan mampu mengontrol kolesterol. Teh hijau juga sudah terbukti efektif memerangi kanker payudara, ovarium, usus, kulit, perut, paru-paru dan kandung kemih. Whoa! Apakah ini daun ajaib? Apakah ini daun dari surga?

Jangan minum teh setelah makan sayuran agar nutrisinya tidak hilang, sebaiknya minum setelah makan daging-dagingan. Oleh karena itu restoran sushi menyajikan ocha, 'kan? Mudah-mudahan manfaatnya beneran ya, karena BPJS kan belum tentu menutup penyakit mahal-mahal itu. Wk.

Pakai produk ramah kulit
Karena rambut terlihat kering karena gemar keramas setiap hari, saya mulai berpikir untuk pakai sampo yang bebas deterjen. Mau tidak keramas, tapi Jakarta panas sekali. Suka lepek dan dikira pakai pomade. Huhu. Nah, temen kantor menyarankan pakai produknya Kippabuw. Merek ini mengklaim bahwa sebagian besar bahan yang digunakan untuk produk-produknya adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Tapi tetap tidak bisa dimakan ya.

Semua barangnya adalah buatan tangan. Saya pakai sampo batangan yang dibuat dari madu untuk menjaga kelembaban kulit kepala. Tanpa sodium lauryl sulfate atau deterjen, tanpa pewarna buatan, tanpa pewangi buatan. Sebelum keramas, saya mengaplikasikan minyak rambut selama 30 menit sebagai masker. Sudahnya jadi terasa tidak kering. Nice!

Foto dokumentasi pribadi.

Untuk sabunnya saya pakai beer soap. Katanya bir juga memiliki manfaat menjaga kelembaban kulit, antiseptik, dan menjaga keremajaan kulit. Sebagai penikmat bir tapi sedang puasa tidak minum bir, setiap kali mandi, aduh aromanya harum sekali. Sehingga membuat niat minum datang lagi. *lha.

Ini bukan mengiklankan Kippabuw ya dan memberi garansi kalau orang lain bakal cocok. Banyak merek yang menggunakan bahan-bahan alami. Silakan pilih sendiri berdasarkan kepercayaan. Hehe.

Teh hijau untuk wajah
Balik lagi ke teh hijau, teh hijau memiliki kadar antioksidan yang tinggi. Dari Instagramnya Kippabuw, saya juga mendapatkan tips untuk mengaplikasikan teh hijau sebagai campuran masker. Masker yang saya gunakan juga katanya alami yaitu Saripohatji yang sudah dipakai sejak SMP. Alasannya sederhana: murah dan ada di pasar dekat rumah. Haha. Saripohatji juga bisa menghilangkan jerawat, walau agak lama ya.

Setelah membersihkan muka pakai susu pembersih, susunya dibersihkan pakai air teh hijau sebelum menerapkan krim malam. Eh lumayan oke lho paginya. Bahkan air teh hijau bisa dicampur ke dalam air untuk mandi dan dipakai sebagai creambath alami yang bagus untuk rontok. Saya melakukan itu kadang-kadang, kalau tidak malas. Sisanya lebih milih airnya untuk diminum. Hihi.

Olahraga teratur
Walaupun ini tidak ada kaitannya dengan alam, tapi ya berhubungan dengan menjaga tubuh sehat. Karena saya tidak diet (oh Tuhan saya benci diet. Saya cintaaa sekali dengan makanan. Makanan adalah anugerah. Makanan adalah surga. Makanan adalah Tuhan!), jadi memutuskan untuk olahraga saja biar seimbang antara kalori yang masuk dan keluar. Keren, kan?

Foto dokumentasi pribadi.

Olahraga yang saya lakukan adalah lari dan berenang, setidaknya seminggu 2-3 kali. Itu juga sebenarnya kurang. Karena setiap kali ditimbang beratnya tidak pernah turun, juga melihat keluarga saya menurunkan tubuh yang berisi sehingga sia-sia kalau ingin terlihat kurus kering seperti model, jadinya tujuan olahraga itu biar tidak gembyor, terlihat segar, pembuluh darah ke jantung tidak tersumbat. Sebagai wartawan yang sering meliput tentang kesehatan dan wawancara dokter, hal terakhir itu perlu diperhatikan lho. Karena kalau sudah kena serangan jantung sekali, wah susah deh. Apalagi karena alasan yang sebenarnya bisa kita cegah.

Jadi gitu deh, ladies, hal-hal yang saya lakukan. Memanfaatkan alam sepertinya ide baik karena itu bisa ditemukan di mana-mana, dan tentunya hal yang alami tanpa pengaruh hal yang dibuat pabrik itu baik untuk tubuh. Walau belum bisa maksimal, sebaiknya usahakan terlebih dahulu. Dicicil satu per satu kebiasaannya. Selain baik, ada kelebihan lain dari alam yaitu... murah meriah. ;D