Melting Pot Para Seniman Sedunia

Terbayang tidak rasanya jadi orang kaya yang memiliki 800 karya seni nasional dan internasional? Haryanto Adikoesoemo adalah orang beruntung itu. Dari ratusan karya seni koleksinya, ia memamerkan 90 karyanya di sebuah museum yang ia dirikan yaitu Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum MACAN). Museum ini berada di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dan baru dibuka pada tanggal 7 November lalu.

Pertama kali saya kenal Musem MACAN karena Aaron Seeto, Direktur Museum MACAN, hadir di acara pembukaan pameran re-emergence di Selasar Sunaryo Art Space yang saya hadiri saat itu. Saya pikir kok namanya lucu yaitu "macan". Mulanya malah saya kira museum ini tentang binatang. Dan saat browsing, kok museum ini dekat dengan tempat tinggal saya tapi saya tidak pernah tahu keberadaannya. Jadi semakin penasaran dong ya. Namun setelah lihat Instagram-nya, saya jadi bingung ini sebetulnya museumnya sudah buka atau tidak. Kok terlihat segmented dan eksklusif.

Hingga akhirnya atasan saya mengunggah sebuah foto di group WhatsApp kantor. Ternyata ia sedang menghadiri pembukaan Museum MACAN. Wah! Pantas saja Instagram Museum MACAN terlihat membingungkan, ternyata memang belum dibuka untuk umum. Saya jadi browsing lebih lanjut tentang museum ini. Ternyata museum ini mengenakan tiket masuk yaitu Rp50 ribu untuk umum. Karena terbiasa masuk gratisan ke berbagai galeri di Jakarta, saya jadi merasa tiketnya lumayan mahal yaa. Hehe. Eh, syukurnya atasan saya berbaik hati memberikan tiket masuk :D

Ok, stop curhat. Mari balik lagi ke Museum MACAN.

Rupanya Haryanto sudah mengumpulkan karya seni semenjak 25 tahun yang lalu. Koleksinya tersebut dikurasi oleh Agung Hujatnikajennong dan Charles Esche sebagai ko-kurator. Kalau Charles Esche, pengumpulan karya seni ini bermula dari penempatan koleksi Indonesia di posisi sentral dalam narasi pameran dan menariknya ke luar ke arah internasional. Jadi, museum ini lengkap sekali karena menampilkan karya 70 seniman dari berbagai negara di Asia, Eropa dan Amerika. Senang!


Suasana di dalam Museum MACAN.

Berkunjung ke Museum MACAN menawarkan pengalaman baru untuk saya karena ada beberapa nama terkenal yang saya ketahui seperti S. Sudjojono dan Raden Saleh tapi lukisannya belum pernah saya lihat sama sekali (ya iyalah, namanya juga koleksi pribadi). Padahal saya sudah pernah ke pameran tunggal Raden Saleh di Galeri Nasional lho. Seru saja, jadi ada referensi baru. Dan yang lebih menarik adalah di sini banyak karya Indonesia yang belum pernah dipamerkan secara publik, termasuk karya Sudjana Kerton, Miguel Covarrubias, Trubus Soedarsono, dan Nashar. Begitu pula karya-karya seniman internasional yang belum pernah ditampilkan di Indonesia, termasuk karya Robert Rauschenberg, Park Seo-Bo, Mark Rothko, Gerhard Richter, Damien Hirst, dan Yukinori Yanagi.

Karya-karya seni dikategorikan menjadi empat bagian tematis berdasarkan periodenya yaitu Land, Home, People; Independence and After; Struggles Around the Form; dan The Global Soup. Di sini juga bisa dilihat bahwa karya para seniman dipengrahui oleh gerakan sosial dan politik pada saat itu. Misalnya S. Sudjojono yang melukis laskar pejuang yang sedang "ngaso" atau istirahat di antara reruntuhan bangunan atau Dullah yang melukis Bung Karno.

Ngaso karya S. Sudjojono
Bung Karno di Tengah Perang Revolusi karya Dullah

Kalau saya lebih senang melihat lukisan-lukisan baru. Alasannya sederhana yaitu temanya lebih segar, lebih relevan dan lebih banyak warna. Hehe. Misalnya saya suka sekali dengan lukisan Jean-Michel Basquiat, hampir berteriak saat lihat lukisan Andy Warhol pertama kalinya karena dia itu kan legend dan baru lihat karyanya di depan mata, serta lukisan fenomenal I Nyoman Masriadi. Mengapa fenomenal? Karena karyanya Man from Bantul (2008) terjual empat kali dari perkiraan di sebuah lelang di Hong Kong!

