Hitamnya Humor di Film Wild Tales (2014)

Kalau ingin merasakan sebuah ironi eksistensi manusia atau melihat sebuah kesengsaraan sebagai suatu hal yang absurd dibandingkan menyedihkan, film-film black comedy cocok buat kamu. Beberapa film black comedy yang saya tonton berhasil membuat saya terkekeh. Salah satunya adalah Sightseers (2012) yang sepasang kekasih yang saling menularkan kegilaan.

Kemarin, saya direkomendasikan oleh teman untuk menonton Wild Tales (2014). Wild Tales adalah sebuah kumpulan enam film pendek dengan rasa black comedy, memiliki tema kekerasan dan balas dendam. Walaupun temanya terdengar negatif, tapi sebetulnya film-film di sini begitu lucu.

Salah satu adegan di film Wild Tales

Pertama adalah film berjudul Pasternak. Film ini bercerita tentang semua penumpang pesawat yang tanpa diketahui saling mengenal seseorang bernama Pasternak. Semuanya memiliki kesamaan yang sama yaitu memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pasternak. Pesawat yang dikendalikan oleh Pasternak pun sengaja ditabrakkan ke rumah orang tua Pasternak.

Kedua adalah The Rats yang bercerita tentang seorang mafia yang berkunjung ke sebuah restoran. Pelayan di sana mengenali pria tersebut yang ternyata pernah menghancurkan keluarganya. Walaupun kesal, sang pelayan tidak berani melakukan balas dendam. Justru rekan pelayan tersebut yang membalaskan dendamnya.

Ketiga adalah The Strongest. Menurut saya ini adalah film paling lucu. Dua orang yang saling bersitegang saat menyetir mobil di jalanan melakukan duel untuk hal yang sebenarnya tidak perlu. Hahaha. Apalagi komentar polisi yang menemukan mereka di akhir cerita membuat film ini terasa ironis.

Kemudian Bombita menjadi film keempat. Film ini bercerita tentang seorang pria yang kesal karena mobilnya selalu kena derek dan harus membayar mahal akibat itu. Tidak hanya "dirampok" oleh pemerintah, ia juga mengalami beberapa kejadian yang tidak mengenakkan setelahnya. Karena kesal, pria tersebut memutuskan untuk ngebom tempat mobil derek. Namun justru tindakan ini memberikan konsekuensi positif pada kehidupannya.

The Proposal menjadi film yang pilu di posisi kelima. Film ini bercerita tentang pria yang dilobi agar mengakui kejahatan yang tidak ia lakukan, yaitu kecelakaan yang menewaskan seorang wanita hamil. Ending film ini benar-benar bikin terperangah.

Dan film terakhir, film keenam, yaitu Till Death Do Us Apart. Ini bercerita tentang seorang wanita yang melakukan balas dendam saat mengetahui bahwa suami yang baru dinikahinya tersebut mengundang wanita yang pernah tidur dengannya ke pesta pernikahan mereka. Saya suka bagaimana si penulis Wild Tales,  Dami├ín Szifron, membuat kekesalan wanita ini hiperbola dan dibuat segila-gilanya.

Sumber foto di sini

Secara garis besar, Wild Tales bercerita tentang ketidaksetaraan dan ketidakadilan di dunia dapat menyebabkan seseorang stres dan depresi. Dalam keadaan tersebut, beberapa orang bisa menahannya dan beberapa orang justru bisa meledak--seperti karakter-karakter yang ada di film yang berasal dari Argentina ini. Dan justru karakter tersebut tampak tidak tanggung-tanggung dalam meledakkan emosinya, dan justru menikmati saat hilang kendali atas diri.

Saya suka dengan film Wild Tales dan saya merekomendasikan kalian untuk menonton. Menurut saya ini film yang "gila". Dan meskipun film ini menampilkan kekerasan, namun kekerasannya tidak menganggu seperti film A Clockwork Orange (1971) yang setelahnya menimbulkan kesan tidak enak di hati. Wild Tales menawarkan tawa anjrit-hidupnya-gitu-amat-yak, menampilkan emosi-emosi gelap manusia seperti balas dendam, dan menunjukkan bahwa manusia memiliki keinginan yang disimpan diam-diam bahwa andai saja kita bisa mengeluarkan emosi secara blak-blakan; tanpa takut, tanpa batas.

