Supaya Kerja Tidak Ribet Lagi

Postingan kali ini saya dedikasikan untuk usahanya pacar saya. Semoga laku. :)

-----------------------------

Teman-teman yang penggiat UMKM dengan usaha café atau rumah makan, bisa lho menunya dibuat secara digital. Misalnya pengunjung café Drinkme, sebuah kedai kopi di Sumedang, Jawa Barat ini bisa pilih sendiri menunya dengan layar sentuh yang ada deket kasir. Ini mempermudah kita supaya tidak menghampiri pelanggan satu persatu. Kita juga tidak perlu mencatat karena semuanya sudah praktis dalam satu aplikasi.

Berikut ini adalah screen capture POS Software Project of LOCALITYC Multimedia @2014. Klik fotonya untuk memperbesar.

Tampilan untuk menu kopi dengan ikon yang menarik.

Gambar berubah sendiri dengan foto-foto. Bisa dipasang untuk iklan juga.

Tampilan menu teh.

Tampilan menu untuk jus.

Tampilan saat pembeli menyentuh menu yang dipesan.

Pembeli juga bisa menentukan jumlah pesanan.

Tampilan untuk memperlihatkan jumlah pesanan. 

Nama juga bisa dimasukkan sendiri oleh pembeli sehingga tidak tertukar.

Bisa memperlihatkan produk yang tersedia,


Kamu bisa lihat cara kerjanya di https://www.youtube.com/watch?v=Y40otM_br6E.

Kalau mau bikin seperti ini, atau software pembayaran, pencatatan stock bahan, atau bahkan website, kamu bisa email: on.humanoid@gmail.com. Serunya dari hal ini adalah semua bisa dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan usaha kamu. Kalau sudah kayak gini, lebih bisa menghemat waktu, kerja efisien, dan tidak membutuhkan banyak SDM sehingga human error juga lebih minim. :)

(Review Buku) Aruna dan Lidahnya

Jika kita berbicara tentang makanan, ah... lupakan. Makanan tidak seharusnya dibicarakan, tapi makanan seharusnya disantap. Apalagi untuk para foodist, makanan itu begitu kompleks dan bahkan mengandung filosofi tersendiri. Ada perpaduan rasa yang berbeda saat dihirup, dirasa saat pertama kali mengenai lidah, dan dirasa saat mencapai pangkal lidah. Jika padu padanannya seimbang, maka terciptalah sebuah kepuasan. Foodgasm!

Itu idealnya. Tapi hal itu terlalu rumit untuk saya yang makan hanya untuk kenyang. Lidah saya tumpul. Makan yang penting enak, sesederhana tidak terlalu asin atau manis. Dan yang penting mengenyangkan.

Diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Makanan sebagai anugerah yang patut diapresiasi mungkin menjadi ide Laksmi Pamuntjak membuat buku Aruna dan Lidahnya. Buku ini berkisah tentang Aruna, seorang ahli wabah, yang berkeliling Indonesia untuk melakukan investigasi kasus flu burung. Bersama teman kantornya--yang kemudian disusul teman sesama foodist--Aruna menjelajah Bangkalan, Pamekasan, Palembang, dan Medan. Di luar kesibukannya melakukan investigasi, Aruna melakukan jelajah kuliner lokal.

Laksmi, yang juga menulis empat seri panduan makanan independen The Jakarta Good Food Guide, jelas membuktikan bahwa ia adalah orang yang mengerti atau berpengalaman di bidang makanan. Riset yang ia lakukan untuk buku ini juga hebat, bisa dilihat dari daftar pustaka dan, mungkin, hasil diskusi dengan pakar kuliner sebagaimana yang disebutkan di ucapan terima kasih. Masukan itu semua diceritakan ulang melalui pengalaman yang tokoh rasakan saat mengunjungi setiap tempat, disertai dengan deskripsi yang mendalam mengenai rasa.

