Genesis, Kedai Kopi di Lembang yang Seriusan

Suka ngopi? Wah, kalau berencana wisata kuliner di Lembang, Genesis Coffee wajib dikunjungi. Saya rekomendasiin banget banget. Keahlian Genesis di dunia kopi udah enggak diragukan karena mereka udah mengelola kopi dari cherry ke green bean selama 4 dekade!

Genesis coffee
Bagian depan Genesis Coffee


Mau kopi lokal? You name it, they got it!
Kalau kamu suka kopi arabika single origin, Genesis adalah gudangnya. Literally. Mereka punya banyak varian kopi dari Aceh, Sumatra, Jawa Barat, Toraja, sampai Papua. Kopi dari luar negeri kayak Ethiopia juga ada. Harga kopi Genesis itu murah, misalnya biji kopi Ciwidey itu Rp25.000 per 250 gram.

Kalau saya enggak suka kopi arabika karena asam. Jadi saya beli kopi house blend-nya Genesis. Kopi kesukaan saya adalah Italian Espresso yang kuat dan enggak asam. Cocok banget kalau mau dibikin tubruk. :)

Genesis Coffee
Bisa makan di dalem gudang. Tapi nggak boleh merokok di sini.

Ada properti alat kopi zaman dulu.

Nah, kenapa tadi saya bilang literally ? Genesis ini enggak hanya cafe aja. Tapi ada pabrik dan gudang kopi di area yang sama. Mereka emang distribusiin kopi-kopi ke seluruh Indonesia. Coba deh tanya kedai kopi dekat rumah kamu, siapa tahu pakai kopi Genesis.

Punya banyak metode seduh manual
Biasanya, orang yang suka kopi tahu nih perbedaan rasa dengan teknik seduh yang berbeda. Kalau buat saya sih sama aja. Haha. Tapii, kalau kamu suka teknik manual brew tertentu, di Genesis punya banyak alat dari pour over, V60, aeropress, syphon, moka pot, dan lainnya.

Di dalem tempat pesan, ada grafik untuk menjelaskan teknik seduhnya sama teknik rasa yang keluar. Misalnya, kalau espresso rasanya akan sangat tebal atau kalau pakai teknik syphon rasanya akan sangat jernih.

Daann.. di sini juga jual peralatan kopi itu. Makanya, Genesis ini semacam jadi pusat pemasok cafe-cafe deh, setidaknya di Jawa Barat.

Let's dine in!
Ok, kalau kamu mau makan dan minum kopi yang udah tersedia di Genesis, nih saya kasih tahu informasinya.

Wisata kuliner di Lembang ini jualan banyak makanan dan minuman. Saat berkunjung kesana, saya pesan kentang goreng, Korean chicken wings, roti bakar, es kobar (kopi bakar), dan hot capuccino. Dari semua menu tersebut, yang saya kurang suka adalah sayap ayamnya karena terlalu keras dan rasanya kurang nendang seperti ayam Bonchon. Hehe.


genesis coffee
Korean chicken wings

genesis coffee
Kentang goreng

genesis coffee
Hot cappucino (kiri) dan es kobar (kanan)

genesis coffee
Roti bakar cokelat kacang
genesis coffee
Bagian dalam rotinya


Kalau suami saya suka banget sama roti bakar cokelat kacangnya. Kepadatan rotinya pas, lembut dan crunchy, terus isinya juga lumayan tebal. Bener-bener kenyang makannya.

Lalu bagaimana dengan kopinya? Saya dan suami suka banget sama hot cappucino-nya. Tetapi kurang sreg sama es kobarnya karena terlalu manis buat kami.

Nah, menurut saya harga makanan dan minuman di sini terjangkau banget. Untuk pesanan saya di atas menghabiskan Rp91.000 saja. Sudah kenyang banget. Nah, kalau mau tahu harga lainnya, bisa cek menu Genesis Coffee ini ya.

