Senjakala Supernova

Saya teringat, sebelas tahun lalu, saya membeli buku Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dewi Lestari. Saat itu saya masih kuliah dan itu adalah novel yang pertama kali saya beli. Maklum, ketertarikan saya pada buku dan nulis baru muncul saat kuliah, sebelumnya entah pada apa. Kesan pertama yang masih teringat jelas adalah saya enggak ngerti buku ini. Temanya berat. Tapi saya suka sekali dengan gaya bahasanya--romantis dan puitis. Rumit, berbelit-belit, dan setidaknya kalau saya menggunakannya untuk membuat cerita pendek, akan terlihat pintar.

Iya, proses idolalisasi (halah) kepada penulis yang akrab disebut Dee memang sedangkal itu. Saya jatuh cinta pada caranya berbahasa. Saya benar-benar menirunya kala itu. Melalui karyanya, Dee membantu saya memasuki dunia tulis menulis. Setelah masuk, saya berevolusi. Gaya penulisan saya berubah, seiring dengan idolalisasi penulis lain.

Keluarga ciamik: Dewi Lestari, Imelda Rosalin, Arina Ephipania

Hari ini, Dee melakukan peluncuran seri Supernova terakhir yaitu Intelegensia Embun Pagi (IEP). Iya, yang terakhir, setelah lima belas tahun ia membuat Supernova. Tepatnya saat ia berusia 25 tahun. Peluncuran ini begitu intim karena ia mengajak seluruh keluarganya hadir, termasuk Imelda Rosalin, Arina Ephipania, dan mantan suami Marcell Siahaan. Beberapa artis hadir seperti Dinda Kanya Dewi, Chicco Jerikho (akhirnya lihat penampakan aslinya secara langsung), Amanda Zevannya, Joko Anwar, dan Alvin Adam. Para artis tersebut, kecuali Alvin, melakukan pembacaan petikan setiap seri buku Supernova. Misalnya Chicco membaca petikan cerita di Akar, Dinda membaca Partikel, dan Amanda membaca Petir. Setiap perpindahan pembacaan novel, Dee, Imelda, dan Arina menyanyikan lagu-lagu.

Dewi Lestari membuka pembacaan cerita.

Chicco Jericko. Oh, ternyata begini aslinya. *cukup tau aja*

Amanda Zevannya

Dinda Kanya Dewi. Makasih ya tweet saya sudah di-retweet. Hehe.

Joko Anwar menceritakan dengan logat batak yang lucu.

Dee bercerita tentang prosesnya membuat heksalogi Supernova. Seri ini bermulai justru dari sebuah kenekatan. Mulanya ia adalah seorang penulis yang sama dari penulis pada umumnya: mengalami penolakan di majalah dan penerbitan. Mimpinya hanya satu: ia ingin melihat karyanya di pajang di rak toko buku. Akhirnya ia mencoba menerbitkan sendiri naskah Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh dengan mencetak 5.000 eksemplar. Ternyata cetakan tersebut gagal. Karena tidak bisa dijual, ia dan teman-temannya melakukan gerilya dengan menjual murah, dari Rp30 ribu menjadi Rp17.5 ribu, dan memberikan secara cuma-cuma kepada wartawan untuk promosi. Walah, saya sebagai wartawan, jadi kasihan pada profesi sendiri. Hahaha.

Mulanya ia mau membuat Supernova sebagai trilogi. Tapi saat mengerjakan Akar yang seharusnya merupakan salah satu bab, naskah berkembang sebesar-besarnya sehingga harus menjadi satu buku. Karena harus konsisten, Dee memutuskan untuk menjadikan setiap bab sebagai satu buku, hingga akhirnya mencapai buku keenam. Dia juga mengakui mulanya menyesal karena jadi memberatkan diri sendiri. Haha. Bahkan suaminya menambahkan bahwa sempat ada sesi terapi dan akupuntur untuk membuat Dee tetap "waras". Suaminya juga bercanda, "Jangan-jangan ini alasannya dia mau menikahi saya." Hihi, lucu ya.