Menyimpan dan Memunculkan Ingatan

Segala pengalaman dan peristiwa yang diterima oleh panca indera pasti akan tersimpan pada ingatan--secara sadar atau tidak sadar. Untuk yang gemar musik, kita akan mengingat sosok musisi, konser, atau peristiwa seperti kematian musisi yang disayangkan banyak orang seperti Kurt Cobain atau Amy Winehouse. Untuk yang gemar seni pun demikian; kita mengingat sosok seniman, karya-karya yang ditampilkan di pameran yang telah diselenggarakan, dan peristiwa lainnya.

Khusus untuk seni, ingatan tersebut masuk ke dalam memori artistik. Memori artistik bisa simpan atau digali agar bisa muncul kembali. Nah, menyimpan dan memunculkan memori artistik ini menjadi latar belakang kurator pameran seni berjudul re-emergence (2017) yaitu Agung Hujatnikajennong. Agung meminta para seniman untuk mengingat perjumpaan artistik yang bermaka sepanjang hidup para seniman. Mereka saling berdiskusi. Nama-nama seniman lain yang muncul diingatan berasal dari berbagai konteks tempat dan masa: Agus Suwage, Andry Moch, Jompet Kuswidananto, Mella Jaarsma, S. Sudjojono, dan lainnya.

Hasil menyimpan dan memunculkan memori artistik tersebut bisa dilihat di pameran re-emergence yang digelar di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS). Pameran ini berlangsung dari 16 September 2017 hingga 22 Oktober 2017. Jadi, pameran berlangsung masih lama yaa. Kalian ada kesempatan untuk datang. Saya, suami, dan sahabat sudah datang ke re-emergence yaitu saat pembukaan pameran pada 16 September lalu. Hasilnya, kenyang!

Bagaimana tidak kenyang? Pameran ini menampilkan 30 karya seniman. Seniman-seniman ini pernah mengikuti pameran dua tahunan Bandung New Emergence. Karya-karya mereka tersebar luas di seluruh ruang pameran SSAS. Pokoknya siapkan tenaga dan pikiran yang lapang untuk bisa menikmati karya-karya seni ini.

Karya-karya seni yang ditampilkan beragam, dari lukisan, video, patung, instalasi, hingga pertunjukkan seni (tapi yang ini sepertinya hanya pada saat pembukaan saja). Bagi saya, ide yang ditampilkan begitu segar, jadi tidak akan bosan melihatnya.

(After) a Myth or Not karya Maharani Mancanagara

Lupa dicari tahu namanya. :D

Sleep for Peace karya Agugn (dan ketiga lukisan di belakang)

Gejolak Nikmatna Dunya Saharitaeun karya Mufti Priyanka

Gejolak Nikmatna Dunya Saharitaeun karya Mufti Priyanka

Dari semua karya, mungkin karya dari Sekarputri Sidhiawati menjadi karya favorit saya, suami dan sahabat. Alasannya karena witty, cenderung ironi, dan begitu dekat dengan keseharian. Hahaha.

My compedium of being (Ringkasanku tentang Menjadi) karya Sekarputri Sidhiawati

My compedium of being (Ringkasanku tentang Menjadi) karya Sekarputri Sidhiawati

My compedium of being (Ringkasanku tentang Menjadi) karya Sekarputri Sidhiawati

Kalau balik lagi ke tema menyimpan dan memunculkan ingatan. Kita bisa mengetahui ingatan khusus apa yang dimiliki oleh seniman tersebut sehingga ia menghasilkan sebuah karya yang ditampilkan di re-emergence. Hal seperti ini bisa diketahui pada saat artist talk yang diadakan pada 23 September dan 13 Oktober 2017. Salah satunya ada Muhammad Ziqo Albaiquni yang akan membicarakan S. Sudjojono. Mungkin Sudjojono-lah yang menginspirasi karyanya. :D

The Secret Knowlegde of The Backyard karya Muhammad Zico Albaiquni
Datang ke pameran saat pembukaan memang memiliki kesan tersendiri daripada jika datang saat pameran sudah berlangsung. Kita bisa melihat senimannya atau pertunjukkan seninya. Kekurangannya satu yaitu suasana ruang pamer jadi penuh sehingga banyak distraksi, kesannya terburu-buru, dan stimulus yang kita terima jadi berlebihan (karena melihat banyak orang).

Walaupun saya bukan seniman, saya juga memiliki memori artistik. Mungkin tidak seperti mereka yang menerjemahkan kembali melalui karya seni, saya hanya bisa mengeluarkan sesuatu yang saya bisa yaitu tulisan. Kalau kamu memunculkan ingatan melalui apa?

