Pasang Foto Anak di Media Sosial Juga Ada Aturannya

Designed by Freepik

Punya anak memang menggemaskan bagi sebagian orang. Rasanya sebagai orang tua, kita ingin berbagi perkembangan si anak kepada teman-teman di media sosial. Kadang excitement berbagi kisah anak ini membuat kita ingin posting apa saja; saat ia lagi makan, saat ia lagi sekolah, saat ia lagi berenang, bahkan ada yang beberapa kali saya temukan foto anak sedang mandi dengan alat kelamin yang disensor dan yang tidak disensor.

Kalau sering meluangkan waktu di televisi, mungkin kalian tahu bahwa Nafa Urbach sedang disibukkan dengan melapor akun pedofil yang memberi komentar foto anaknya di Instagram. Sebagai catatan, kalau tidak salah Nafa membuat akun tersendiri yang didedikasikan untuk pajang foto anak dan dibuka untuk publik. Mereka berkomentar 'loli'. FYI, loli merupakan kependekkan dari Lolicon atau Lolita Complex. Kata ini memiliki makna obsesi terhadap anak-anak di bawah umur atau anak-anak menjelang pubertas. Lantas Nafa menjadi berang anaknya jadi target pedofilia.

Beberapa bulan kemudian, ada berita yang menjijikan yaitu polisi menangkap administrator grup Facebook 'Official Candy's Groups' yang isinya orang-orang yang mengunggah foto anak dan bercerita tentang pengalaman seksual mereka dengan anak-anak. Bahkan mereka saling berbagi tips and trick cara mendapatkan anak kecil. Grup ini dijamin membuat semua orang tua mual.

Foto yang mereka unggah mungkin ada yang diambil dari media sosial dan ada yang diambil langsung. Media sosial berpotensi menjadi anak menjadi target para sexual predators. Dikutip dari website telegraph.co.uk (26/8), beberapa orang tua di Lancashire trauma dan mual ketika menemukan foto-foto anak mereka, yang diambil dari Facebook, berakhir di sebuah website pedofil di Rusia. Foto telanjang atau setengah telanjang anak-anak balita mereka disalin dan diunggah di situs luar negeri, bersamaan dengan foto-foto anak laki-laki dan perempuan yang menggunakan seragam sekolah atau gaun prom.

Oke, kita mungkin cukup sadar untuk tidak mengunggah foto anak yang sedang telanjang di media sosial. Kita cukup pintar meskipun tahu media sosial kita berisi teman-teman yang bisa dipercaya. Tapi apakah kita 100% yakin tidak ada orang asing di media sosial kita?

Langsung memutuskan untuk sama sekali tidak membagi foto anak juga rasanya sulit. Media sosial membuat kita ingin untuk update kehidupan kita, termasuk anak, karena kita senang dengan respon dengan keluarga atau teman yang jauh dari kita. Jadi, saya mau berbagi peraturan dalam membagikan foto anak di media sosial sebagaimana saya kutip dari website parenting.com;

1. Foto anak mandi
Telanjang atau setengah telanjang jelas bukan untuk konsumsi publik. Pikirkan moment yang kita pikir lucu ini jatuh ke tangan yang salah seperti pornografi anak.

2.  Foto ketika anak sakit atau terluka
Tugas kita sebagai orang tua adalah menjaga anak kita, bukan memanfaatkannya. Tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah kamu ingin orang lain mengunggah foto saat kamu sedang merasa payah? Mungkin tidak.

3. Foto yang memalukan
Pasang foto anak yang memalukan akan berdampak pendek dan panjang. Mempermalukan anak tidak hanya akan merusak kepercayaan antara orang tua dan anak, tapi itu bisa menyebabkan post-traumatic stress disorder, depresi, dan kecemasan di kehidupannya nanti.

4. Foto saat sedang di toilet
Saat anak sedang melakukan urusannya, sebaiknya tidak usah diunggah. Ingat, bahwa semua yang kamu unggah di internet itu akan selamanya ada di sana. Apakah kamu ingin anakmu melihat foto itu saat dia sudah besar?

5. Jangan sebar detail yang sifatnya privat
Hindari menyebarkan nama lengkap mereka, alamat, ke mana mereka pergi ke sekolah di internet. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan menggunakan informasi ini dan untuk tujuan apa.

6.  Foto bersama teman-teman
Nah, menurut saya hal ini tidak kalah pentingnya. Ketika kita foto anak kita dengan anak-anak lain, yakinkan dulu bahwa orang tua anak tersebut tidak keberatan bahwa foto anaknya juga turut menyebar di media sosial.

7. Melakukan kegiatan yang tidak aman
Kadang kita suka menyukai hal-hal yang dianggap tidak berbahaya dan dianggap menyenangkan, misalnya foto anak dipangku di balik kemudi saat kita sedang berkendara. Berbagi foto seperti ini secara online akan membuka kritik dan potensi masalah di kemudian hari. Jadi, ayolah, tidak usah menambah-nambah masalah.