Genesis Coffee
Menu makanan Genesis

Genesis Coffee

Kalau penasaran minum kopi dan alkohol, Genesis juga punya lho seperti campuran kopi dengan rum, kahlua, atau Baileys. Kalau enggak salah harganya sekitar Rp40 ribuan.

Oh ya, Genesis Coffee ini alamatnya di Jl. Raya Lembang no. 70. Saat kamu cari wisata kuliner di Lembang, jangan lupa pergi ke sini deh. Dijamin enggak nyesel. :)

Suka Buang Limbah Elektronik ke Tempat Sampah? Segera Hentikan Deh!

Sebelum baca, coba lihat sekeliling, yuk! Ada berapa limbah elektronik yang disimpan di rumah karena bingung mau buang ke mana? Biasanya sampah elektronik seperti handphone, laptop, kabel, atau baterai ditumpuk atau dibuang gitu aja ke tempat sampah. Sampah elektronik jadi bercampur dengan sampah rumah tangga. Padahal sampah elektronik bisa berbahaya buat lingkungan lho!

sampah elektronik, limbah elektronik, bank sampah
Limbah elektronik yang telah saya tumpuk bertahun-tahun :(

Apa dampaknya pada lingkungan?
Sampah elektronik punya mengandung bahan beracun seperti timbal, polivinil klorida (PVC), merkuri, atau rominated flame retardants (BFR). PCV sering ditemuin di pembungkus kabel dan BFRP digunakan untuk papan sirkuit.

Kalau sampah elektronik itu kita biarin atau dibuang sembarangan, bahan-bahannya bisa mencemari air, tanah, dan udara. Ini berdampak pada kesehatan manusia yaitu keracunan pada ginjal, anemia, atau kanker!

Nah, semenjak tahu bahaya sampah elektronik, saya jadi melarang anak saya main kabel charger nih. Biasanya suka saya biarin aja, selama enggak nyetrum. Hehe. Padahal berbahaya buat kesehatan.


Lalu buang sampah elektronik di mana?
Sebenernya udah ada perusahaan yang mengolah e-waste di Indonesia. Sayangnya, perusahaan tersebut hanya menerima sampah dari pabrik manufaktur saja. Kenapa? Karena bercampur dengan sampah rumah tangga itulah yang membuat perusahaan-perusahaan kesulitan mengambil sampah elektronik. Masa iya harus datang ke rumah warga satu persatu?

Kita sering menemui pengepul sampah elektronik. Sayangnya, mereka tidak memiliki kemampuan dan perlengkapan yang aman saat mempreteli sampah-sampah elektronik tersebut. Padahal sampah ini berbahaya buat kesehatan.

Nah, saya menemukan bank sampah elektronik yang dikelola sama komunitas nonprofit EwasteRJ. Komunitas ini mengedukasi tentang pentingnya membuang sampah elektronik secara tepat. Selain mengedukasi, mereka juga menampung sampah-sampah elektronik di kita. Biasanya mereka ada di Car Free Day dan menyediakan dropbox gitu untuk orang-orang yang mau buang sampah elektronik.

Meski komunitas ini lokasinya di Jakarta, tapi agen e-wastenya tersebar berbagai kota, salah satunya Bandung. Nah, kemarin saya menghubungi agen Bandung untuk membuang benda elektronik milik saya yang udah mati.

Agen bank sampah elektronik di Bandung terletak di Greeneration Foundation, Jl. Titimplik no. 13 Bandung. Awalnya saya hubungi dulu contact person-nya yaitu Amel. Sebelumnya Amel tanya seberapa banyak sampah elektronik yang mau saya buang. Saya kirim foto di atas. Lalu dia bilang saya bisa kasih ke mereka dan sampah dikirim pakai kurir Go-Jek.

Sampah elektronik dibungkus plastik agar aman.

Setahu saya, mengirim sampah elektronik ke bank sampah juga harus hati-hati yaitu dibungkus dengan plastik. Jadinya, saya bungkus plastik sampah-sampah tersebut agar aman. Setelahnya, saya masukkan ke dalam dus bekas deterjen clodi.

