Tetap Waras di Tengah Wabah

Ilustrasi Jcomp/Freepik

Semakin hari, berita wabah enggak semakin baik. Ya, ada sih yang baik seperti datangnya bantuan-bantuan dari dalam negeri kayak perlengkapan medis. Beberapa pengusaha besar juga menyumbangkan dana yang miliaran buat melawan Covid-19. Sayangnya, berita buruk masih mendominasi. Penderita positif bertambah, pasien yang meninggal juga masih lebih banyak daripada yang sembuh, dan lainnya.

Berita-berita buruk di media diperparah dengan pendapat-pendapat yang merasa paling benar di media sosial. Misalnya menyalahkan pemerintah, kasih teori ideal apa yang harus dilakukan pemerintah, merasa kasihan dengan petugas medis yang diusir dari kontrakan akibat mengurus pasien posifi, tetapi juga tetap nyinyir dengan pasien 01 dan 03 yang sembuh.

Belum lagi digoreng secara politik seperti "kamu buzzer politik ya?" atau "pantesan Presiden bela Cina karena bantuannya dari sana" daaannn lainnya.

Di media sosial, semua memiliki pendapat masing-masing dan tampak benar.

Setiap orang khawatir dengan kesehatan dirinya. Kemudian hal ini ditambah dengan "teror" dari media sosial yang hanya bikin lebih khawatir. Makanya enggak heran banyak orang yang merasa stres, cemas, hingga panik setiap melihat media sosial.

Kepanikan secara fisik yang saya rasanya itu nyata. Saya merasa pusing, tenggorokan tercekat, nafas pendek, berkeringat, jantung deg-degan, leher terasa ketarik, dan merasa akan pingsan/mati. Saya juga enggak bisa tidur, padahal sudah pukul setengah 4 pagi.

Saat sadar akan hal itu, saya jaga kesehatan mental dengan saya tarik nafas panjang, minum air hangat, memberi sugesti positif pada diri, baca doa/shalawat nabi/dzikir untuk berserah diri dan menenangkan hati.

Kita memang enggak bisa menghentikan orang untuk berpendapat dan media mencari uang dengan "cara yang buruk" yaitu membuat judul bombastis, tetapi kita bisa jaga kesehatan mental dengan melakukan hal-hal ini:

1. Mute kata-kata yang ingin dihindari. Misalnya, Twitter punya layanan mematikan kata-kata, seperti Covid-19, Corona, wabah, daaan lainnya.

2. Uninstall aplikasi tersebut. Saya sendiri sudah uninstall Facebook, Twitter, dan Instagram karena saya bener-bener udah enggak kuat. Satu-satunya aplikasi yang masih dipasang adalah YouTube karena di situ lebih banyak hiburan.

3. Bangun pagi, berjemur, lakukan peregangan, dan tarik nafas panjang supaya tubuh lebih rileks dan sehat.

4. Lakukan kegiatan yang bisa mendistraksi kayak menjalani hobi, main sama anak, atau kerja.

5. Dengerin lagu di radio atau Spotify. Kita bisa pilih lagu atau podcast kesukaan di Spotify dan dengerin penyiar radio yang lucu-lucu.

 Yuk, puasa dulu dari media sosial untuk jaga kesehatan mental. Kita coba bagaimana efeknya terhadap kita.

Semoga kita selalu bahagia dan sehat selalu yaa!

Review Thrandual Hairtonic, Demi Atasi Rambut Rontok

Kadang hidup ini enggak adil. Banyak temen-temen cowok yang kayaknya cuek urus rambut, tapi rambutnya hitam, sehat, enggak terbang-terbang, dan panjang. Salah satunya adalah suami saya yang memang secara genetik rambutnya paripurna.

Dok. pribadi
Salah satu public figure cowok yang rambutnya adalah Otong, vokalisnya Koil. Rambutnya tampak panjang, lebat, dan lurus. Mungkin karena tahu potensi rambut yang dimilikinya, Otong membuat Thrandual Hairtonic. Hair tonic yang mengandung 100% bahan alami ini diklaim memiliki banyak manfaat:

1. Mengurangi kerontokan
2. Membuat rambut terasa halus
3. Bisa dipakai sebagai parfum rambut
4. Menghilangkan dan menyembuhkan ketombe
5. Membuat rambut lebih kuat
6. Menyuburkan akar rambut
7. Mengurangi bertambahnya uban

Saya mengikuti rambut ibu saya: tipis, sering rontok, kering, dan terbang-terbang. Jadi gampang sekali terlihat kusut. Udah gitu juga terlihat kusam. Jeleknya lagi, saya malas perawatan di salon. Jadi, saya memutuskan untuk perawatan di rumah dengan pakai hair tonic Thrandual Hairtonic.