IEP yang super tebal ini ternyata berawal dari kumpulan pengalaman pribadinya. "Ibaratnya saya membuat jaring laba-laba dan saya harus menyatukan semua itu. Pengalaman pribadi saya menjadi naskah mentah saya," katanya. Pembuatan IEP relatif singkat yaitu satu tahun. Tapi memang diperlukan dedikasi untuk bisa menghasilkan IEP. Dee bercerita dia menulis laksana orang kerja kantoran. Ia juga membuat target jumlah kata yang harus dihasilkan dan kapan harus selesai. Dia menulis setiap hari, sampai menolak beberapa undangan talk show karena tidak ingin terdistraksi. "Bahkan suami saya jadi (makan) rantangan. Buku-buku siswa milik anak-anak saya jadi tidak ditandatangan," guraunya.

Dari semua karyanya, Dee mengaku bahwa novel yang paling butuh banyak energi untuk riset adalah Partikel dan Gelombang. Kalau kesulitan membuat IEP bukan pada risetnya, tapi membuat struktur cerita. Di novel terbarunya, Dee harus membuat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung dari novel-novel sebelumnya. Selama proses pembuatan novel, Dee merasakan berbagai kesan persaan seperti sedih, senang, excited, euforia, dan jatuh cinta. Kesan-kesan itu juga harus dirasakan oleh pembacanya. Makanya ia harus berhati-hati dalam memilih kata dan menyusun cerita sedemikian rupa. Lagipula, novel terakhir memang harus jadi gong, bukan? Hehe.

Novel yang paling saya suka dan paling berkesan adalah Petir. Di situ Dee bisa menulis tokoh yang lucu sekali. Nah, kalau IEP, saya belum tahu bagaimana ceritanya karena harganya cukup lumayan yaitu Rp118.000. Nanti aja, saya tidak terburu-buru. Apalagi PR membacanya juga banyak. Jadi sepertinya belum ada review IEP dalam waktu dekat ini. *berasa ditunggu* :p

Pembacaan Supernova terakhir. Haru biru.

Peluncuran tadi meninggalkan sedikit rasa haru di hati saya. Meski sekarang Dee bukan idola nomor satu saya, tapi ia dan Supernova telah menemani selama sebelas tahun saya menjalani passion saya: menulis. Ia bilang bahwa menulis tidak perlu dipikir apakah karyanya harus menjadi masterpiece. Menulis adalah sebuah proses. Ibarat orang yang harus olahraga setiap hari agar tubuhnya berotot, menulis harus dilatih terus menerus. Saya sebagai penulis yang juga ingin menerbitkan buku sendiri (bukan kolaborasi) dan ada di rak best seller kemudian karyanya ditunggu-tunggu penggemar, akan menjadikan hal tersebut sebagai motivasi. Ugh!

Senang sekali bisa menemukan cara untuk melampiaskan emosi melalui menulis. Senang sekali saya bertemu dengan Dee yang membukakan pintu kepada dunia yang baru. Selamat tinggal, Supernova. Sampai berjumpa kembali.

(Review Buku) Lelaki Harimau

Membaca buku harusnya menghibur. Hiburan bukan berarti tidak ada isinya. Selain masalah konten, hiburan bisa didapat dari keindahan berbahasa. Hiburan itu penting sekali, apalagi jika hiburannya meninggalkan kesan setelah pembaca sampai di halaman akhir sebuah buku. Cerita itu akan selalu diingat, tokohnya juga terasa nyata.

Salah satu pengarang yang bagi saya menghibur adalah Eka Kurniawan. Perkenalan saya dengan Eka bermula saat membaca di suatu artikel dua tahun lalu. Benedict Anderson, seorang ilmuwan dari Cornell University, menyebutkan bahwa Eka adalah penerus Pramoedya Ananta Toer. Bahkan Seno Gumira Ajidarma juga menyebut ia sebagai penulis muda yang menjanjikan. Wah! Saya jadi penasaran. Saya mulai mencarinya di internet. Saat itu, saya baru tahu dua buku ya ia terbitkan yaitu Lelaki Harimau dan Cantik itu Luka.

Cantik itu Luka telah saya baca bersamaan dengan karya-karya lainnya. Justru Lelaki Harimau yang menuai banyak pujian ini belum saya baca karena saat itu jarang ditemukan di toko buku. Sepertinya Eka sedang naik sekali di tahun ini sehingga buku-bukunya diterbitkan ulang dengan cover baru, maka kini mudah sekali mendapatkan Lelaki Harimau. Akhirnya, setelah melalui berbagai distraksi, buku yang terbilang tipis ini selesai juga. Baru saja. Ya, sekarang pukul lima dini hari, dan saya sulit tidur, jadi saya putuskan harus menuntaskan hari ini juga.