Sampah elektronik dimasukkan ke dalam dus, siap dikirim.

Lalu setelah dikumpulkan ke bank sampah, apakah mereka akan mempreteli sendiri? Enggak. Komunitas EwasteRJ ini punya link PT Teknotama Lingkungan Internusa atau perusahaan yang memiliki sertifikasi pengolahan limbah elektronik. Jadi, fungsi komunitas ini sebatas membantu mengumpulkan sampah-sampah elektronik saja. Keren ya!

Kalau sampah elektronik yang besar seperti TV, kulkas, atau AC, hanya bisa dititipkan ke agen EwasteRJ di Jadetabek saja.

Nah, kalau mau tahu agen bank sampah di kota kamu, bisa lihat daftarnya di Instagram EwasteRJ. Ini bukan promosi lho ya, murni karena pengen kita mulai sadar memilah sampah dan bumi yang kita tinggali ini lebih baik. Hehe.

Ada yang sudah memilah limbah elektronik atau baru tahu tentang bank sampah elektronik?

Review Pakai Menstrual Cup dari OrganiCup Pertama Kali

Menstrual cup dan tampon sepertinya belum familiar di Indonesia. Banyak perempuan Indonesia yang pakai pembalut. Sepertinya ini terkait dengan norma keperawanan yaitu enggak boleh memasukkan apapun sebelum menikah. Selain itu, menstrual cup atau tampon susah ditemukan juga.

Salah satu merk menstrual cup. Dok. Pribadi

Keinginan saya pakai menstrual cup sudah lama, tapi banyak pertimbangan seperti bingung belinya di mana, takut memakainya, serta harganya yang cukup mahal. Akhirnya saya membulatkan niat saya untuk "hijrah" dari pembalut biasa ke menstrual cup karena semakin prihatin dengan kondisi bumi yang banyak sampah. 

Kenapa pilih menstrual cup

Sebenarnya, kalau alasannya pengen mengurangi sampah, saya bisa pakai menstrual pad atau pembalut kain. Tetapi, saya sudah punya beban cuci clodi anak saya, jadi saya malas harus cuci-cuci lagi. Selain itu, sejak pakai IUD, menstruasi saya banyak banget. Selain jadi harus sering ganti dan pakai pembalut panjang, saya juga sering tembus saat pakai pembalut biasa. Maka, saya jadi takut menstrual pad enggak bisa menampung, terus males aja gitu terasa basah.

Selain itu, katanya daya tampung menstrual cup ini bisa sampai 6-12 jam, tergantung dari banyaknya menstruasi ya. Tapi, mari kita coba dan ketahui hasilnya di akhir tulisan ini.


Bagaimana cara memilih menstrual cup?

Jadi, mulanya saya pilih-pilih menstrual cup di Tokopedia. Di situ terlalu banyak pilihan. Dari yang murah banget sampai yang mahal banget. Saya jadi bingung, mana yang bagus? Dan saya juga sanksi apakah yang murah itu bahannya aman buat saya? Secara menstrual cup masuk ke bagian dalam tubuh.

Tahun ini, saya lagi tertarik banget sama zero waste alias gaya hidup minim sampah. Setelah banyak browsing, saya ketemu akun Instagram Sustaination. Selain edukasi tentang zero waste, akun ini jualan menstrual cup dari OrganiCup. Jadi, saya beli di website-nya Sustaination.

Packaging yang ramah lingkungan karena semua tulisan ada di kardus.

Sustaination enggak cuman jualan. Dia juga ngejelasin secara detail tentang cangkir menstruasi ini. Akhirnya, keputusan saya bulat untuk beli OrganiCup, walau harganya lumayan mahal yaitu Rp400.000!

