Baby Blues, Fase Penuh Penyesalan

Sebagai sarjana psikologi, saya tahu secara teori tentang baby blues. Pengetahuan tentang psikologi membuat saya merasa bisa mengatasi jika saya terkena baby blues. Tapi, ya, teori tinggal teori. Benar kata orang, "Psikologi itu untuk Anda, bukan untuk saya." :D

Bagi yang belum tahu apa itu baby blues, saya jelasin singkat, ya. Jadi, baby blues adalah gangguan suasana hati yang umum dirasakan oleh 70% ibu setelah melahirkan. Gangguan ini terjadi karena perubahan dalam diri si ibu yang terjadi secara drastis, seperti perubahan hormon, perubahan rutinitas, dan diperparah karena capek dan kewalahan urus bayi. 

Gejala yang paling sering kelihatan adalah ibu jadi mudah nangis, lebih mudah marah, dan lebih sensitif. Perilaku baby blues yang pernah ditunjukkan oleh teman saya adalah dia abai dan cuek tidur saat bayinya nangis. Jadi si bayi ditangani sama neneknya.

Saat hamil tua, saya sudah mengungkapkan isu tentang baby blues ini ke suami, dan cerita pengalaman baby blues yang dialami teman-teman saya. Kebanyakan teman-teman saya mengalami baby blues karena suami kurang membantu mereka mengurus bayi. Maka, saya sudah woro-woro agar suami saya terlibat penuh urus Elora.

Suami saya setuju (dan sampai sekarang dia terlibat penuh urus Elora seperti ganti popok dan mandiin). Saya ingat, suami saya bilang dengan muka khawatir, "Kamu jangan baby blues ya." Saya bilang dengan yakin bahwa saya enggak akan mengalami itu karena saya juga enggak mau gitu lho.

Tapi, ya, rencana tinggal rencana.

Saat Elora lahir, suami saya meninggalkan saya ke luar kota saat Elora sudah baru berada 3 hari di rumah. Otomatis saya urus Elora sendirian. Walaupun saya serumah dengan ibu dan kakak sepupu, mereka tidak bisa bantu urus Elora karena segala keterbatasannya. Kakak saya sibuk, ibu saya sudah tua. Mereka hanya bisa bantu untuk jaga Elora sebentar, sisanya saya yang urus.

Perasaan yang muncul pertama adalah perasaan terasing. Bagaimana tidak, biasanya saya bisa pergi ke sana kemari, kini harus berada di rumah terus menerus. Jangankan main jauh, pergi ke mini market saja susah. Saya ingat ketika kakak sepupu mendapati saya baru pulang dari rumah makan yang jaraknya hanya dua rumah dari rumah kami. Ia berkata dengan panik, "Si kecil dijaga siapa??" Saya jadi berpikir, "Wah, pergi sebentar aja enggak bisa!"

Saya sangat menunggu kedatangan teman-teman atau saudara untuk menjenguk ke rumah. Kedatangan mereka seperti oasis di tengah padang pasir! Tapi, ketika mereka hadir, cerita saya hanya berkisar mengeluh dan mengeluh saja tentang mengurus Elora. Saya enggak nyangka bayi akan tergantung seintens itu, selama 24 jam setiap harinya.

Kalau suami saya pulang ke Bandung, saya senang bukan main. Kalau ia harus balik lagi ke luar kota, saya hanya bisa nangis. Ah, nangis sendirian di kamar sambil gendong Elora mah udah sering tuh. Pikiran menyesal menikah dan punya anak juga sering muncul. Also I don't love her.. yet!

Early motherhood in one picture. xD

Puncaknya adalah saat Elora harus libur ASI selama seminggu karena breastmilk jaundince. Terpaksa saya harus memberikan susu sapi melalui dot. Biasanya Elora mengempeng ke puting saat mau tidur, karena pakai botol, ia tidak bisa mengempeng. Maka, Elora kerjaannya nangis mulu. Kalau saya kasih dot, dia malah muntah. Itu membuat saya sangat stres.