Hati-hati spoiler. Yang berniat tidak akan baca, boleh lanjut.

Foto dokumen pribadi.
Lelaki Harimau bercerita tentang Margio, seorang pemuda yang memiliki harimau putih di dirinya. Rupanya generasi pendahulu Margio melakukan "perkawinan" dengan harimau dan anak hasil kawin silang itu mendatangi generasi mudanya--termasuk Margio. Suatu saat, harimau ini keluar dan menggigit Anwar Sadat, seorang pria yang sering mengajak Margio untuk berburu babi hutan, tepat di leher dan mencabiknya berkali-kali.

Di novel ini diceritakan secara terperinci tentang Margio, setiap anggota keluarga Margio, Anwar Sadat, dan setiap anggota Anwar Sadat. Margio memiliki ayah yang gemar sekali memukul seluruh anggota keluarganya. Nuraeni, sang istri yang sekaligus ibunya Margio, memendam kekesalan yang tidak terucap terhadap suaminya semenjak mereka pacaran hingga si suami meninggal dunia. Sang ibu yang setiap melakukan hubungan seksual dengan suami lebih terlihat seperti adegan pemerkosaan, menemukan kehangatan di diri Anwar Sadat. Ibarat perempuan yang baru merasakan nikmatnya dan bahagianya bercinta, Nuraeni kerap mengunjungi Anwar Sadat hingga Nuraeni hamil. Margio akhirnya tahu bahwa sang ibu hamil bukan dengan ayahnya, tapi ia memutuskan untuk tidak membenci Anwar Sadat karena baru kali ini ia melihat wajah ibunya yang begitu bahagia.

Di saat yang sama, Margio jatuh cinta dengan Maharani, putrinya Anwar Sadat. Tapi hubungan mereka terasa mengganjal jika Margio tidak jujur pada Maharani bahwa ayahnyalah yang menghamili ibunya. Maharani pun marah dan memutuskan untuk pulang ke kota. Di tengah kegalauan tersebut, Margio menghampiri Anwar Sadat dan menemukan bahwa pria itu tidak mencintai ibunya.

Sepanjang novel, Eka mengajak pembaca untuk latar belakang cerita setiap karakter sampai tahu alasan mengapa Margio membunuh Anwar Sadat. Eka bercerita dengan plot maju-mundur yang sangat halus sehingga pembaca tidak menyadari saat perpindahan plot terjadi. Selain itu, hal yang paling saya suka dari Eka adalah diksinya. Terutama di kalimat ini:

Masih lenyap beberapa waktu saat mereka tercenung, serasa hilang sadar, mencium bau amis darah yang menggelosor dari leher serupa pipa ledeng yang bocor, dan seorang bocah berjalan panik sempoyongan, dihantam kesemberonoannya sendiri, dengan mulut dan gigi penuh warna merah, semacam moncong ajak meninggalkan sarapan paginya. (hal 4)

Selain itu, hal yang paling saya suka dari Eka adalah ia bisa mengemas hal serius tanpa menjadi kaku, seperti yang ia lakukan di novel Cantik itu Luka dan di novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Sehingga karya-karyanya ibarat minum air dingin di siang hari: segar. Eka juga terkenal dengan penggambaran adegan seksual yang cukup eksplisit tapi tidak senonoh. Walaupun begitu, novel-novelnya tidak cocok dibaca untuk remaja di bawah umur.

Kalau dipikir-pikir, kayaknya Eka adalah penulis yang bisa membuat orang yang jarang baca menjadi bisa menyukai sastra. :)

Romeo Juliet dari Citepus*

Hampir seabad yang lalu dari tahun Monyet Api ini, yaitu tahun 2467 atau tahun 1917 dalam kalender Masehi, sebuah roman terbit di Bandung. Roman yang bertajuk Rasia Bandoeng: Atawa Satoe Tjerita jang Benar Terdjadi di Kota Bandoeng dan Berachir Pada Tahon 1917 ini bukanlah roman biasa karena semua ceritanya berdasarkan kisah nyata yang bercerita tentang kehidupan percintaan warga Tionghoa yang kala itu dianggap "aib" karena melanggar adat istiadat di kalangan kaum Tionghoa. Penulisnya anonim, hanya menggunakan nama pena Chabanneau. Untuk pengetahuan, Chabanneau adalah sebuah merek cognac. Dan nama-nama tokoh di novel ini disamarkan, namun inisial yang digunakan sama.