Seketika, sendokku dan sendok Nadezhda berlomba masuk ke mangkok yang sama. Memang enak, enak sekali--bumbunya mantap dan mengikat, tapi kaldunya tetap terasa bersih, ringan, halus, tidak pekat dan kumuh oleh lemak dan vetsin. Rebung dan timun menjadikan kaldu semakin segar. Dan tekstur tekwan terasa pas justru karena ia telah lebih banyak meresap lembap. (hal. 194)

Namun dekripsi yang hadir setiap bab buku ini lama-lama menjemukkan. Daripada membahas satu topik yang mendalam, Aruna diceritakan seperti kutu loncat yang pindah dari satu restoran ke satu restoran lagi, sehingga makanan yang diceritakan terlalu banyak. Iya, buku ini memang menceritakan tentang makanan. Tapi menurut pendapat saya, buku ini terasa seperti seperti jurnal ketimbang novel. Membuat saya kesulitan untuk menikmatinya.

Sejenak, jalan seperti mimpi. Kulihat bubungan asap panggangan dan uap kuah yang menerobos pendar lampu ruko, hiruk-pikuk para pelanggan dan para penjaja makanan yang saling memekik, gerai-gerai yang sesak oleh termos air panas, kaleng dan botol minuman, sumpit dan sedotan, aneka kecap, sambal, minyak dan vetsin, mangkok-mangkok berisi bawang putih goreng, piring-piring berisi irisan bakso, aneka gorengan, simoay, lo mai kai, chee chong fan, segala jenis daging, pangsit, tahu, lumpiah, popiah, bacang, telur rebus matang, telur pitan, aneka sayur dan dedaunan aromatik, aneka kerupuk, udang, kepiting, kerang, cumi-cumi- mi lebar, mi tipis, mi keriting, mi karet, kwetiau, bihun, soun, bubur, nasi dalam rice cooker, kaldu bubur dan mi kuah, aneka pau, kue putu, kue lapis, onde-onde, kue talam, kue mangkok, kue keladi, kacang kenari, tau suan, cincau hijau, bakpia, liang teh, es campur, es jali-jali, es lo han kuo, loper majalah dan DVD bajakan yang keluar masuk restoran, anak-anak kecil yang berkeliaran sambil menjajakan pancake durian, sepeda motor dan bettor yang berdesak-desakkan dengan makanan dan para pejalan kaki dan meninggalkan konstelasi debu di sekitarnya. (hal. 256-257)

Fiuh.. melelahkan. Saat membaca buku ini, ada perasaan ingin segera menyudahinya namun sayang karena buku ini cukup tebal dan saya sudah kepalang membaca sampai di tengah-tengah buku. Ya sudah, saya coba untuk melanjutkan. Tapi akhirnya memutuskan berhenti dan memutuskan untuk langsung loncat sampai ke ending. Huhu.

Kembali lagi, ini hanya padangan personal saya. Tapi buku ini bukan tidak ada kelebihannya lho. Penjelasan tentang makanan di buku ini kadang membuat saya lapar dan menyesali kenapa saya tidak punya kemampuan mengapresiasi makanan. Apalagi kuliner Indonesia begitu kaya. Sayang jika hanya sekedar lewat melalui kerongkongan saja. :)

Kegiatan (yang Mungkin) Menarik Saat Weekend untuk Anak Kosan

Hidup ini tidak adil, pun dengan pembangunan di negeri ini yang tidak merata. Kesempatan kerja yang menarik hanya tersedia di kota-kota besar, terutama Jakarta. Saya, dan mungkin kalian, adalah orang-orang yang membutuhkan pekerjaan tersebut sehingga harus pindah kota. Karena tidak ada sanak saudara, kita akan memilih untuk ngekos. Kos yang dipilih biasanya dekat dengan kantor dengan tujuan penghematan ongkos.

Kalau kampung halaman saya berjarak sekitar 120 km dari ibukota, sebenarnya saya bisa pulang setiap minggu karena tidak memakan banyak waktu. Tapi kalau dihitung-hitung ongkos pulang perginya lumayan juga. Makanya saya hanya pulang dua atau tiga minggu sekali.