Membaca Skala, Mengartikulasikan Makna

Mendengar kata "skala", biasanya terbayang sebuah ukuran. Tapi bagi Rizki A. Zaelani dan Asikin Hasan, dua orang kurator seni, "skala" tidak hanya sekadar membandingkan jarak, melainkan menerjemahkan secara jelas makna dari hal-hal secara mental dan konseptual. "Skala" ini dijadikan tema dari pameran Trienal Seni Patung Indonesia yang ke-3.

Karena penasaran dan sudah lama tidak pernah main ke galeri, saya dan teman saya memutuskan untuk pergi ke Galeri Nasional. Di sini terdapat 46 pematung Indonesia yang beberapa saya kenal seperti Asmudjo, Nyoman Nuarta, Sunaryo, dan Eko Nugroho.

Seperti yang ditulis di atas bahwa pameran ini bermaksud untuk mengartikulasikan makna dari hal-hal yang ada di sekitar itu maksudnya kenangan dan imajinasi tentang budaya yang kita hidupi. Tidak hanya bersifat materi seperti kumpulan objek, barang, atau benda-benda, kebudayaan merupakan aneka kejadian dan pemahaman individu terhadap sesuatu yang terus berubah. Seni patung menjadi produk kebudayaan yang dapat menangkap bentuk budaya yang bersifat hidup.

Jujur, melihat karya 46 pematungnya ini saya tidak sepenuhnya mengerti. Saya juga tidak berusaha menduga-duga kenangan dan imajinasi apa yang coba ditangkap oleh para pematungnya. Jadi, saya mencoba menikmatinya saja, membayangkan proses kreatif para pematung atau cara pembuatannya secara teknis. Ada beberapa yang suka, ada yang tidak. Ini dia beberapa contoh karya yang ditampilkan di sana.

Pengembala Negri karya Wilman Syahnur

Chinese God of War karya Ichwan Noor

Savage Orchid karya Nus Salomo

Mengukur Lebur karya Budi Kustarto

Expectasi Hurup karya Nardi

Gerak Sunyi karya Putu Sutawijaya

Beberapa karya yang saya suka adalah "Chinese God of War" yang tampak keren, kokoh, mudah dimengerti maksudnya, dan sangat rinci. Orang yang berpendar sambil memegang tangga pada karya "Mengukur Lebur" juga menarik dan tampak modern--walau saya tidak mengerti maksudnya, juga karya "Gerak Sunyi" yang menurut saya sangat indah, terutama refleksi bayangannya.

Tapi dari semuanya, mungkin karya yang paling saya suka adalah Pengembala Negri. Alasannya sederhana: mengingatkan saya pada sosok presiden yang saya idolakan. Sangat relatable. Hehe. Patung putih begitu bagus ketika terlihat kontras dengan latar belakang warna hitam. Dan meja domba-domba yang diletakkan di atas meja terlihat seperti sebuah perjamuan.

Namun sayangnya melihat karya-karya yang jumlahnya banyak ini tidak membuat jiwa saya yang kering merasa puas atau kenyang. Setelahnya tidak menimbulkan perasaan menyenangkan seperti saat saya menghadiri pamerannya Agus Suwage dan Raden Saleh. Ya, pengalaman berbeda-beda dan tidak semestinya dibanding-bandingkan. Dan seharusnya kita datang ke artist talk-nya untuk tahu makna-makna yang mereka tangkap.

Jika kamu tertarik, kamu bisa mendatangi Galeri Nasional yang letaknya di depan stasiun Gambir. Pamerannya berlangsung sampai tanggal 26 September 2017. Siapa tahu kamu bisa mendapatkan artikulasi makna yang dimaksud oleh pematungnya. :)

Sakit Pinggang? Berenang, Yuk!

Pada bulan lalu, saya menulis tentang hal yang saya alami saat masuk ke trimester kedua yaitu tentang sakit pinggang akibat jalan terlalu jauh. Sakit pinggang yang lumayan nyeri itu saya rasakan selama hampir dua minggu. Saya tidak bisa membungkuk, tidak bisa mengangkat hal yang berat (bahkan ember cucian), dan kesulitan bangun dan jalan dari duduk--saya harus bangun dan diam sebentar.

Ada yang bilang saya harus pijat di mom and baby spa dan ada yang bilang saya harus olahraga senam, yoga, dan renang. Jadi, selama itu saya mencoba beberapa kegiatan. Yang pasti saya tidak melakukan pijat di mom and baby spa karena mahal. Hehe. Jadi, pertama adalah saya melakukan peregangan di pagi hari. Saya melakukan peregangan dari kepala hingga kaki, walaupun fokusnya di pinggang. Pinggang saya putar-putar ibarat penyanyi dangdut. Hehe. Rasanya sakit, oleh karena itu saya melakukannya pelan-pelan tapi konsisten setiap pagi.

