Natural Handmade Soap. Is It Gimmick?

I like handmade and natural thing. I appreciate all things made by hand because, in my opinion, it takes a lot of effort, quality and passion to create it. And I like natural thing because I believe nature provide us a medicine for every health problem. For an example, we can use lemon, honey, aloe vera or green tea to prevent acne.

I love using natural product for my bath time. Natural handmade soap usually free from sodium lauryl sulfate, artificial coloring and artificial perfume. It contains of coconut milk, coconut oil and distilled water to purify water. Purified water can increase the quality and lifespan of beauty product. If it is not purified, it sometimes become the culprit of skin irritation or other skin problems.

I've tried three soap bar from Indonesian brand Kippabuw, Seven Cactus and Germany brand Savon Vivere. Every soap has its pros and cons. For an example, rose soap from Savon Viver is more long lasting rather than the others, and the rose scent is strong though. Kombucha soap from Seven Cactus has a bigger size but I barely can smell the scent. And Kippabuw has a good looking colorful soap, some of their product has a strong smell but some of it has a subtle scent. And their soap products are not long lasting. My husband and I use it for three days in a row and it ran out now. Is it because the soap didn't dry enough when they first made it? Because soap needs to be dried at least one month.

It makes my bath experience more fun!

I have no problem with my body skin and I don't have any acne on my back. Is it gimmick? I don't see any significant result on my skin but one thing I know that my skin is not as dry as I use a regular soap. Regular soap always leave me a cracking feeling on my hands. Unfortunately I cannot buy the natural soap regularly since its price quite expensive. Heheh. But taking care of the skin should be fun. You can scroll on Instagram and there is a lot of soap artisans who create a good looking soap.

Please drop me a comment if you have any recommended natural soap. See ya!

Review Suara Dari Jauh oleh Arireda

Nama Arireda dikenal oleh saya saat membawakan musikalisasi puisi Sapardi. Itu juga saya tidak mendengarkan seluruh lagunya, tapi sebagian saja dan didengarkan selewat, tipikal lagu yang kita dengar jadi latar suara saat berada di kafe. Mengenal personilnya pun baru kemarin-kemarin ini yaitu saat saya datang peluncuran buku Aku, Meps dan Beps di Kineruku, Bandung. Reda Gaudiamo, penulis buku tersebut, merupakan anggota dari duo Arireda.

Pada suatu sore, sahabat saya berkunjung ke rumah. Seperti biasanya ia memperlihatkan barang-barang yang biasa ia bawa. Yang ia perlihatkan adalah buku Suara Dari Jauh dari Arireda yang berisi musikalisasi puisi-puisinya Goenawan Mohamad. Sebenarnya ini bukan buku, tapi ini sampul cd yang dibikin seperti buku. Puisi-puisi tersebut juga digambar dengan ilustrasi yang sangat niat. Ilustratornya adalah Ruth Marbun.

Ini yang membuat saya jatuh cinta pada sampul CD-nya.


Akhirnya saya punya kesempatan mendengarkan Arireda secara penuh dan utuh. Dari awal sampai akhir lagu. Musik mereka ya hanya terdiri dua orang yaitu Reda sebagai penyanyi dan Ari Malibu sebagai gitaris. Mereka menyanyikannya dengan mendayu-dayu seperti mendengarkan lagu zaman dulu. Karena lagunya mudah didengarkan, jadi ketika satu kali lagi diputar, saya jadi bisa menebak arah lagunya.

Saya membayangkan bahwa melakukan musikalisasi pada puisi pasti gampang-gampang susah. Berbeda dengan menulis lirik yang diciptakan dengan lagu dengan rima, bridge, atau chorus yang khusus dibuat untuk lagu, sementara puisi tidak. Pasti puisi dibuat dengan niat untuk dibacakan, bukan dinyanyikan. Mungkin ini juga yang dipikirkan Umar Muslim, penggubah lagu-lagu di Suara Dari Jauh, merasa memiliki tantangan memusikalisasikan puisinya Goenawan Mohamad karena memiliki banyak kata-kata yang tidak puitis. Dan mungkin ini juga berpengaruh pada Reda yang mengaku bahwa puisi Berjaga Padamukan Lampu-lampu Ini, Cintaku sulit untuk dinyanyikan karena melodi tidak lazim.

Mendengarkan lagu-lagu ini mengingatkan saya pada Payung Teduh. Enak, manis, dan romantis jika didengarkan tidak dalam satu album dan hanya sekilas saja. Tapi jika didengarkan dalam satu album utuh dan kepalang sering, hati bisa lesu dan terasa membosankan. In my very humble opinion, saya lebih suka membaca puisinya langsung ketimbang mendengarkannya. Mungkin sama seperti orang lebih suka membaca buku ketimbang menonton film adaptasinya. ;)

Selamat Datang di Dunia Pernikahan!

Pada bulan Januari lalu, saya melangsungkan pernikahan dengan si pacar. Mungkin di antara kalian sudah ada yang baca. Everything's went well. Sekarang kami masuk bulan ketiga pernikahan, yang berarti masih honeymoon phase, dan perjalanan masih sangat panjang.