Portrait of Madame Smith karya Andy Warhol
LF karya Jean-Michel Basquiat
Juling karya I Nyoman Masriadi

Yang saya suka dari karya Masriadi adalah ia menggambarkan manusia dengan unik, wajahnya digambarnya dengan hiperbolis, dan mengingatkan pada gambar komik, animasi, serta game digital. Selain itu, karya Juling sangat merepresentasikan keadaan sekarang yaitu orang-orang sangat fokus dengan gadget yang dimiliki.

Tentu yang paling digemari oleh para pengunjung adalah Infinity Mirror Room karya Yayoi Kusama. Antreannya menggila. Setiap orang boleh masuk satu per satu dan diberi waktu selama 40 detik untuk foto di dalam. Saya tidak sempat masuk karena kaki sudah tidak kuat berdiri. Padahal biar bisa pamer dan eksis kan di Instagram. Hihi. Ya sudah, akhirnya saya foto patung karya Yayoi yang berjudul Tulip With All My Love.

Karya Yayoi khas dengan pola polkadot dan permainan warna yang kontras.

Saya senang bisa datang ke Museum MACAN karena saya dapat banyak referensi dalam satu tempat. Tidak hanya seniman dalam negeri saja, saya bisa melihat karya seniman luar negeri. Sayangnya kunjungan saya sangat terganggu dengan orang-orang yang datang untuk selfie, menjadikan lukisan sebagai photo booth sehingga saya harus mengalah atau menunggu mereka selesai foto (tapi seringnya saya cuek bablas bodo amat masuk frame). Bahkan saya diusir secara harus "permisi, mbak" karena dia mau foto di lukisan yang saya tengah lihat, atau diganggu minta tolong foto sebuah kelompok saat saya sedang istirahat. Meh. Semua orang berlomba-lomba untuk terkenal demi meniti karier sebagai model dengan Instagram sebagai agensinya.

Karena yang mengesalkan adalah mereka melakukan selfie tidak sebentar. Foto dari depan, dari belakang, pura-pura pegang handphone, pura-pura jalan. Belum lagi sengaja memakai baju terbaik. Sebagai catatan, lokasi serta harga tiket masuk menyaring pengunjung yang datang ke Museum MACAN, bukan tipikal anak sekolahan menengah atau menengah ke bawah yang biasa saya lihat kalau berkunjung ke Galeri Nasional. Jadi, orang-orang yang terlihat educated dan mampu secara finansial jika dilihat berdasarkan penampilan, ternyata perilakunya norak juga.

Eh, kok negatif amat, sis?

Anyway, sebelum saya pulang, saya menemukan sebuah ruangan yang ditujukan untuk anak-anak. Ruangan ini bernama Ruang Seni Anak, karya Entang Wiharso. Ruangan dihias dengan karya yang sangat bagus, unik, dan warna-warni. Sayangnya saat itu penuh sekali sehingga masuk ke sana terasa menyesakkan.



Museum MACAN adalah salah satu museum yang wajib dikunjungi kalau kamu di Jakarta. Supaya lebih bisa menikmati tanpa gangguan orang selfie, sebaiknya datang di hari dan jam kerja ya. Hehe. Dan walaupun museumnya tutup pukul 19.00, Infinity Mirror Room ditutup pukul 17.00. Jadi, bersiaplah!

Prenatal Yoga atau Senam Hamil?

Calon ibu yang mengandung anak pertama seperti saya pasti mengalami kebingungan. Di tiga bulan pertama, biasanya bingung makan apa saja yang baik dan tidak untuk bayi, bingung memilih dokter, membatasi aktivitas, dan bingung membawa diri karena badan serba enggak enak (seperti mau sakit flu yang tidak kunjung sembuh, hehe). Tiga bulan kedua biasanya mulai menikmati, merasa unstoppable meskipun sedang hamil, mulai memakai minyak untuk mencegah strecth mark. Dan di bulan ketiga kembali bingung seperti harus mengambil keputusan terakhir rumah sakit atau dokter untuk persalinan, persiapan biaya, persiapan perlengkapan bayi, hingga persiapan pengetahuan tentang persalinan dan bayi.

Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang stres yang dialami saat memasuki trimester ketiga. Hal yang belum saya bahas adalah pengetahuan tentang persalinan, menyusui, dan cara merawat bayi yang harus diketahui. Pengetahuan ini memang sebaiknya dipelajari di bulan ketiga. Alasannya ialah agar tidak lupa. Hehe. Hal yang diingatkan oleh teman-teman saya ialah saya harus mengetahui tentang laktasi--karena biasanya hal ini yang dilupakan oleh para ibu-ibu.

Salah satu usaha untuk mendapatkan semua pengetahuan itu, saya mengikuti dua kelas yaitu prenatal yoga dan senam hamil. Ada calon ibu yang bingung memilih kelas yang mana. Nih, saya ceritakan pengalaman saya mengikuti keduanya ya.

Saya ikut kelas prenatal yoga di RS Grha Bunda, Bandung, setiap hari Sabtu pukul 10.00 sampai pukul 12.00 karena saya libur kerja di hari itu. Bagi yang tidak kerja, kelas tersedia di hari kerja kok (lihat Instagramnya saja ya). Enaknya prenatal yoga di sini adalah pasien dari luar rumah sakit itu boleh bergabung. Biayanya murah yaitu Rp35 ribu saja. Tempatnya bersih, luas, dan terang. Calon ibu tidak usah bawa yoga mat karena sudah disediakan di sana. Tidak perlu pendaftaran sebelum hari H. Cukup daftarkan diri di hari H. Agar tidak kepenuhan, datangnya harus lebih cepat ya.

Prenatal yoga di RS Grha Bunda, Bandung

Sebelum yoga, saya harus daftar. Nanti suster akan mengukur tensi dan memberikan kartu untuk tahu record kedatangan untuk pendatang baru. Kemudian saya taruh tas dan sepatu di rak yang sudah disediakan, memilih matras, dan menunggu suster datang untuk mengecek detak jantung janin. Dan prenatal yoga akan mulai kalau instruktur sudah datang deh.

Karena saya pernah ikut athlete yoga pada saat sebelum hamil, gerakan prenatal yoga tentu tidak berat dan membuat diri gombyos oleh keringat. Prenatal yoga benar-benar menekankan pada nafas dan kekuatan otot. Beberapa gerakan juga menggunakan alat bantu booster dan block busa sehingga kita tidak terlalu meregang secara maksimal seperti yoga biasa, hehe. Gerakannya juga fokus pada daerah panggul dan sedikit di daerah dada. Daerah dada harus dilatih juga agar otot payudara kuat menahan payudara yang nanti akan membesar karena air susu. Sesekali, instruktur yoga juga menyelipkan afirmasi positif untuk mensugesti kita agar positive thinking.

Tadinya saya mau ikut kelas prenatal yoga di Jakarta. Tapi karena rumah sakit dekat tempat saya yaitu RS Pondok Indah Puri Indah hanya membuka kelas prenatal yoga untuk pasiennya saja, dan biayanya cukup mahal yaitu sekitar Rp120 ribu, jadinya saya tidak bisa ikut. Beruntung di rumah sakit lain yang tidak jauh dari tempat saya membuka kelas senam hamil. Akhirnya saya ikut kelas senam hamil di RS Grha Kedoya, Jakarta, di hari Sabtu pukul 09.00. Harganya sangat murah yaitu Rp30 ribu. Saya sampai kaget kok di Jakarta masih ada kelas senam hamil yang murah, hehe.

Ternyata murah bukan berarti murahan lho ya. Karena saya baru pertama kali ke sini, saya terkejut juga melihat rumah sakitnya yang bagus, ruang senam dan matrasnya yang bagus. Dan setelah mengikuti sesi senamnya juga saya puas (pakai BANGET). Instruktur senamnya mengajar on time, gerakan yang diajarkan banyak dan tentunya berbeda dengan gerakan prenatal yoga, dan setelahnya diberikan edukasi tentang cara memberikan ASI dan cara merawat bayi. Edukasi ini tidak saya dapatkan di kelas prenatal yoga.