Chabanneau menulis kisah tentang Tan Gong Nio (kemudian diceritakan dengan nama baratnya yaitu Hilda) dan Tan Tjin Hiauw. Keduanya memiliki marga yang sama yaitu Tan. Pada masa itu, menikah dengan marga yang merupakan hal yang dilarang karena dianggap memiliki hubungan saudara dan dapat menimbulkan kecacatan pada keturunannya.

Perkenalan Hilda dengan Tan Tjin Hiauw bermula saat dikenalkan oleh Helena yaitu Margareth Thio, kakaknya Hilda, yang merupakan teman Tan Tjin Hiauw. Saat itu Hilda masih sekolah dengan didikan ala Eropa, sementara Tan Tjin Hiauw sudah bekerja. Karena hubungan mereka terlarang, otomatis hubungan mereka dijalankan secara diam-diam. Surat-surat yang mereka gunakan sebagai alat komunikasi dikirimkan melalui kurir. Berbeda dengan keluarga Hilda yang cenderung konservatif, keluarga Tan Tjin Hiauw cenderung membebaskan anak memilih untuk berhubungan dengan orang yang satu marga. Bahkan keluarga Tan Tjin Hiauw membantu Hilda lari dari rumah dan disembunyikan.

Untuk bisa bersatu dengan Tan Tjin Hiauw, Hilda rela meninggalkan keluarganya dan kabur ke Surabaya, kemudian Makassar, dan menikah di Singapura. Karena sakit hati, ayah Hilda yaitu Tan Djia Goan, mengumumkan di surat kabar Sin Po pada 2 Januari 1918 bahwa Hilda bukanlah bagian dari keluarga mereka lagi. Dihapus dari ahli waris.

Kisah percintaan mereka bocor karena seorang pria yang bernama Lie Tok Sim membocorkan surat-surat curhatan Hilda yang dikirimkan kepadanya. Lie Tok Sim adalah seorang pria yang menyukai Hilda namun Hilda tidak membalas cintanya. Dalam surat-suratnya itu, Hilda bercerita bahwa ia mencintai Tan Tjin Hiauw dan kemudian Hilda meminta Lie Tok Sim untuk membakar surat-surat tersebut. Karena sakit hati, Lie Tok Sim memberikan surat-surat itu kepada Chabanneau dan dijadikan sebuah roman. Roman ini digunakan untuk memeras keluarga Hilda untuk mengirimkan sejumlah uang. Karena tidak ditanggapi, maka roman ini pun dipublikasikan.

Roman ini pernah dituliskan di surat kabar Pikiran Rakyat melalui liputan investigatif oleh Lina Nursanty pada momen Imlek tahun 2015 lalu. Dalam momen Tjerita Boekoe: Rasia Bandoeng yang diadakan oleh Kedai Preanger dan Komunitas Aleut! pada 20 Februari kemarin di sebuah kafe di bilangan Jalan Jendral Sudirman, Bandung, Lina mengatakan bahwa roman ini pernah dibahas oleh seorang sejarawan dan feminis Kanada yaitu Tineke Hellwig. Hellwig membahas mengenai sebuah perjuangan yang dilakukan Hilda dalam menentukan pilihan hidupnya.

Berbeda dengan Hellwig, peneliti lain James T. Siegel melihat melalui roman ini bahwa orang-orang Tionghoa juga berkontribusi pada pergerakan nasional. Kemampuan bahasa untuk menerjemahkan isi buku atau surat kabar yang dimiliki Hilda dan Tan Tjin Hiauw sebagai kalangan terdidik berperan untuk mempercepat proses penyebaran ide revolusi di kalangan kaum muda. Apalagi Tan Tjin Hiauw merupakan salah satu penerjemah terbaik kala itu.