Sama seperti pernikahan lainnya, kami sedang mengalami transisi, terutama untuk perencanaan keuangan, tempat tinggal, dan karier. Semuanya bersinggungan. Tujuan kami ya tidak long distance relationship seperti sekarang. Dia bekerja di Sumedang, saya kerja di Jakarta. Dan rumah kami di Bandung. Haha! Kami betul-betul mobile di tiga kota ini. Cinta yang sangat berat diongkos. xD

Meski transisi ini kadang bikin stres, banyak kebingungan, dan hal-hal yang belum kita ketahui jalan keluarnya, saya happily married. Saya merasa kualitas hubungan saya sama suami jauh lebih intens. Dan dia jauh lebih care--sangat. Kami bisa sharing segala kesusahan dan kegembiraan. Dia banyak sekali melakukan hal-hal manis seperti ikut menemani saat ibu saya diopname. Dan semoga saya berdampak positif pada kehidupannya ya. Haheuheu.

Melakukan kegiatan kegemaran kami: menjajal kopi.

Kehidupan perkantoran lebih challenging, selain jadi jurnalis, saya masih ngurus majalah yang adaa aja dramanya. Haha. Tapi ya diterima saja, karena saya ingin keluar dari zona nyaman, punya pengalaman lain, dan memperluas portofolio bikin majalah. Meeting yang dibatalkan secara mendadak, atau meeting yang tidak maksimal karena materi belum siap, serta berbagai telepon yang menuntut untuk segera balas, itu bikin enggak bisa mikir hal lain selain pekerjaan. Tapi pekerjaan mana sih yang enak? And I love it anyway. Writing and running a magazine is my passion. Someday I want to run my own media and take care this blog seriously. Amen to that!

Dari segala peran itu, beruntung saya masih bisa memelihara hobi yaitu eksperimen skin care. Selain buat centil-centilan, saya memang punya kebutuhan cari skin care yang tepat karena kulit (terutama wajah) bermasalah. Selain itu, saya memang suka dengan kesehatan tubuh dan produk-produk natural dan ramah lingkungan. Semua pengalaman saya ditulis di blog The Second Skin Journey. Silakan berkunjung yaa kalau kamu suka dengan skin care dan produk natural lainnya.

Di fase transisi dan kesibukan yang serba naik ke permukaan ini, saya baru tahu bahwa selain jaga kesehatan tubuh (I am still running and weight lifting two times in a week by the way) dan jaga kulit wajah, ada hal lain yang perlu diperhatikan yaitu kesehatan area area V. We often to think that it is enough just by clean it with water. Ternyata tingkat keasaman di daerah area V harus dijaga karena kalau tidak akan terjadi keputihan, gatal-gatal, atau bau. Ugh. Dan karena daerah area V sensitif, enggak bisa pakai sabun biasa.

Penyebab tingkat keasaman bisa karena berbagai macam seperti pakaian dalam sintesis, pakai celana yang terlalu ketat sehingga terlalu lembab, pakai panty liners setiap hari, pakai pembersih yang terlalu wangi, kertas toilet yang berwarna, stres, dan pola makan yang buruk. Jadi bukan karena kita jorok atau tidak pernah membersihkan ya. Tapi karena memang ada faktor luar yang mempengaruhi itu.

Saya coba Lactacyd Herbal. Saat mau coba agak deg-degan karena kulit di sekitar area V pasti berbeda dengan kulit lainnya. Tapi karena brand internasional ini memang sudah terpercaya membersihkan daerah kewanitaan, jadi saya coba. Bedanya sama Lactacyd biasa, Lactacyd Herbal punya kandungan sirih yang pastinya enggak asing buat kita yang tinggal di Indonesia. Karena sirih udah kayak bahan yang digunakan secara turun-temurun untuk mengesatkan.

Informasi lebih lanjut klik FB/Twitter Lactacyd_ID

Awalnya pakai pembersih ini, seru juga karena biasanya saya tidak pernah meluangkan waktu khusus untuk membersihkan area V. Karena kalau pakai Lactacyd Herbal, kita harus mendiamkan selama 30 detik supaya ekstraknya meresap. Cara penggunaannya, setelah mandi, saya tuangkan di telapak tangan sebesar ibu jari, lalu saya oleskan dan gosok ke vagina seperti pakai sabun biasa. Rutinitas ini harus dijalankan at least dua kali dalam sehari.

Ini enggak hanya digunakan saat vagina terasa kotor atau bau saja, tapi bisa digunakan setiap hari karena Lactacyd Herbal udah teruji secara dermatologis. Jadi, kalau lihat dari www.lactacyd.co.id, Lactacyd Herbal udah melalui uji klinis pada manusia pada tahun 2016 lalu dan sudah melewati riset konsumen dengan blind test alias tanpa merk/brand kepada konsumen pembersih kewanitaan.

Jujur, area V lebih enak setelah pakai Lactacyd Herbal, soalnya pembersih ini punya kandungan estrak sirih, estrak susu, dan estrak mawar. Sirih bisa melindungi kita dari penyebab gatal dan bau tidak sedap, susu bisa melembutkan kulit sekitar area V, dan mawar bikin harumnya tahan lama dan bisa merawat area V.