Saya juga senam yoga di RS Borromeus, Bandung. Saya ambil setiap Sabtu pukul 08.30. Harganya juga murah hanya Rp30 ribu tapi saya dapat makanan pagi yaitu bubur kacang ijo, merchandise, dan edukasi kesehatan. Beda sama materi edukasi di RS Grha Kedoya yang sama setiap minggunya, edukasi di RS Borromeus berbeda-beda misalnya edukasi cara melahirkan, edukasi ASI dan MPASI, edukasi tanda-tanda bahaya pada kehamilan, dan edukasi HIV/AIDS pada ibu hamil.

Senam hamil RS Borromeus

Ada bolanya untuk praktik orang yang mau melahirkan.

Sama seperti prenatal yoga, senam hamil juga fokus pada pernafasan. Saya diajari gerakan untuk mencegah kram, gerakan agar pinggul tidak jatuh karena posisi berdiri yang tidak benar, gerakan menguatkan otot payudara, hingga senam kegel agar otot vagina kuat. Selain itu, saya juga diajari pernafasan saat mengejan nanti. Sama seperti prenatal yoga, dan tidak saya duga, saya juga diberikan afirmasi positif dan relaksasi oleh instrukturnya.

Prenatal yoga dan senam hamil memiliki kesamaan yaitu semuanya fokus pada pernafasan. Bedanya adalah olahraga otot di prenatal yoga lebih terasa sehingga cocok untuk mengolah stamina, sedangkan senam hamil lebih banyak memberikan pengetahuan tentang menuju persalinan. Jadi, kalau disuruh milih, saya sih rekomendasi calon ibu untuk melakukan keduanya karena prenatal yoga dan senam hamil saling melengkapi. 

Kalau bisa ikutan kelasnya beberapa kali dalam seminggu ya bagus. Tapi kalau seperti saya yang hanya bisa ikut saat weekend, saya perlu mengingat gerakannya dan berlatih di rumah. Atau kadang saya melatih stamina dengan berenang dan jalan kaki di treadmill. Saya merasakan manfaat berenang untuk ibu hamil yaitu mencegah sakit pinggang.



Katanya melahirkan itu adalah hal yang diatur oleh Tuhan. Kita bisa melahirkan manusia lain dari lubang kecil itu tentu butuh sebuah kekuatan besar dan keajaiban yang membantunya. Kita, manusia biasa, hanya bisa berdoa dan berusaha untuk membantu agar persalinannya lancar. Salah satunya adalah dengan olahraga. :)

Semangat ya, calon ibu!

Blessed but Stressed

Tanpa terasa kandungan mulai masuk trimester ketiga. Minggu depan memasuki bulan ke delapan, tepatnya. Iya, tanpa terasa. Waktu trimester pertama itu rasanya minggu berganti lamaa banget. Bawaannya pengin cepet besar karena enggak sabar menimang adik bayi. Tapi ternyata benar apa dibilang orang-orang bahwa semakin tua kandungan maka waktu akan terasa semakin cepat. Kandungan yang berkembang cepat pun linear dengan stres yang datang karena berbagai tekanan seperti biaya melahirkan, masalah administrasi untuk kemungkinan memakai BPJS, persiapan peralatan bayi, hingga perasaan tidak mampu mengurus anak dalam waktu lama.

Aih, curhat banget, sis?

Survey ke berbagai rumah sakit yang dekat rumah menunjukkan bahwa biaya melahirkan itu mahal sekali. Apalagi kalau, amit-amit jabang bayi, harus sectio caesarea (SC). Contohnya, Rumah Sakit Limijati yang paling dekat rumah bisa mencapai angka 17-20,5 juta untuk lahiran normal di kelas 1, sedangkan SC-nya 30-35 juta. Wah, walau saya punya asuransi dari kantor, nomboknya banyak sekali. Kalau turun kelas pun nomboknya cukup lumayan. Apalagi rumah sakit ini tidak menerima BPJS.