Hal yang menarik dari diskusi buku ini adalah acara diselenggarakan di sebuah kafe yang dulunya merupakan sebuah rumah yang dihuni oleh Tan Sim Tjong, kakek dari tokoh Tan Tjin Hiauw. Letak rumahnya berada di depan rumah kapiten Tionghoa yang menjabat sebagai opsir tahun 1888-1917. Rumah Tan Sim Tjong memiliki taman di tengah rumah yang luas dan asri. Meskipun kepemilikannya sudah berbeda dan dipotong-potong menjadi paviliun, tidak banyak perubahan pada rumah ini. Keluarga Tan Sim Tjong sering menanam pohon jeruk sehingga kawasan ini dikenal sebagai Kebun Jeruk.





Dalam diskusi, hadir Charles Subrata yang merupakan keponakan asli dari Tan Tjeng Hoe, yang merupakan nama asli dari tokoh Tan Tjin Hiauw. Charles dan keluarganya bermisi untuk mencari makam sang kakek yaitu Tan Sim Tjong. Ternyata makam Tan Sim Tjong ditemukan di Cijerah dengan pahatan "nama" dan pahatan "kampung asal" yang hilang dari nisan. Sehingga muncul dugaan bahwa ada pihak yang ingin menghilangkan jejak makam Tan Sim Tjong.

Buku Rasia Bandoeng terdiri dari tiga jilid. Jilid pertama yang ditulis Chabanneau bercerita tentang latar belakang kota Bandung dan latar belakang tokoh, jilid kedua bercerita tentang polemik percintaan tokoh, dan jilid ketiga bercerita tentang penyelesaian dari polemik tersebut. Semua buku ditulis dengan ejaan lama yang pasti membuat pembaca terbata-bata saat membacanya.

Agar bisa dibaca oleh kalangan luas,Komunitas Aleut dan Kedai Preanger sudah menyalin ulang ketiga jilid Rasia Bandoeng dengan perubahan minimum dan berencana menerbitkannya kembali dalam waktu dekat ini. Perubahan minimum yang dilakukan hanya mengubah ejaan lama menjadi ejaan baru saja sementara tata bahasa dan penggunaan kata-kata lama yang sudah tidak umum dipakai tetap disalin sesuai pemakaian dalam buku. Untuk keperluan ini, tim Kedai Preanger juga mereka-ulang sampul buku Rasia Bandoeng sesuai dengan aslinya. Nah, bagi yang berminat mengetahui perjalanan percintaan Romeo dan Juliet dari Citepus ini dapat menunggu terbitan ulang dari Kedai Preanger dan Komunitas Aleut ini.

Selain mengenai polemik antara Hilda dan Tan Tjin Hiauw, dalam roman ini juga pembaca bisa mengetahui keadaan Bandung dan pengaruh orang-orang Tionghoa terhadap pegerakan ekonomi saat itu. Misalnya, ayahnya Hilda, yang memiliki nama asli Tan Jin Gi, memiliki sebuah pabrik tepung tapioka, usaha batik yang maju, mendirikan Hotel Surabaya, dan memiliki perkebunan teh Negara Kenaan di Ciwidey. Saat itu, orang Tionghoa yang memiliki perkebunan teh di tengah-tengah perkebunan teh yang dimiliki orang Belanda adalah sebuah pencapaian. Sekarang, perkebunan teh tersebut dimiliki oleh KBP Chakra.

Setelah terbitnya novel ini, Hermine Tan disebutkan bermukim di Belanda setelah menikah lagi dengan seorang warga negara Belanda yang tinggal di Indonesia. Di negeri yang terkenal dengan bunga tulip ini, ia menutup kisahnya, tidak menceritakan hal ini kepada anak dan cucunya, hingga ia tutup usia.


-----------
Untuk diingat:
Tokoh perempuan bernama Hilda memiliki nama asli Hermine Tan
Tokoh pria bernama Tan Tjin Hiauw memiliki nama asli Tan Tjeng Hoe
Tokoh ayah dari Hermine bernama Tan Djia Goan memiliki nama asli Tan Jin Gi. Kisah Tan Jin Gi pernah saya tulis di Desas-Desus Bawah Tanah.

*Judul diambil dari kutipan Charles Subrata yang menggambarkan kisah Hilda dan Tan Tjin Hiauw.