Kalau tidak pulang, saya menghabiskan banyak waktu di kosan. Seperti sekarang ini Kalau ada acara musik atau pameran seni, biasanya saya keluar kosan. Tapi kalau tidak ada sesuatu yang membangkitkan keinginan untuk keluar, mending di kamar saja. Lagipula keluar kosan sama dengan keluarnya uang, terutama untuk ongkos dan makan. Di Jakarta, sekali keluar, uang bisa habis sekitar 50-70 ribu. Itu sudah paket menengah seperti naik TransJakarta atau makan di cafe yang tidak terlalu mahal. Karena kalau makan di warteg, apa bedanya sama keseharian, ya toh?

Sehari atau dua hari di kosan bukan tanpa perjuangan. Waktu terasa lambat. Saat awal-awal saya ngekos, banyak waktu yang saya habiskan untuk tidur siang sampai pusing. Tapi ternyata banyak kegiatan untuk menghabiskan hari. Untuk kalian yang akan ngekos atau pengekos pemula (halah), saya punya beberapa tips supaya hidup kalian tidak membosankan:

1. Punya teman satu kosan. Untuk yang gemar bersosialisasi, teman patut dicari. Kalian bisa pergi bareng atau hangout di kamar masing-masing sambil main game atau nonton film. Bahkan kalian bisa pesan makanan bareng-bareng seperti Pizza. Yum!
2. Nonton film seri luar negeri. Kenapa harus dari luar negeri? Karena film seri di sana skenarionya bagus, bukan hanya mengandalkan peran jutek, zoom in zoom out, dan muka rupawan! Hindari nonton film yang sekali habis karena kalian masih punya waktu yang sangat panjaang. Tontonlah film seri karena kalian akan ketagihan dan lupa waktu. Kalau film yang sedang saya tonton adalah House of Cards. Ya, terlambat, tapi lumayan membunuh waktu.
3. Baca buku. Walaupun waktu tidak berjalan secepat nonton film, buku bisa menjadi hiburan sendiri. Banyak ilmu yang bisa didapat dari buku. Saran saya sih baca novel atau biografi, jangan buku tata negara atau statistik. Biarkanlah otak kalian istirahat dulu.
4. Punya televisi. Memang acara televisi banyak yang tidak mendidik, tapi kita bisa pilih acara-acara yang bagus. Kadang saat malam hari beberapa stasiun televisi memutar film bioskop. Saya punya televisi supaya tidak ketinggalan berita, cari hiburan ringan seperti ide project DIY, atau acara inspiratif seperti Kick Andy. Lebih bagus kalau kosannya ada fasilitas cable tv karena acara-acara luar negeri lebih menghibur dan mendidik ketimbang di dalam negeri.
5. Internet. Naah, karena kita kan anak muda di zaman yang teknologinya pesat, internet itu seperti sudah suatu kebutuhan. Seperti menempati urutan kedua di piramida kebutuhan Maslow setelah kebutuhan biologis. Hehe. Kalian bisa nonton video di YouTube, chatting dengan teman-teman di social media, atau menulis blog seperti ini.

Tapi kalau rezekinya berlebih, sebaiknya pulang sajalah. Kumpul dengan keluarga tidak bisa digantikan dengan apapun. Uang bisa dicari sementara quality time tidak.

Sebentar, saya nangis dulu di pojokkan. *edisi rindu*

(Review Film) Nay

Djenar Maesa Ayu adalah salah seorang penulis ternama yang karyanya jarang saya cari kalau ke toko buku. Alasannya sederhana yaitu karena saya menyukai beberapa penulis lainnya. Jadi bukan karena karyanya jelek lho ya, tapi lebih ke masalah selera. Meskipun tidak fans, saya tetap baca beberapa bukunya.