Menstrual cup punya dua size yaitu size A dan size B. Size A direkomendasikan untuk orang yang belum pernah berhubungan seksual atau lahir secara cesar. Size B ukurannya lebih besar, sehingga direkomendasikan untuk orang yang sudah melahirkan secara vaginal. Karena saya lahiran secara cesar, maka saya pilih size A.

Cara pakai menstrual cup pertama kali

Saya latihan pakai menstrual cup sebelum menstruasi datang, jadi supaya nanti siap saat kejadian. Mulanya memang deg-degan. Tapi setelah dipikir-pikir, walaupun saya enggak melahirkan secara vaginal, tetapi ini vagina udah dimasukkin segala macem, dari tangan dokter/suster saat periksa pembukaan sampai corong saat pasang IUD di puskesmas lalu. Jadi, enggak masalah ya. Hahaha.

Saya baca-baca dulu petunjuk dari OrganiCup, lihat video tutorial di YouTube cara memasukkan dan mengeluarkannya, terus coba-coba metode melipat menstrual cup-nya terlebih dahulu. Setelah tahu, baru deh saya coba masukkin ke vagina.

Triangle-fold

Punch-down fold

C-fold, penampakan dari atas

C-fold. Penampakan dari samping

Diamond-fold yang ribet


Kuncinya adalah rileks. Jadi ketika saya masukkan ke vagina, saya enggak mikir macem-macem. Saya jongkok, tarik nafas panjang, masukkan perlahan, lalu raba bagian bawah cup-nya untuk memastikan enggak ada yang terlipat. Kalau terlipat, ini bisa mengerjakan kebocoran saat menstruasi.

Saya coba beberapa teknik melipat menstrual cup. Yang paling cocok adalah punch-down fold. Saya coba berdiri dan bergerak-gerak. Setelah puas coba, saya latihan melepasnya. Caranya, jongkok kemudian mengeden seperti mau BAB. Nanti akan terasa menstrual cup-nya agak turun. Di situ, saya cubit bagian bawah cup (bukan batangnya) dan tarik perlahan.

Kesimpulannya, tidak sakit dan enak banget dipakai! Sama sekali enggak kerasa ada yang mengganjal. Ah, I wish I knew of this earlier! Pasti hemat banget dan enggak membebani bumi dengan sampah. Apalagi saya masih berenang saat menstruasi karena enggak perlu takut keluar.

Pakai menstrual cup pertama kali saat menstruasi datang

Akhirnya setelah 3 minggu menunggu, si menstruasi datang juga. Saya deg-degan dan excited. Saya aplikasikan langkah-langkah di atas, tapi tidak terasa seenak waktu latihan di awal. Saat masuk, rasanya ada yang mengganjal. Mungkin karena posisinya belum tepat.

Enam jam kemudian, saya keluarkan menstrual cup-nya dan saya cuci. Banyaknya menstruasi saya di hari pertama itu 1/4 cangkir. Setelah dicuci pakai air mengalir, saya masukkan lagi. Rasanya masih kurang pas di vagina.

Nah, pas masuk hari ke-2 yaitu saat menstruasi sedang banyak-banyaknya, cangkir menstruasi saya sudah 1/2 penuh dalam waktu 3 jam saja. Saya harus rutin ganti tiap 3 jam, karena bocor kalau saya biarkan lama-lama. Nah, ini masih trial and error untuk peletakan posisinya. Mungkin menstrual cup untuk pemakai IUD lebih cocok pakai OrganiCup size B.

Ya udah enggak apa-apa. Meski sering ganti, toh saya enggak nyampah juga. Selain itu, saat pemakaian di hari ketiga, saya udah lebih terampil. Sama sekali enggak berasa ada yang mengganjal dan celana dalam terasa kering! Seneng deh.

Saya sih menyarankan banget-banget pakai menstrual cup ini untuk pembaca perempuan saya. Memang terasa mahal di awal, tetapi kalau dihitung-hitung lebih murah kok. Selain itu, kita bisa jaga kesehatan bumi bareng. :)

Selain itu, cangkir ini hanya perlu disteril sebulan sekali setelah siklus menstruasi selesai. Caranya, rebus di panci selama 3-5 menit. Pastikan cangkir menstruasinya enggak terkena bagian bawah panci. Terus, pakai panci terpisah yaa agar tidak tercampur dengan makanan. Kan nanti geli juga. Hehe.