Sepotong Senja Untuk Pacarku

Sepertinya seru sekali kalau punya pacar romantis yang mau motong senja buat saya. Heheh. Kalau pacar saya, selain tidak romatis, kayaknya agak susah ya buat motong senja. Namun lain halnya dengan Sukab. Sukab memang sengaja memotong senja sebesar kartu pos untuk pacarnya bernama Alina. Keindahan senja yang langitnya bermega-mega seperti mimpi itu membuat Sukab ingin mengoleh-olehkan keindahan untuk kekasihnya. Senja itu dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui pos. Meskipun setelahnya ia harus dikejar-kejar oleh polisi karena mencuri senja. Meskipun tukang pos harus mengarungi waktu 40 hari 40 malam untuk sampai ke alamat tujuan. Dan meskipun bukannya senang, Alina malah marah-marah karena senja kiriman Sukab membuatnya terkena bencana.

Sukab, Alina, dan Tukang Pos adalah tokoh ciptaan Seno Gumira Ajidarma di buku antologi "Sepotong Senja untuk Pacarku". Setiap tokoh diceritakan dalam sebuah cerpen. Meskipun saya belum baca, tapi saya tahu jalan ceritanya karena Sabtu lalu saya menghadiri pembacaan cerpennya di Galeri Indonesia Kaya. Cerpen Sukab dibacakan oleh Abimana Aryasatya, Alina dibacakan oleh Dian Sastrowardoyo, dan Tukang Pos dibacakan oleh Butet Kertaradjasa. Cerpen tersebut dibacakan penuh ekspresi, walaupun tidak secara teatrikal.





Abimana membacakan cerita Sukab dengan sangat romantiiiss sekali. Intonasi dan suaranya begitu lembut--setengah berbisik. Membuat yang mendengarnya jatuh cinta dan merasa dicintai. Ia juga menceritakan dengan lancar, tidak menggebu-gebu atau terlalu lebay, tetapi pas. Saya senang sekali mendengarnya. Berbeda dengan Abimana yang kalem, Butet menceritakan dengan ekspresi naik turun yang lucu. Ia bercerita tentang tukang pos yang mengintip senja di dalam amplop, masuk ke dalamnya, berubah menjadi iklan, beranak-pinak, dan membangun peradaban di dalam. Hihi. Cara membacakan Butet membuat penonton ikut hanyut dan tertawa mendengar kisahnya.

Sementara Dian Sastro bercerita tentang Alina yang pemarah dan ternyata tidak mencintai Sukab sebagaimana Sukab mencintainya. Bahkan ia cenderung kasihan pada suaminya. Alina menganggap bahwa senja yang sampai 10 tahun kemudian itu tidak ada artinya, bahkan merepotkan karena senja di pantai itu menumpahkan airnya kemana-mana. Membanjiri kampung Alina, mengenggelamkan warganya. Sayangnya, ada beberapa yang terselip dari lidah Dian, sehingga saya agak kurang puas dengan penampilannya. Hehe.

Karena saya baru mendengar cerpen-cerpen ini, saya baru tahu ternyata ceritanya agak surrealis gini ya. Senja adalah topik klise yang diceritakan oleh para penulis dan para pecinta, tapi Seno membuat senja di sini begitu unik dan jauh lebih indah. Walau berulang-ulang kali ia menggambarkan keindahan senja, kedengarannya tidak membosankan. Selain itu juga ceritanya membuat pembacanya berimajinasi.

Wah, saya senang sekali menonton pertujukkan kemarin. Selain pembacaan, ada juga sedikit musikalisasi yang sangat merdu. Bagus!

Televisi

Televisi di kamar kosan saya berbulan-bulan mati. Sepertinya mati stand by. Kadang mau nyala kalau beruntung, tapi seringnya tidak. Inginnya saya nyalakan terus-terusan, karena televisi ini memiliki kecenderungan enggak mau nyala lagi setelah dimatikan. Stand by-nya tidak berfungsi. Tapi takutnya meledak terus membakar kosan. Wah, gawat deh urusan.