Beberapa bulan yang lalu, Djenar sibuk memberitakan di Twitternya bahwa ia sedang menggarap sebuah film berjudul Nay (2015). Film ini ditayangkan di bioskop tertentu dan di tempat pemutaran film alternatif. Kemarin saya mendapatkan kesempatan untuk menonton di acara mingguan Sinema Rabu, bertempat di Pavillun 28, dan hanya membayar tiket Rp25.000 saja. Belum lagi, sutradara dan pemain filmnya hadir pula untuk diskusi.

Film berkisah tentang Nayla, seorang perempuan korban kekerasan ibunya dan korban pelecehan seksual bapak tirinya. Meskipun ibunya tahu tentang kasus pelecehan seksual yang dilakukan suami barunya, sang ibu meminta Nay tutup mulut demi kebaikan anaknya sendiri. Konflik diri yang dibawa sejak kecil ini harus berhadapan dengan konflik yang sedang dialaminya kini. Di tengah karirnya yang sedang menanjak, Nayla mendapatkan dirinya tengah hamil 11 minggu. Ben, pacarnya, ogah-ogahan untuk tanggung jawab.

Tokoh Nay diperankan oleh Sha Ine Febrianty. Film hanya memiliki latar belakang di dalam sebuah mobil yang jalan-jalan keliling Jakarta. Ine juga melakukan monolog sepanjang film--walaupun ada adegan komunikasi dengan orang lain yaitu menelepon pacar dan sahabatnya di telepon. Meskipun ruang geraknya sempit dan banyak monolog, film ini tidak membosankan.

Courtesy of Rumah Karya Sjuman

Saya jatuh cinta sekali dengan akting Ine. Mungkin karena dia sudah biasa main teater. Di dalam boks mobil itu, Ine berhasil menampilkan tiga perempuan yang berbeda: Nay sebagai dirinya kini, Nay sebagai anak, dan ibunya Nay. Saat memerankan Nay sebagai dirinya kini, Ine menghadap ke arah depan setir. Saat memerankan Nay sebagai anak, Ine berbicara ke sebuah kursi kosong yang ada di sebelah kirinya. Dan saat memerankan ibunya Nay, Ine mengalihkan perhatian ke arah luar jendela. Dan peralihan karakter itu dilakukan dalam waktu yang berdekatan sehingga mereka seolah-olah sedang mengobrol.

Saya menyampaikan apresiasi ini ke para pembicara. Djenar juga mengamininya dan ia juga jatuh cinta dengan kemampuan akting Ine. Dan rupanya Djenar sudah menujukan peran Nay untuk Ine semenjak skenario awal dibuat. Untungnya Ine yang sudah 15 tahun menolak main film ini mau dipinang oleh Djenar.

Meskipun Ine berpengalaman di bidang akting, main di film Nay bukan berarti tidak menimbulkan kecemasan lho. Ine bilang bahwa ia terbiasa dengan panggung atau ruang yang luas dan kini ia dihadapkan dengan ruang sempit (yaitu mobil). Untuk pendalaman tokoh, Ine merasa terbantu dengan Djenar yang betul-betul mengarahkan dengan detail tentang karakter Nay. Dan menurut Djenar, boks mobil itu merupakan representasi dari masyarakat yang mengurung perempuan. Standar-standar sosial membuat perempuan tidak bisa memiliki tubuhnya dengan seutuhnya karena tubuh perempuan jadi ditentukan didefinisikan oleh orang lain.

Syuting film ini hanya menghabiskan waktu tujuh hari. Lima harinya dihabiskan di jalan, berkeliling dengan mobil. Djenar bilang syuting di jalan ini dilakukan terburu-buru karena saat itu sedang marak-maraknya aksi begal. Hehe. Mana mobil yang dipakai mini cooper kan.. mobil bagus itu. :p

Di dalam sesi diskusi, hadir juga Ipung. Ia adalah DOP (director of photography), penata kamera dan lampu. Sinematografi film ini tidak membosankan karena Ipung memainkan lampu-lampu jalan yang direfleksikan pada latar depan kaca mobil atau juga sebagai latar belakang. Dan untuk itu, syuting ini banyak dilakukan di daerah yang banyak lampu seperti Sudirman, Kemang, dan Kuningan.