Sambil menangis, saya telepon suami. Saya bilang saya ingin lempar anak ini. Betulan, enggak main-main. Saya sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak melempar Elora. Suami saya jadi super cemas. Malam berikutnya, saya dan Elora tidur di kamar ibu saya karena saya butuh dijaga orang lain agar tidak lepas kendali. Saya takut saya hilang kendali.

Suasana hati jadi lebih baik saat Elora menginjak usia 3 bulan. Di situ saya mulai menikmati jadi ibu. Sudah tidak pernah nangis sendirian dan sudah tidak nangis ditinggal suami. And I love her sooo much. She's my world, my everything. Btw, untuk bisa ngomong gitu baru bisa sekarang lho. Hehe.

Kalau saya lihat foto Elora di dua bulan pertama, saya merasa menyesaaal sekali. Saat itu saya merasa berjarak sama Elora. Saya lupa dengan pengalaman menyenangkan bersamanya karena suasana hati saya saya dipenuhi dengan perasaan negatif. Saya lupa muka Elora kecil serta kebiasaan-kebiasaannya. Kalau menatap foto lama, yang timbul malah kesan sedih. Uh, anak kecil yang enggak tahu apa-apa ini kok jadi korban marah-marah ibunya. :(

Untuk teman-teman saya yang sedang hamil tua, pastinya kita enggak mau mengalami baby blues. Tapi, ketika tahu kita mulai mengalami marah dan sedih enggak jelas, jangan malu untuk minta bantuan kepada orang tua dan suami. Give yourself a break! Tinggalin bayi seharian penuh (asal sudah sedia ASIP) dan melakukan hal yang kita suka di luar rumah itu bukan sebuah kejahatan. Because we deserve it.

Kita bakal susah melakukan hal yang kita suka kayak baca buku, dengerin musik, nonton film, dst. Pada kasus saya, jangankan untuk santai, kadang untuk mandi dan makan saja susah. Denger musik pakai earphone dengan volume kenceng aja susah, karena takut Elora nangis tanpa saya ketahui. Sering banget deh saya sudah siap untuk me-time, tiba-tiba Elora bangun dari tidurnya dan nangis. Lalu me-time saya batal.

Pokoknya, jangan urus bayi sendirian. Jika situasi yang maksa kita urus sendirian, luapkan emosi kita ke orang lain. Ya lewat telepon lah, minta dikunjungi teman lah. Intinya, emosi harus keluar daripada luber dan stres. Karena kasian nanti anaknya. Apalagi kalau ibu enggak bisa kontrol fisik seperti jadi mukul atau mencubit anak.

Fase bayi itu hanya sebentar. Hal terakhir yang ingin kita alami adalah melewatkan pengalaman manisnya dan menyesal di kemudian hari. Terakhir, siapkan mental kita sebelum punya anak. Jangan hanya karena lucu, jangan hanya karena di bawah tekanan orang lain. Punyalah anak saat kita sudah siap menjadi ibu.

Berkenalan dengan Disentri dan Amuba

Beberapa minggu yang lalu, Elora diare. Awalnya saya menduga diare karena kok sehari bisa sampai 8 kali BAB. Saya takut dengan dampak diare yaitu dehidrasi karena harus diinfus. Selain itu, karena sering cebok, pantatnya Elora juga sudah mulai lecet. Sebelumnya, Elora BAB setiap dua atau tiga hari sekali. Bentuknya juga tidak seperti selai, tapi lebih encer, berlendir, warnanya hijau, dan ada biji-bijinya (seperti BAB bayi baru lahir).

Saya tanya ke saudara sepupu saya yang merupakan seorang dokter anak. Ia bilang bahwa bayi dikatakan diare jika BAB lebih dari tiga kali dengan bentuk encer dan lembek. Wah, ini sih Elora banget! Sepupu saya menyarankan untuk memberikan Lacto b. Lacto b bukan obat, melainkan probiotik yang menumbuhkan bakteri baik di usus. Kayak Yakult gitu lah. Bentuknya seperti susu bubuk. Saya memberikan kepada Elora dengan cara dilarutkan ke ASI.