Katanya Lactacyd Herbal juga tersedia dalam kemasan wipe tissue. Sayangnya saya belum dapet nih. Kalau ada pasti lebih seru lagi karena kadang kalau liputan kan suka pergi ke tempat-tempat yang tidak terduga dengan kondisi air yang belum tentu bersih, jadinya pengin pakai wipe tissue-nya. Oh ya, enggak disarankan wipe tissue yang buat bayi lho. Karena wipe tissue bayi kan biasanya untuk membersihkan. Malah nanti bakteri baik yang ada di area V malah jadi ikut hilang.

Tersedia dalam berbagai ukuran. 

Daerah area V yang kesat dan harum malah bisa mengurangi beban pikiran tentang hal-hal pada diri yang harus diurus. Jadinya saya bisa fokus pada pekerjaan, membelah Jakarta untuk meeting dan liputan sana-sini (duh), dan menjalani hobi. Ya kalau berdampak positif pada suami anggap saja itu bonus lah ya. Hahaha. Daaan saya menyarankan ini dipakai sama orang yang belum menikah juga. Karena kesehatan itu enggak mandang status. Kita harus sehat selalu. Dan pakai Lactacyd Herbal, kamu bisa jadi apapun yang kamu mau.

Ya, intinya sih perjalanan masih panjang. Masih banyak rencana hidup yang ingin dilaksanakan dan ingin masa transisi pernikahan ini bisa dilewatin dengan baik. Karier dalam dunia penulisan juga tentunya pengin cari yang lebih baik dan deket rumah sehingga enggak perlu LDR lagi sama suami. Hehe. Wish me luck!

Acne Oil by Shoppasoap | Is It Magic?

On Instagram, there is a brand who is claim that every ingredients of their brand are natural and handmade process. No paraben, no chemical things. The testimonials from their clients are phenomenal! They say that they can see the result within a days. Acne, eczema, psoriasis, redness, scars, you name it.. the results are great! Most of them are healed. Wait until you see the screen capture from messenger about client's positive testimony. 

I am triggered and it piqued my curiosity. Because of Mineral Botanica Acne Serum doesn't work really that well, I decide to buy Acne Oil by Shoppasoap. The texture is kind of thick and it smell reminds me of herbal scent. I put it on the acne area before I sleep. I don't recommend to use it on daylight because this acne oil doesn't absorb easily to the skin so it will be greasy. You don't want your make up be messy, do you?

And all my acnes are diminished and red spots are fading. It is not entirely vanished but it does work well! Geez, what kind of sorcery is this?!



Shoppasoap sells two different kind of acne oil. First, acne oil for cystic and red acnes. Second, acne oil turmeric for zits. Unfortunately, there is no composition written on the packaging. But as I google it, I find that acne oil turmeric contains cold process infused carrier oil jojoba with neem leaf, turmeric, and comfrey leaf. And Shoppasoap also sells acne scar serum.

My acnes are both cystic and zits. I have zits most of the time and cystic only appears when I'm on my period. So I need a different treatment for my different acne problems. My cystic acne are gone for now but I still have a lot of acne scars. I think it will be work best if I use acne scar serum instead of continue using the acne oil. I think.

I like this product a lot. I definitely gonna repurchase this. But for your consideration, beside there is no ingredients on its label, this brand also haven't registered in BPOM (or Indonesian national agency of drug and food control). You choose. ;)

Mineral Botanica Acne Serum

Several years ago, I never heard the word 'serum'. I did not have any idea about it. But now I put serum in my skin regime. Since I am a big believer, I am sure that serum can treat my skin problems. Serum has smaller molecules that can penetrate deeply into the skin. And it delivers a very high concentration of active ingredients. So it is kinda magic in the teeny-tiny bottle!


There is a lot of serum in the market. I carefully choose them because most of their price are expensive. Then I chose Mineral Botanica Acne Serum, an indie nature friendly make up brand. First, I did research on it to find review how good is this product. Some people are impressed and got a good effect. Well, I decided to give it a try. The price is still affordable though, it is around Rp80.000.

I put Mineral Botanica Acne Serum after I double cleanse my face, right before I put moisturizer, in every morning (because vitamin C works best in daylight!). I like the texture, it is light, not sticky and it's absorb to my skin easily. It has a good scent but not a strong one. I read that some people can see the changes over a night. I put all over my face, including acnes on my cheek. But when I wake up, I find that my acne is not getting smoother. It is getting bigger instead! Is this serum has detox effect to stimulate the growth of acne?

I tried it for four days and there is no good effect for my acne. The acne is not getting smoother or smaller. But I can feel my face more dewy and brighter.

It is too soon to judge how a serum work in four days. Because serum takes four to six weeks to show the benefit. But I want the acne disappear soon, and then I decide to buy acne oil from Shoppasoap. I still put this serum on my face, excluding some acne area, and cover the rest with acne oil. It works better though.

As a conclusion, Mineral Botanica Acne Serum is good but it is not outstanding. But I still use it now to see the effect. I have several serum in my bucket list and can't wait to try and compare them. I'll give you the update!