Review Saksi Mata

Langsung saja ya. Habis sudah dipikir kalimat pembuka tulisannya, kok enggak muncul terus.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) kembali mewarnai malam-malam saya, mendongeng melalui dua kumpulan cerita pendek. Pertama adalah buku Atas Nama Malam dan kedua adalah Saksi Mata. Keduanya dipinjam oleh bandar buku langganan saya. Haha. Secara singkat, Atas Nama Malam memiliki tema yang beririsan dengan buku Matinya Seorang Penari Telanjang yaitu mengenai kehidupan malam, percintaan, dan kriminalitas. Oleh karena itu, buku pertama ini tidak terlalu berkesan buat saya. Tapi bukan karena alasan jelek lho ya. Bukunya, seperti biasa, bagus dan thoughtful.

Misalnya di cerita pendek Bis Malam, SGA bercerita tentang tokoh yang mengendarai bis malam tanpa tujuan bersama dengan orang-orang yang entah tidur atau mati. Mungkin cerita pendek ini bercerita tentang orang-orang ibukota yang menjalani rutinitas layaknya robot, pulang ke rumah di malam hari, tapi tanpa tahu untuk apa dia beraktivitas siang malam. Sebagai Jakartans, kok cerpen ini begitu relateable. :p

Dok. pribadi

Buku kedua yaitu Saksi Mata betul-betul menyisakan kesan yang mendalam buat saya. Cerita-cerita di buku ini terinspirasi dari Insiden Dili, yaitu pembantaian para mahasiswa pro-kemerdekaan di pemakaman Santa Cruz oleh tentara. SGA dibebaskan dari jabatan Redaktur Pelaksana sehubungan dengan pemberitaan insiden tersebut di majalah Jakarta Jakarta. Dengan semangat ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus bicara, maka muncul karya ini.

Dari 16 cerpen, ada dua cerpen yang paling berkesan buat saya yaitu Maria dan Kepala di Pagar Da Silva. Maria bercerita tentang seorang ibu yang menunggu Antonio, anaknya, setelah hilang hampir setahun akibat konflik. Ia selalu membuka pintu dan jendela rumahnya hingga malam sambil berharap sosok anaknya itu kembali. Ternyata, Antonio datang dengan muka yang sangat jelek akibat disiksa. Melihat hal tersebut sang ibu justru menolak kehadiran anaknya karena merasa tidak kenal.

Kemudian Kepala di Pagar Da Silva bercerita tentang anak Da Silva, yaitu Rosalina, yang dipenggal dan kepalanya ditancapkan di pagar rumahnya. Cerita ini diceritakan dari sudut pandang tetangga Da Silva sebagai orang ketiga. Mereka merasa jeri sekaligus kasihan karena Da Silva sudah kehilangan tiga anak lainnya dan seorang istri akibat ditembak. Da Silva adalah seorang aktivis dan tentara memberi tekanan dengan membunuh keluarganya.

Di malam hari, mereka tidak bisa keluar rumah karena tentara melakukan penjagaan dengan berkeliling. Di malam yang gelap itu, Da Silva mencari anaknya namun ia tidak melihat kepala anak tersebut di pagar. Dan kemudian, ending cerita ini justru membuat seluruh kisahnya jadi sangat sedih.

Wah, pokoknya kamu wajib baca buku ini. Saksi Mata adalah buku yang sangat powerful! Penuh dengan rasa sedih dari keluarga yang ditinggalkan, semangat perlawanan, dan kemarahan. SGA betul-betul bisa menuliskan dengan tajam. Dan ini jadi membikin saya ingin tahu apa yang terjadi mengenai tentang Insiden Dili. Setelah browsing, ergh, hasilnya mengerikan. Politik dan kekuasan yang memuakkan.

My New Favorites

Hai, pembaca budiman, dan terutama teman-teman yang sudah subscribe blog ini. Apa kabar? :)

Kabar saya baik, agak lelah, dan sudah beberapa bulan ke belakang merasa tidak fit. Mungkin karena lebih banyak beraktivitas fisik yaitu olahraga, mempersiapkan pernikahan sehingga harus bolak-balik Jakarta-Bandung, dan meluangkan pikiran untuk memikirkan hambatan-hambatan untuk menikah. Hambatan bukan secara teknis saja, tapi hambatan secara mental seperti kompromi dengan kepribadian pasangan juga hadir. Berhadapan dengan ketakutan-ketakutan dalam pernikahan seperti pengekangan, masalah ekonomi, hingga perselingkuhan yang umum ditemui kehidupan pernikahan orang yang saya kenal. Dan setahun belakangan hal ini betul-betul direbus hingga matang. Dilebur dan ditempa terus biar nanti jadi perhiasan emas yang baik.

Belakangan ini saya banyak melarikan diri pada buku atau menghabiskan malam sambil nonton YouTube. Ada dua hal yang saya sadari bahwa saya menemukan kesukaan baru yaitu video game dan make up. Sebetulnya kebiasaan nonton dua hal tersebut sudah lama, hanya sekarang makin intens. Saya senang sekali menonton orang yang lagi main game, terutama game yang story oriented seperti The Last of Us, Uncharted, Until Dawn, Catherine, The Last Guardian, dan banyak lainnya. Kesukaan pada video game ini bermula saat saya lihat seorang gamer bernama PewDiePie--yang belakangan lebih tepat disebut entertainer ketimbang gamer. Ternyata game itu seru juga karena ceritanya justru lebih seru dan lebih kaya daripada film, serta visual mereka sangat bagus.

Body care juga kesukaan. Simak videonya di sini.



Berikutnya adalah tentang kecantikan. Jadi saya senang lihat tutorial make up. Dulu seorang YouTuber bernama Michelle Phan semacam booming sekali. Saya senang lihat dia make up. Rasanya seperti menggambar di atas muka. Karena Michelle Phan sekarang sudah tidak aktif, saya lihat berbagai beauty guru lainnya seperti Tati dan Jeffree Star. Haha. Seru sih melihat produk make up tanpa harus membeli, melihat cara kerja produk tersebut, dan melihat skill pemakainya. Dan FYI, saya tidak reguler pakai make up. 

Terus sekarang orang lain suka usil bilang, "Wah Nia lagi lihat makeup untuk referensi nikahan." Please deh, I already watched it since two years ago. Atau "Wah Nia rajin olahraga buat persiapan nikah ya?" Waduh kayaknya saya sudah rajin olahraga sebelum kenal sama masnya deh. Enggak segalanya perlu dihubungkan dengan kawin-mawin. :)

Balik lagi ke topik utama, ternyata lucu juga menyadari bahwa kita menemukan hal-hal baru yang mulanya tidak akan kita tahu bahwa nantinya akan kita gemari. Dulu pengetahuan kegemaran saya paling hanya nulis dan buku, tapi sekarang berkembang. Bahkan kalau saya mau fokus di hal-hal baru tersebut bisa jadi ladang kerjaan yang baru, ya menulis skenario untuk game, jadi beauty reviewer. Mungkin ini bisa berguna untuk teman-teman yang belum menemukan passion-nya. Keep looking and keep exploring.