Setelah dua hari pemberian Lacto b, tidak ada tanda membaik. Elora juga suka merintih di malam hari. Karena khawatir, saya dan suami pergi ke puskesmas untuk melihat jika ada tanda dehidrasi. Dokter umum di puskesmas mencubit kulit Elora untuk melihat gejala dehidrasi. Sejauh ini belum ada gejalanya. Tapi saat dokter meraba ubun-ubunnya kok terasa cekung. Saya sudah takut saja, ubun-ubun cekung adalah salah satu tanda dehidrasi. Dokter tersebut menyarankan untuk tes feses dan menyuruh kami untuk memantau perkembangannya jika ubun-ubunnya semakin cekung. Ia juga menyuruh untuk meneruskan Lacto b dan meresepkan Zinc Sulphate.

Saya konsultasikan lagi ke sepupu saya hasil dari puskesmas. Total sudah lima hari Elora diare. Sepupu saya juga menyarankan tes feses. Katanya, kalau ada bakteri di dalamnya, penyakit tidak akan sembuh jika tidak dikasih antibiotik. Saya sih tidak anti pada antibiotik. Menurut saya antibiotik tetap perlu untuk kasus yang spesial, bukan kasus ringan seperti batuk dan flu.

Keesokan harinya, suami saya pergi untuk tes feses di laboratorium RSIA Limijati Bandung. Ia membawa feses yang masih fresh sekali. Memang syarat feses yang harus dibawa adalah berusia kurang dari satu jam semenjak keluar. Selain itu, feses yang bagus adalah feses di pagi hari.

Hasil tes lab pertama


Ternyata menunggu hasil feses di RSIA Limijati tidak perlu waktu lama. Suami saya hanya perlu menunggu satu jam saja. Saya memotret hasil lab-nya dan mengirimkan ke sepupu saya. Benar saja, Elora kena disentri dan ada parasit amuba di dalam ususnya. Beruntung feses Elora tidak mengandung darah karena beberapa bayi bisa BAB darah akibat parasit ini.

Disentri ini tidak mungkin disebabkan oleh ASI karena ASI itu steril. Jadi, kemungkinannya adalah tangan atau mainan kotor yang gemar masuk mulut. Sepupu saya menyarankan untuk rutin merebus mainan dan sering cuci tangan sebelum memegang bayi. Makanya, buibu, kita menjaga tangan untuk tetap bersih, ya! Cuci tangan dengan sabun terutama setelah pergi dari luar, habis memegang uang, atau habis cebok.

Sepupu saya meresepkan Cefixime, Metronidazol, meneruskan Lacto b dan Zinc-nya. Jadi, kebayang dong berapa banyak obat yang harus Elora minum. Apalagi saya tidak tahu cara memberikan obat dengan benar pada Elora, jadinya sering tersedak dan muntah. Belakangan jadi tahu bahwa metode terbaik memberikan obat pada Elora adalah dengan menggunakan pipet.

Seminggu setelah pemberian obat, Elora menunjukkan kondisi yang lebih baik, tapi frekuensinya masih sering. Sepupu saya menyarankan untuk tes feses lagi karena tidak mungkin untuk memberikan antibiotik lagi. Hasilnya, parasit amubanya sudah hilang namun disentrinya masih ada. Sepupu saya meresepkan Biothicol. Perlahan, BABnya mulai lebih padat (seperti selai) dan frekuensinya bekurang.

Hasil tes lab kedua


Banyak orang tua zaman dulu menyebutkan bahwa diare adalah fase "indah" atau fase yang menunjukkan bahwa akan ada skill baru yang akan muncul. Tapi, kalau berhari-hari ini, bahkan hampir dua minggu sih namanya bukan indah yaa. Jadi, orang tua kudu awas karena diare kelamaan bisa menyebabkan anak dehidrasi. Kita pasti enggak mau anak kita harus nginep di rumah sakit dan diinfus, 'kan?

Jadi, begitu ceritanya. Semoga bermanfaat yaa.