Kedua, dulu saya pernah ikut yoga, sekarang sudah tidak lagi. Rencananya saya akan yoga saat kandungan menginjak usia 7 bulan. Saya ingat beberapa gerakan. Saat sakit pinggang, saya sering melakukan gerakan child pose dan downward dog. Di situ punggung dan pinggang saya benar-benar meregang, rasanya sakit-sakit tapi melegakan gitu. Hehe. Begitu juga kalau shalat. Saat rukuk, saya panjangkan punggung saya. Itu juga bikin pinggang terasa enak.

Melakukan kedua hal itu membuat sakit pinggang saya terasa berkurang. Saya dan suami pun mulai jalan kaki di dekat rumah di sore hari. Sepulang jalan kaki, saya merasa sakit pinggang lagi, walau tidak senyeri di awal. Kayaknya saya memang kurang cocok jalan kaki. Hehe. Maka langkah ketiga, saya mencoba olahraga lain yaitu berenang. Saya berenang di Hotel Citarum Bandung dan di kolam renang Prisma Jakarta. Btw, kolam renangnya recommended! Hasilnya lebih enak di badan ketimbang saya jalan kaki. Atau mungkin karena saya memang doyan renang dari dulu. Heheu. Selain seluruh badan jadi enak, pinggang juga tidak sesakit kalau jalan jauh.

Renang malam di kolam renang Prisma, Meruya, Jakarta Barat. 

Happy feet!

Kolam renang outdoor di Hotel Citarum, Bandung. Awas kulit menghitam.

Dan keempat, saya konsultasi ke dokter kandungan tentang masalah sakit pinggang ini yang sebenarnya sudah baikkan. Dokter bilang sakit pinggang pada saat hamil itu wajar karena tubuh butuh kalsium. Wah, saya merasa sudah sering makan pisang dan susu yang kaya akan kalsium, tapi ternyata masih kurang juga. Oleh karena itu, dokter memberi saya suplemen kalsium. Tabletnya dikunyah, teksturnya seperti kapur, dan rasanya anggur. Enak.

Dok. Pribadi

Perpaduan antara olahraga dan makan tambahan kalsium pokoknya oke banget deh. Kemarin saya jalan kaki lagi, tapi pinggang saya tidak nyeri setelahnya. Buibu yang hamil pemula seperti saya, wajib melakukan ini ya!

Oh ya, ngomong-ngomong tentang suplemen, sekarang saya makan Blackmores Pregnancy & Breast-Feeding Gold. Suplemen ini sedang hype sekali dan teman-teman saya juga banyak yang menganjurkan, makanya saya beli. Kalau kata dokter, kandungan Blackmores kurang sehingga saya harus makan ini dua kali dalam sehari (petunjuk penggunaan di botolnya memang segitu sih). Multivitamin dari Australia ini sudah masuk di Guardian. Saya beli di Guardian Lippo Mall Puri Jakarta, harganya Rp195 ribu. Kata temen saya, kalau beli di Guardian Bandung harganya bisa lebih murah sekitar Rp160 ribuan. Hiks. Isinya 60 tablet, jadi bisa dikonsumsi selama sebulan.

Bahkan ada temen yang pengin hamil lagi demi nyoba ini. Hihi. Dok. Pribadi.

Di luar topik sakit pinggang, mungkin ada yang kontra dengan penggunaan suplemen yang tidak alami. Mereka memilih untuk mendapat kandungan asam folat, DHA, minyak ikan, zat besi, kalsium dan lainnya itu dari makanan asli seperti buah, ikan, atau bayam. Karena saya anak kos yang makannya seada-adanya, kayaknya saya butuh asupan multivitamin tambahan dari dokter. Idealnya sih ya pengen serba natural. Tapi kalau dari makanan, saya takut kekurangan.