Courtesy of Sinema Rabu

Saya senang sekali hadir dalam kesempatan nonton bareng ini. Selain jadi tahu filmnya, saya bisa diskusi dan tahu cerita di baliknya. Agar merasakan kesan-kesan yang seru setelah menonton film Nay, sila cek ya ada di bioskop mana saja. Untuk yang ada di Jakarta, Pavilliun 28 memutar Nay hingga tanggal 30 Desember 2015. Film ini layak dan harus ditonton!

Kenali Jakarta Melalui Halte

Saya senang naik TransJakarta (TJ), sebenarnya. Walaupun kadang jalurnya berputar agak jauh untuk menuju satu tempat, jalur TJ melewati tempat-tempat tujuan ternama di Jakarta seperti mall-mall besar, tempat wisata, gedung pemerintahan, dan lainnya. Bagi pendatang seperti saya, halte busway TJ juga bisa menjadi ancer-anceran untuk menuju ke suatu tempat. Selain itu juga ongkos bisa menghemat banyak.

TJ hanya nyaman digunakan saat kosong, biasanya di siang hari pada jam kerja atau akhir pekan. Untuk akhir pekan, sebaiknya jangan naik TJ jurusan daerah-daerah wisata keluarga seperti Kota Tua, Ancol, dan Ragunan karena kita akan berebutan dengan orang tua dan anak-anak yang lebih banyak memakan tempat duduk. Dan TJ mulai penuh lagi saat sore hari sebelum maghrib karena di saat itu orang-orang sudah selesai piknik.

Intinya, mendapatkan kenyamanan di TJ itu cukup jarang.

Jakarta sudah diguyur hujan beberapa hari ini. Kemarin, saat saya menghadiri pameran Eko Nugroho, adalah salah satunya. TJ yang saya tunggu datang cukup lama akibat daerah yang dilewatinya kebanjiran.

Kami menunggu sekitar satu jam, mengantri sambil berdiri. Halte Harmoni dipenuhi dengan orang-orang berkulit sawo matang yang mukanya berkilau karena minyak, dengan hidung-hidung bangir, dengan mata yang cemas menunggu sesuatu. Halte ini penuh dengan bau keringat. Dan juga lengan akan terasa lengket jika tidak sengaja bersentuhan dengan lengan orang lain.

Dengan kaki lelah, satu-satunya cara yang menghibur diri adalah memperhatikan orang-orang. Ada perempuan yang berpakaian seksi, ada yang memakai baju jaring-jaring seperti mau pentas dangdut, ada orang-orang yang pakai baju dengan selera buruk, ada laki-laki feminin, ada ibu-ibu yang pakai kerudung, ada perempuan cantik, dan lainnya. Menarik juga untuk melihat ekspresi mereka satu persatu, membuat saya lupa dengan menunggu.

Saya mengantri di tempat yang tidak jauh dari pintu datangnya bus. Banyak ibu-ibu dan anak-anak yang langsung mendatangi pintu kedatangan karena mereka memang diprioritaskan dan diperbolehkan untuk masuk bus duluan. Tapi adaa saja yang bukan kategori prioritas yang ikut mengantri. Misalnya, seperti kemarin, seorang perempuan muda yang tidak hamil yang tetap saja bergeming meskipun sudah ditegur petugas TJ untuk antri di antrian reguler. Dan juga beberapa orang pria sehat walafiat yang masih kekeuh berada di tempat walaupun sudah disuruh antri ke belakang. Bahkan, ada yang menerobos masuk lewat antrian prioritas begitu pintu dibuka.

Sialan. Di mana pikiran orang-orang bebal ini?