Pindah rumah sakit juga bukan hal yang mudah. Selain harga, afiliasi dengan asuransi kantor dan BPJS, juga reputasi rumah sakit, saya juga harus memikirkan dokternya. Apakah dokternya komunikatif, apakah dokternya pro normal dan pro ASI, apakah saya harus antre lama, daaan lainnya. Rumah sakit yang harganya cocok buat saya, yaitu Rumah Sakit Advent, tidak memiliki jadwal dokter yang bisa dilihat di websitenya. Oleh karena itu saya harus nelepon untuk cari tahu dokter mana yang praktik akhir pekan. Setelah dapat dua nama, saya juga riset di Google tentang reputasi dokter tersebut. Mencari ulasan dokter juga tidak mudah. Pertama, rumah sakitnya tidak "terkenal" di kalangan ibu-ibu zaman sekarang (kebanyakan pilih RS Hermina, Limijati, atau Borromeus). Kedua, nama dokternya juga tidak terkenal di kalangan ibu-ibu hamil Bandung seperti dokter Tono, dokter Sofie, dokter Widya, atau dokter Maximus.

Akhirnya saya memutuskan untuk periksa ke dokter Joice Tobing. Di internet, saya menemukan beberapa review tentang beliau dan semuanya positif. Ya sudah, saya memutuskan untuk ke sana. Ini pertama kalinya saya periksa di RS Advent. Susternya menyangka selama ini saya periksa ke bidan. Mungkin dia berpikiran seperti itu karena saya kok baru periksa saat usia kandungan 7 bulan. Hehe. Saya juga disarankan untuk tes HIV di tempat karena ini adalah program wajib pemerintah. Bayarnya hanya Rp25 ribu. Walaupun saya tahu saya minim risiko HIV, tapi saya ikut saja karena toh untuk kebaikan bersama.

Balik lagi ke topik periksa kandungan, begitu dipanggil, saya langsung ke ruangan USG. Ruangannya berbeda dengan ruangan konsultasi dokter. Yah, kalau dibandingkan dengan USG di RS Limijati, tampilan USG di RS Advent ini kurang canggih--tapi bukan berarti jelek lho ya. Hehe. Tapi hasil cetaknya sih sama saja. Setelah USG dan tahu bahwa si bayi baik-baik saja, baru deh sesi konsultasi dengan dokter. Dokter Joice orangnya komunikatif, menjawab panjang lebar semua pertanyaan saya dan suami. Tidak hanya masalah kesehatan, saya juga mengutarakan kekhawatiran saja kalau saya harus SC dan harus menggunakan BPJS. Dokter Joice berbaik hati menjelaskan tata cara penggunaan BPJS di RS Advent, bahkan ia langsung memberikan surat keterangan dokter yang diperlukan sebagai proses administrasi BPJS.

I hope everything's fine.

Kalau kata suami, dokter Joice ini orangnya realistis. Misalnya saat ia mengungkapkan bahwa posisi kepala bayi saya di bawah (yang artinya baik), dan saya bertanya apakah posisi tersebut kemungkinan berubah atau tidak, dokter menjawab "harusnya kalau bayi sudah menentukan posisi, tidak akan berubah. Tapi ada kemungkinan bayi berubah posisi juga". Atau misalnya saat saya bilang saya mau lahiran normal dan apakah bisa terlihat dari kontrol terakhir atau tidak, dokter menjawab bahwa kemungkinan apa saja bisa terjadi, misalnya pada saat hari H ternyata ada kesulitan maka mau tidak mau harus SC. Intinya, dokter Joice tidak mau menjamin bahwa A akan tetap A, dan B akan tetap B.

Ya, bener juga sih. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi saat proses melahirkan. Mungkin saya agak kurang puas dengan jawabannya karena saya tipe orang yang ingin pasti bahwa A akan tetap A dan B akan tetap B. Hehe. Semacam ingin ada jaminan gitu. Tapi karena tidak ada masalah dengan komunikasi dokternya, maka saya memutuskan untuk kontrol ke dokter Joice sampai lahiran. I'll let you know the update.

Sebenarnya saya sudah cukup puas sama asuransi kantor yang tidak ribet. Tapi karena tetap saja jika harus SC akan mahal, maka saya memikirkan untuk menggunakan BPJS untuk jaga-jaga. Kalau berdasarkan testimoni dari teman-teman yang SC pakai BPJS, mereka hanya tambah Rp400-700 ribu saja. Wah! Kan saya jadi tergiur dongg. Saya juga disarankan untuk buat BPJS untuk janin sebagai jaga-jaga jika bayi memiliki masalah dan harus diopname setelahnya. Tapi KTP dan KK saya dan suami belum diubah, surat pindah juga baru diurus. Wah, perjalanan administrasi masih panjang. Mana saya dan suami juga tidak sering di Bandung. Hahaha. Agak nyesel juga tidak langsung diurus setelah menikah.