Harusnya segera diperbaiki, tapi kok rasanya malas sekali. Tapi lama-kelamaan sepi juga kalau televisi nggak nyala. Awal niat saya beli adalah supaya ada suara-suara yang nemenin saat mau tidur, saat makan atau saat mandi. Walaupun banyak acara yang enggak banget, asal bisa memilih, televisi bisa jadi distraksi. Lumayan ada film-film bioskop yang menghibur atau acara talkshow yang informatif.

Tapi si kotak tipis itu mati. Layarnya hitam, sepi. Aduh apalagi kalau malam menjelang, paranoid membuat saya menciptakan suara-suara yang saya anggap barangkali ada hantu di ujung lorong sana. Perasaan ini agak berkurang sedikit kalau tetangga sebelah kamar sudah datang. Setidaknya kalau ada suara gaduh, itu berasal dari kamar sebelah.

Mengurus televisi itu malas sekali. Harus mencari tukang service. Itu juga belum tentu terpercaya. Kemudian harus membawa televisi tersebut ke tempat tujuan, nego harga, kemudian membawa lagi pulang ke kosan. Terus jadi membayangkan kalau sudah punya rumah sendiri, pasti banyak yang harus diperbaiki seperti pompa, mesin cuci, kulkas, dst males banget. Kemudian saya browsing mencari tukang service yang bisa dipanggil ke rumah. Ada, letaknya di Muara Karang, cukup jauh dari sini. Tapi sembari menimbangkan dia, saya bertanya-tanya ke teman-teman.

Ternyata temen-temen akamsi tidak pernah service televisi sehingga tidak tahu tempat service terdekat. Untungnya ada satu teman yang ternyata di dekat kontrakannya ada tukang service. Letaknya di Jalan Kembangan Utara. Saya pergi ke sana dan menemui Pak Halim. Saya menceritakan keluhan masalah televisi saya dan dia bilang kira-kira biasanya Rp150.000-Rp300.000. Setelah mengetahui bahwa saya akan bawa televisi itu ke sana, Pak Halim bertanya apakah di tempat saya ada laki-laki yang bisa membawa. Saya jawab tidak. Kemudian beliau menawarkan untuk service di tempat saya karena kasihan saya akan keberatan.

Keesokan harinya dia datang. Televisi saya LED LG 21 inchi. Ia kesulitan membuka bagian belakang televisi dan meminta izin apakah ia bisa bawa televisi tersebut ke tempatnya karena televisi ini harus dibuka oleh obeng lebar agar tidak patah. Kemudian satu jam kemudian, ia menelepon dan mengabarkan mainboard televisi saya rusak. Biaya membetulkannya Rp500.000, termasuk biaya service.

WAW! Lima ratus ribu adalah uang yang banyak. Jujur, bingung sekali saat itu. Saya bertanya ke teman-teman saya. Rata-rata mereka menyarankan sebaiknya saya beli yang baru karena lebih terjamin kualitasnya dan bisa tahan lama. Tapi kan.. kalau permasalahannya adalah budget, beli yang baru berarti jauh sekali di atas budget dong? Saya jadi harus meluangkan uang satu juta lebih untuk beli yang baru. Apa tidak malah rugi?

Kalau browsing, harga service mainboard antara Rp400.000 sampai Rp700.000. Intinya, memang mahal. Saya jadi berpikir ya sudah coba saja, daripada televisinya membangkai. Akhirnya saya bilang ke Pak Halim untuk membetulkan. Ia bilang prosesnya sekitar satu hingga dua hari. Dia bilang mainboardnya asli dari LG dan ada garansinya selama sebulan. Ya sudahlah, setidaknya ada jaminan.

Tanpa diduga, keesokannya Pak Halim memberitahukan bahwa televisinya sudah selesai dan siap diantar. Ia datang siang hari dan membuktikan televisi bisa nyala seperti sedia kala. Sebenarnya Pak Halim tidak menyediakan jasa antar jemput, tapi ia melakukan itu karena kasian sama saya. Wah, sebenarnya enak juga sih, jadi tidak perlu bolak-balik. Kerjanya juga cepat. Sejauh ini saya pengalaman service saya positif. Dan beban jadi berkurang satu.

Oke, televisi, kamu sehat-sehat selalu ya. Jangan rusak lagi. Karena lumayan nih biayanya, bikin jadi hemat dan jadi mengurungkan niat beli ini-itu. Hiks.