Kita memang tidak bisa naif dengan kemajuan teknologi dan media sosial sebagai salah satu yang ada di dalamnya. Mungkin caranya mensiasatinya adalah menggunakannya dengan bijak dan tahu bahwa semua hal ada aturannya. Semoga hal seperti ini bisa mengatasi pornografi anak. Tentu kita ingin melindungi si buah hati.

Drama Trimester Kedua


Alhamdulillah kehamilan sudah masuk trisemester kedua. Saat saya menulis blog ini, usia kandungannya 19 minggu. Enggak terasa bahwa minggu depan usia kehamilan saya menginjak 5 bulan. Waktu terasa lebih cepat daripada saat awal usia kehamilan karena setiap hari bertanya-tanya "Wah lama sekali ya menginjak usia kandungan selanjutnya!"

Kandungan trisemester pertama saya relatif tidak rewel. Hanya mual sedikit, tidak ada muntah, tidak ada ngidam, tidak ada flek, tidak ada kram. Tapi mulai trisemester kedua mulai agak rewel yaitu sakit pinggang, sakit di bagian bokong, dan sakit secara psikis melihat badan mulai melar secara signifikan dan pakaian sudah pada tidak muat. Hahaha.

Sakit pinggang bermula ketika saya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor di sebuah akhir pekan. Tidak hanya ke Bogor, saya juga jalan-jalan ke Depok. Saya wara-wiri naik KRL dan banyak jalan. Memang saat itu tidak ada masalah. Tapi begitu hari Senin datang, wah kok rasanya sakit pinggang. Bahkan hingga sekarang. Hiks. Masalah sakit bokong juga baru datang belakangan. Karena pekerjaan saya banyak duduk, kadang ini menyiksa. Bahkan saya bawa bantal ke kantor. Ini juga tidak berdampak baik untuk mengurangi rasa sakit.

Nah, kalau masalah gemuk, ini sedih juga saat mencoba celana dan seragam kantor yang mulai agak sempit. Baju main pun terasa sempit. Teman-teman juga bilang kalau saya gemuk dibandingkan sebelumnya. Memang naik berat badan adalah hal yang wajar saat kehamilan. Tapi karena tahun lalu penurunan berat badan saya cukup fantastis dan menggembirakan, jadinya saya sedih dalam fase ini. Hahaha. Karena menurunkan berat badan itu perjuangan bo!

Tapi yang pasti sekarang jadi agak susah bergerak. Misalnya dari tidur, duduk, kemudian berdiri.. saya seperti jompo yang harus berdiri pelan-pelan. Kalau melihat orang yang tidak hamil dan tidak bisa bergerak bebas itu rasanya iri. Saya ingin fit lagi. Saya bertanya sama suami, "Kok banyak ya orang yang hamil berkali-kali. Karena rasanya tidak enak lho, kayak orang sakit dan butuh perhatian khusus." Apalagi saya jauh dari keluarga, mengurus semuanya sendirian. Walau sakit pinggang, harus angkat cucian, harus kerja, harus cari makan. Namun mengingat bahwa ibu mertua saya bisa melahirkan enam anak dan tidak pernah punya pembantu, saya harus banyak-banyak bersyukur. Dan banyak teman-teman saya yang mengandung anak kedua sementara anak pertama masih kecil, tidak punya pembantu, dan harus mengurus rumah sendirian.. itu pasti melelahkan.

Oke stop mengeluh. Untuk bisa fit lagi, kayaknya saya harus mulai olahraga lagi seperti berenang. Bahkan kalau bisa yoga hamil untuk meluruskan masalah pertulangan dan persendian. Huhu. Kalau badan sudah enak, ke depannya mungkin akan enak.

Kecemasan apakah saya mengonsumsi makanan sehat atau tidak juga tentunya masih ada. Kemarin saya ketemu dengan teman saya yang sama-sama lagi mengandung. Dia bilang dia sudah makan mie instan dari awal kehamilan. Saya terkejut karena saya tipe yang tidak makan mie instan selama hamil. Mau, tapi saya tahan. Terus dia bilang, "Elu jajan di luar juga banyak MSG-nya. Jadi kalau makan mie yang sama aja." Kemudian saya jawab, "Justru karena gue tahu banyak MSG, gue tidak mau menambah asupan MSG dari mie instan." Setelah pembicaraan itu, saya jadi cemas tentang asupan makanan saya. Sebagai anak kosan yang mengandalkan makanan warteg atau gerobak dorong, saya merasa sangat takut adik bayi tidak mendapatkan yang terbaik. Duh, dik bayi, kamu ambil nutrisi yang sehat ya. Yang tidak sehatnya buat mama saja.

Semua permasalahan itu sirna begitu kontrol dan USG ke dokter. Melihat si bayi pertumbuhannya sehat, aktif bergerak, dan semuanya dalam tahap normal itu membuat saya dada saya lega. Momen USG adalah momen yang paling saya tunggu-tunggu. Semoga semua selamat dan lancar sampai kelahiran. Semoga perkembangan jiwa dan raganya juga sempurna. Bahkan ketika si bayi sudah di luar. Amin!