Untuk persiapan peralatan bayi, ini juga jadi perjalanan tersendiri nih. Ceritanya saya mau pakai popok kain, atau cloth diaper (clodi). Dibandingkan popok biasa, clodi mencegah rembes yang lebay pada baju dan tempat tidur karena daleman clodi memiliki tekstur kain yang lebih tebal dan clodi-nya sendiri waterproof. Dan karena bisa dicuci, pakai clodi relatif lebih murah jika dibandingkan pakai popok sekali pakai (diapers).

Sejauh ini baru ini persiapannya.

Suami siaga 2017 yang sedang jemur popok calon adik bayi.

Clodi menjadi dunia yang baru buat saya. Ternyata banyak sekali istilah per-clodi-an yang bikin saya overwhelmed. Selain istilah, banyak sekali merk dan ulasan yang bikin bingung mana yang harus saya pilih. Ibu-ibu muda ini mahir sekali menjelaskan tentang clodi; ya microfiber, ya liner, ya insert, clodi pocket atau cover, daaan membandingkan banyak merk yang sudah mereka coba padahal harga clodi itu tidak murah. Maka, berdasarkan saran teman-teman yang sudah berpengalaman dan juga menutup mata, saya beli alas ompol (prefold) Bumwear dan universal cover Ecobum. Cara pakainya? Belum tahu! Cara cucinya? Sedang dipelajari! Hahaha.

Untuk mengetahui tentang clodi, saya sampai "kuliah" privat sama temen saya lho untuk tanya ini dan itu. Cucinya tidak seperti popok biasa, deterjennya harus khusus, tidak boleh disetrika, and so on and on and on.. xD

Di antara tingkat stres yang tinggi, tinggal sendirian di Jakarta, kadang saya mikir di malam hari bahwa ternyata mengurus anak yang tidak hanya satu atau dua tahun saja. Saya harus urus anak ini selamanya. Berbeda dengan orang dewasa yang tahapan perkembangannya itu-itu saja, tahapan perkembangan anak itu banyak dan cepat. Contoh kecilnya ialah baju yang dipakai setelah lahir akan berganti dengan cepat. Dan saya harus ada di situ untuk menjaga, menuntun, mengurus selamanya. Astaga. Hahaha. Ya iya, ini sadar enggak sih pas bikinnya? :D

Baca-baca artikel di internet, stres pada trimester akhir itu ternyata umum dirasakan ibu-ibu lainnya. Selain persiapan lahiran, perubahan hidup juga menjadi faktor lain. Kadang segala pikiran itu membuat saya sering nangis, lalu setelahnya jadi kasian dan merasa bersalah sama si bayi karena dikasih hormon kortisol oleh ibunya. Saya tidak mau anak ini tumbuh dengan perasaan sedih.

Maka saya harus cari cara supaya tidak terbawa stres. Caranya ialah berusaha menjalani semuanya, satu persatu, one step at the time. Jadi, mikir perlengkapan bayi ya jalani dengan beli perlengkapan bayi. Jangan sambil mikir biaya lahiran, BPJS, atau masalah kerjaan. Haha. Dan sekarang kayaknya saya harus mengarahkan energi untuk mempersiapkan kelahiran anak seperti ikut kelas hamil, olahraga atau ikut kelas yoga, dan lainnya. Biar sisanya dipikir bapaknya. Hee.

Di tengah segala kesulitan dan pikiran, si adik bayi ini menjalankan perannya dengan baik: menjadi sehat. Alhamdulillah selama ini kandungan saya tidak ada masalah yang berarti, paling sakit pinggang--itu pun sudah terselesaikan dengan berenang. Selain itu tidak ada keluhan. Semoga saat lahiran dan setelahnya pun tetap tidak ada keluhan. Dan sekarang ini, karena adik bayi beratnya sudah 1,5 kg, maka setiap gerakannya berasaaa sekali. :) Her presence makes me happy.

Adik bayi, yang penting kamu sehat. Dan semuanya baik-baik saja. Mudah-mudahan semua ini hanya bentuk overthinking ibumu saja. Amin.