Tujuannya cuman satu yaitu si jabang bayi sehat, lahir sempurna, dan tidak ada masalah apapun. Semoga ya. Sekarang ini jabang bayi lagi aktif-aktifnya gerak di perut, terutama di malam hari. Kalau sudah gerak-gerak, bawaannya inget lirik lagu Savage Garden yang bunyinya "I knew I loved you before I met you." Wkwk. Semoga nanti kalau sudah lahir tidak nocturnal seperti ibu dan bapaknya. :)

Over Idolizing

Foto natanaelginting / Freepik

Beberapa hari lalu, santer banget dengan berita menikahnya pasangan selebritis Raisa dan Hamish. Raisa adalah penyanyi solo terkenal Indonesia, karena suaranya yang bagus dan wajahnya yang cantik. Hamish adalah presenter dan aktor yang maskulin dan wajahnya rupawan. Raisa banyak digandrungi oleh para pria, Hamish banyak digandrungi oleh para wanita. Ketika keduanya menikah, maka warganet membuat tagar Hari Patah Hati Nasional yang cukup membuat gegar dunia per-media-sosial-an.

Ish, enak aja bawa-bawa kata nasional. Situ kali yang patah hati, gue mah enggak.

Saya suka suaranya Raisa, menurut saya bagus. Tapi apakah ia begitu sempurna sampai bisa membuat orang-orang patah hati? Saya kira tidak. Bahkan pernikahan mereka banjir dengan komentar 'terpotek' karena banyak yang bersedih, foto mereka diunggah di mana-mana, kisah percintaannya pun diulas terus-menerus. Aih, sebegitunya?

Pengidolaan terhadap seseorang bukan hanya pada kasus Raisa dan Hamish. Banyak dari kita yang mengidolakan artis, penulis, penyair, atau musisi. Kalau sebatas wajar menyukai karyanya ya tidak masalah. Tapi kalau ikut baper atas kehidupan personalnya, ikut patah hati jika mereka punya pasangan, menurut saya sih ini sudah enggak wajar.

Sekarang social media influencer adalah sebuah pekerjaan yang sedang naik daun. Sebagai pengguna YouTube, saya jadi tahu beauty influencer dari dalam atau luar negeri yang sedang naik di YouTube. Komentar para penontonnya pun sama saja seperti "aduh cantik banget sih, kak", "kakak sempurna banget", atau yang bikin mengerenyitkan dahi adalah saat komentar "this is my relationship goal" kepada social influencer bernama Awkarin pasang foto kelewat mesra dengan pacarnya di Instagram menyeruak. Ah, serius, itu yang kamu jadikan tujuan dalam hidup? Menurut saya ini sudah menjurus pada pengidolaan terhadap seseorang yang berlebihan.

Lalu kenapa sih seseorang yang kita idolakan itu seperti tidak ada celanya?

Kalau mengutip dari website psychologytoday.com (29/12/2009), penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang memiliki kemampuan yang baik dalam satu area, misalnya Raisa yang pandai bernyanyi, cenderung mengirimkan persepsi ke area lain (semacam halo effect). Jadi, selain menganggap Raisa pintar menyanyi, kita jadi menganggap Raisa adalah orang yang ramah, orang yang pintar, atau apapun yang memiliki kebaikan lainnya. Oleh karena itu, kita jadi menganggap Raisa ini adalah sosok yang sempurna.

Menurut saya, pengidolaan terjadi karena kita perlu mengisi hal-hal yang dirasa kurang dalam diri kita. Kalau kata Rani Agias Putri, dikutip dari website psychology.binus.ac.id (07/06/2015), salah satunya adalah kita butuh idola untuk meningkatkan self-esteem kita. Kalau kita memiliki idola, kita akan mengintroyeksikan ke dalam dirinya nilai-nilai atau hal-hal yang melekat pada diri idola, sehingga otomatis akan meningkatkan penilaian positif terhadap diri kita sendiri. Kita jadi merasa bangga dan percaya diri karena mirip dengan sang idola.

Bahkan, sebuah penelitian oleh Maltby (2004) di website psychcentral.com, mengatakan bahwa pengidolaan selebritis yang begitu intens itu berhubungan dengan kondisi kesehatan mental yang rendah, khususnya kesehatan secara umum seperti depresi, kecemasan, symptom somatis, disfungsi sosial, stres, serta kurangnya kepuasan terhadap hidup.

Pengidolaan memang jadi baik jika kita bisa mengambil sari-sari positif orang tersebut. Tapi kalau pengidolaan yang berlebihan membuat kita bersikap berlebihan dalam kehidupan nyata, ikut mem-bully di media sosial jika idola kita berselisih dengan orang lain.. wah, sebaiknya kita periksakan diri. Jangan-jangan kita memiliki "pekerjaan rumah" yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Ingat, media adalah tempat yang begitu manipulatif. Orang bisa mencitrakan diri sebaik-baiknya di media. Selebihnya, selebritis hanya manusia biasa, sama seperti kita.


Sumber:
Psychology Today, Binus, dan Pscyh Central.