Apakah kamu berniat coba atau justru sudah? Share pengalamannya sama dong! 

Mau Hirup Udara Segar? Ke Forest Walk Babakan Siliwangi, Yuk!

Ternyata enggak perlu pergi jauh kalau mau jalan-jalan di hutan. Kamu bisa jalan di tengah rimbunnya pohon di Forest Walk, yang terletak di Babakan Siliwangi, Bandung. Letak Forest Walk ini berada di tengah kota, mudah dijangkau oleh angkutan umum.

Forest Walk, Babakan Siliwangi, Bandung. Foto: Dok. Pribadi


Forest Walk Bandung dibuat oleh mantan wali kota Bandung yaitu Ridwan Kamil. Jadi, beliau membuat sebuah jembatan sepanjang 2,2 km di tengah hutan kota tersebut. Orang-orang bisa jalan kaki sambil menikmati pohon dan menghirup udara segar.

Nah, walaupun udah lama dibangun, saya baru berkesempatan menjajal jembatan akhir pekan lalu. Ternyata asyik juga!


Cara masuk ke Forest Walk
Arahkan motor atau mobil kamu ke pintu masuk Babakan Siliwangi, yang letaknya dekat Teras Cikapundung. Nanti akan terlihat banyak gerobak jualan serta parkiran motor. Dari pintu gerbang juga udah kelihatan jembatannya kok!

Nanti, di sisi kanan jembatan, ada sebuah pintu kecil yang terletak di tengah-tengah parkiran motor. Agak tricky sih memang. Ke sini enggak boleh bawa sepeda, main skateboard, dan bawa binatang peliharaan ya!

Begitu masuk, kamu akan lihat tempat yang luas yang berisi kursi-kursi. Sayangnya, waktu saya datang saat akhir pekan, tempat ini kotor dengan bungkus makanan. Jadi saya dan keluarga langsung buru-buru cari jalan buat menyusuri jembatan.

Menyusuri jembatan di Forest Walk
Jembatan di sini bentuknya melingkar dan berkelok-kelok. Jadi, kamu akan mulai di tempat yang banyak tempat duduknya itu, dan berakhir di situ juga. Lebar jembatannya sekitar 1,5 meter kayaknya. Bisa buat jalan 2-3 orang.




Saat jalan di sini rasanya senang sekali. Karena ada beberapa pohon yang membentuk gapura, ada pohon trembesi atau ki hujan yang dahannya menjuntai hingga bawah, pohon bambu yang lebat, beringin yang rindang, dan masih banyak lagi. Jadi, pohon di sini cukup rapat ya, sehingga kita enggak bising sama suara mobil atau motor.

Beberapa area jembatan cukup curam. Oleh karena itu, hati-hati saat musim hujan. Kecuraman ini juga sukses bikin beberapa orang yang jarang olahraga ngos-ngosan. Hehe. Tapi aman kok untuk anak-anak. Enjoyable.

Jam operasional dan tiket masuk Forest Walk
Setahu saya, jam operasional Forest Walk itu 24 jam. Tapi, lagian siapa sih orang yang mau jalan malem-malem di tengah hutan kota. Hehe. Nah, di sini enggak ada tiket masuk alias gratis. Enak banget ya!

Saran saya sih, datang di hari kerja karena relatif sepi dan lebih bersih. Jadi kamu bisa duduk-duduk dengan santai. Waktu saya ke sana sih lumayan hectic di area duduknya. Jangan lupa bawa penangkal nyamuk ya, terutama untuk anak-anak kecil. ;)

Selamat berlibur di Bandung! Jangan lupa buang atau bawa sampahmu agar tidak mengotori Forest Walk. :)