Sebelum orang-orang keluar dari bus yang akan datang, petugas TJ meminta satu keluarga untuk tidak berada di dekat pintu karena menghalangi jalan dan pindah ke antrian prioritas. Tapi ibu itu malah marah-marah karena dia harus mengantri agak belakang. Duh, padahal jarak dia dengan pintu kedatangan cukup dekat dan bakal dapat tempat duduk pula. Ibu-ibu yang antri di depannya mengompori agar si ibu ini masuk dari pintu laki-laki. Sementara itu, anaknya si ibu ini meminta agar ibunya mengikuti peraturan petugas saja. Karena gemas, saya ikut komentar, "Bu, udah ikutin aja apa kata petugas. Pasti dapet tempat duduk kok!"

Jujur deh, saya enggak suka ibu-ibu. Terlalu banyak kejadian negatif tentang mereka.

Harus saya akui petugas merapikan dengan tegas. Mereka juga cukup ketat menjaga agar orang lain tidak menyela barisan (walaupun ada satu orang yang lolos). Petugas juga menekankan agar penumpang tidak pilih-pilih bus karena menghambat penumpang yang naik duluan. FYI, banyak orang yang enggak mau naik lho begitu dekat pintu masuk, karena mereka memilih bus selanjutnya dengan kemungkinan besar dapat tempat duduk.

Belum lagi begitu bus sudah jalan, kami dihadapkan macet setelah hujan. Orang-orang mengklakson tanda frustasi. Saya pernah naik Gojek dan bermacet-macetan. Walaupun tidak nyetir, rasanya stres juga lho. Saya jadi enggak heran kalau orang melampiaskan frustasinya lewat klakson panjang yang memusingkan.

Dulu saya berpikir mungkin tabiat orang Jakarta memang tidak sabaran. Tapi saya membayangkan kalau kendaraan pribadi sedikit, tidak ada macet, orang-orang lebih banyak menggunakan angkutan umum karena sistemnya baik, pasti orang-orang tidak akan stres di jalan. Bisa jadi tidak ada klakson di jalan (kecuali diperlukan). Lingkungan dan sanksi bisa membentuk tabiat seseorang kok. Pernah dengar cerita tentang orang Indonesia yang tiba-tiba berubah jadi teratur buang sampah di tempatnya atau menyebrang lewat zebra cross saat di Singapura?

Kalau kata si pacar, Jakarta ini over populated. Iya, harusnya orang-orang pendatang seperti saya tidak ikut menuh-menuhin Jakarta. Saya dengan senang hati pulang kampung jika pekerjaan seperti yang saya lakukan kini ada di Bandung. Pembangunan begitu terpusat di Jakarta sehingga daerah lain tidak kebagian sehingga orang numplek di sini.

Populasi yang banyak ini juga menciptakan berbagai masalah, misalnya kesemerawutan dan juga mental ingin menang sendiri seperti di halte tadi. Masalah-masalah itu jadi PR menumpuk dari pemerintahan zaman dulu karena lebih mementingkan pada pembangunan saja dan menumpuk kekayaan pribadi. Saya dan pacar berkelakar pasti Ahok pusing sekali mengurus Jakarta: ya banjir, ya tata kota dan infrastruktur, ya orang-orangnya.

Walaupun ada pencapaian-pencapaian yang terjadi di Jakarta pada pemerintahan saat ini, tetap saja untuk membenahi kota ini sepertinya akan lama sekali, apalagi kalau urusan mental. Mental orang-orang yang lompat pagar halte karena ingin cepat sampai padahal sudah disiapkan jembatan penyebrangan, mental orang yang membuka paksa pintu halte karena enggan kepanasan, atau mental pura-pura tidur karena enggan memberikan kursi kepada yang membutuhkan.

Saya punya tips untuk kalian yang merupakan pendatang baru di Jakarta:
1. Jangan bawa anak atau orang tua naik TJ, terutama di jam sibuk, karena kasihan kalau harus nunggu lama
2. Pakai sepatu yang nyaman untuk berdiri lama
3. Bawa buku atau music player biar tidak bosan dan emosi
4. Mending pulang malam sekalian agar busnya lowong
5. Kalau dirasa tidak kuat mental menghadapi kesemerawutan atau berencana akan menyela antrian, mending naik ojek saja

Semoga bermanfaat dan selamat datang di Jakarta!

Menyelami Anomali

Kalau bicara tentang politik, kesan yang timbul di benak saya adalah kotor, segala yang haram dihalalkan, kepentingan pribadi, dan semua itu tidak dilakukan oleh orang-orang bertato, melainkan orang-orang berdasi. Kalau menghadiri pameran seni yang bertema politik, kesan yang biasanya datang adalah panas dan jengah karena penuh kritik dan aura negatif. Intinya, saya bukan fans seniman yang mengkritisi politik. Hingga akhirnya saya melihat pameran Eko Nugroho.

Nama Eko Nugroho terdengar saat ia berkolaborasi dengan brand fashion ternama Louis Vuitton. Ia mendesign scraf yang penuh warna--langsung jatuh hati. Saat itu juga saya browsing tentang seniman yang berkediaman di Yogyakarta ini. Karya-karya yang lainnya juga bagus, bikin saya ingin lihat secara langsung. Foto karya yang paling saya ingat adalah ia menggambar sebuah lorong di bagian kiri, kanan, atas, dan bawah lorong secara masif.

Hari ini saya niat sekali datang ke Salihara yang notabene cukup jauhh dari tempat saya. Tapi ini kesempatan yang sayang jika dilewatkan. Kapan lagi ia akan pameran di Jakarta? Dan setelah melihat akun media sosial orang-orang yang pernah ke sana membuat saya ingin melihat secara langsung.


Pameran yang berjudul Landscape Anomaly ini memperlihatkan cara pandang seniman terhadap politik. Eko mengemukakan hal-hal asing yang terjadi di dalam hal yang "normal" dan seharusnya tidak menjadi standar atau dianggap sebagai sebuah kewajaran. Misalnya, di karyanya yang berjudul 70 Tahun Dibuai, Eko membuat sebuah instalasi rumah semi permanen yang isinya lengkap dengan bantal dengan tempelan iklan-iklan di dindingnya. Di satu sisinya, terdapat sebuah papan bertulis "Kita punya mimpi dan akan selalu hanya menjadi mimpi". Sementara di luar bangunan terdapat papan yang dicat Dirgahayu ke-70 Republik Indonesia.

Rumah semi permanen, atau biasa yang disebut bedeng, adalah hal yang sering kita lihat di negeri ini. Di pinggir jalan, di lahan kosong meskipun berada di lingkungan mewah, atau yang lebih banyak ada di pinggir rel kereta api. Pasti yang miskin yang berada di rumah bedeng. Padahal sudah 70 tahun merdeka, seharusnya kemiskinan sudah tidak ada. Barangkali itu yang anomali yang dimaksud. Kalau bukan mah maaf-maaf saja yah karena itu interpretasi pribadi. Hehe.


Eko juga membuat banyak patung-patung dengan segala atributnya seperti yang di bawah ini:

Fasis Franchise (kiri) dan Multi Dihasut Mono (kanan)

Hypocrite

Membaca Bangsa dalam Diri

Pengabdian adalah penjara, Kebebasan Hanyalah Muslihat

Untitled (Petualang Berbahasa Hitam)

Happy Dilema
Disekap Kesejahteraan, Dibutakan Kebahagiaan

Dari semua karyanya, saya paling suka dengan karya Hirearchy of Prosperity #2. Semenjak pemerintah menghilangkan minyak tanah dan meminta masyarakat untuk menggunakan gas (kemudian banyak berita gas 3 kg yang meledak dan memakan korban--bisa jadi karena kemasannya tidak becus atau masyarakat tidak tahu cara memakainya karena tidak biasa--oh ini lebih miris lagi) dan harga gas terus naik, hanya orang-orang kaya yang bisa menggunakan gas. Masyarakat dibelenggu oleh barang-barang yang semakin sulit untuk dibeli.



Keluar dari galeri membuat saya berpikir. Masyarakat hanyalah bidak catur yang dikendalikan oleh beberapa orang saja. Dan masyarakat tidak punya pilihan lain untuk mengikuti, atau hanya menonton anomali.