Kesan memakai Thrandual Hairtonic

Saya memakai hair tonic ini seperti yang disarankan oleh Thrandual, yaitu disemprot 2-3 kali sehari, setelah keramas pagi dan sebelum tidur. Untuk menyuburkan rambut, menguatkan akar, dan mengurangi rambut rontok adalah semprot hair tonic di dekat kepala. Pijat kulit kepala selama 3-5 agar hair tonic meresap

Saat semprot pertama kali, wanginya enak banget! Maksudnya enggak nyereng seperti hair tonic pada umumnya. Udah gitu, saya suka dengan tutup semprotan daripada dituang, karena jadi mudah diaplikasikan ke rambut. Hasilnya juga cepat menyerap dan enggak bikin rambut berminyak. 

Setelah dipakai sampai habis, sayangnya kerontokan enggak banyak berkurang, kayaknya sama-sama aja. Rambut juga tetap kering. Tadinya saya mau terusin lagi supaya lebih kelihatan hasilnya, tapi kayaknya akan coba yang lain aja. 

Apakah kamu punya rekomendasi hair tonic yang bagus dan harum? Share ya!

My Thoughts on Coronavirus


Foto demi ilustrasi tulisan. Hehe.
Saat ini dunia lagi berduka karena virus korona lagi mewabah. Wuhan, kota pertama kali virus ini muncul, sekarang sudah bangkit lagi karena penduduknya sudah pada meninggal dan sembuh. Saking banyaknya yang terinfeksi, virus udah enggak punya tubuh baru yang ditulari lagi. Kini giliran negara-negara lain yang sedang berjuang, seperti Italia dan Perancis yang melakukan lockdown karena banyaknya orang yang terinfeksi.

Lalu bagaimana Indonesia? Phew. Negara ini terpontang-panting karena tidak ada persiapan mitigasi bencana non alam. Negara tidak di-lockdown karena pertimbangan ekonomi, tapi belum juga dilakukan test massal. Ditambah prosedur ke rumah sakit yang berbelit-belit, masyarakat diping-pong, dan rumah sakit enggak bisa muat banyak orang sehingga orang yang suspect harus pulang lagi ke rumah.

Ini sih yang bikin saya takut, karena merasa pemerintah enggak bisa memberikan keamanan. Selain itu, lambatnya kerja pemerintah bikin virus ini cepat nyebar tapi enggak terdeteksi dengan baik. Ibarat gunung es, kemungkinan ada banyak orang yang suspect atau positif, tapi kita enggak tahu jumlahnya.

Mulai melemahkan mental
Sejujurnya, wabah COVID-19 ini mulai mengenai mental saya. Saat saya berada di Bandung minggu lalu, berita di televisi kian memburuk. Rasanya saya ingin tetap di rumah bersama keluarga, namun sayangnya saya harus kembali ke Jakarta -- kota yang paling banyak orang positif Corona. Saya juga tahu bahwa saya enggak bisa pulang sesering mungkin karena saya enggak mau bawa virus yang mungkin saya dapatkan saat di mobil travel menuju rumah.

Jadi, kapan saya akan ketemu Elora? Dua minggu kemudian? Sebulan kemudian? Atau berbulan-bulan kemudian sampai pemerintah menyatakan aman?

Ingin rasanya egois, pulang aja gitu. Tapi menyadari bahwa tubuh ini bisa jadi pembawa virus dan menulari yang rentan, seperti ibu saya yang usianya 60+ dan memiliki penyakit hipertensi, rasanya enggak bisa.

Memikirkan itu membuat saya cemas dan panik, hingga sesak nafas. Suami saya mengingatkan bahwa saya enggak boleh stres karena ini bisa melemahkan tubuh. Jadi, saya harus positif dan siap mental.

Membayangkan skenario terburuk
Kekhawatiran lainnya adalah saya tinggal di rumah kosan 4 lantai. Di dalamnya terdapat banyak anak kos yang bisa membawa virus kapan saja. Jadi, lingkungannya sangat rentan sekali. Kalau ada yang positif di kosan, kemana saya harus pergi?

Apalagi banyak orang yang ingin Jakarta di-lockdown. Artinya, kita semua dilarang ke luar rumah. Apakah masyarakat tidak akan chaos dan panic buying? Kalau menurut UU, pemerintah harus memberikan makanan jika terjadi lockdown. Apakah pemerintah mampu melakukannya? Apakah saya akan kebagian makan?

Opsi work form home itu sama sekali enggak memberatkan, karena saya pernah melakukannya selama dua tahun. Tapi work from home sembari "terpenjara" di kamar kos 2x3 meter dan jauh dari keluarga itu berbeda.

So sorry if my thoughts makes you afraid. I know this kind of worry is just like a broken record. Almost everybody's complain about it. But I need to get it off my chest.

Tapi, kita harus beradaptasi
Sama seperti pada umumnya, saya cuci tangan, berbekal hand sanitizer saat sedang mobile seperti pulang kantor (FYI, kantor baru memberlakukan seminggu dua kali untuk work from home), makan buah dan sayur yang banyak, makan vitamin c, dan olahraga.

Selain yang banyak disarankan di atas, saya melakukan beberapa hal:

- Olahraga dengan jalan kaki ke kantor atau pulang kantor. Lumayan olahraga 30 menit. Ini juga jadi cara menghindari angkutan umum yang berdesak-desakkan atau sharing helm kalau pakai ojol.
- Sepulang kantor ganti baju dan langsung mandi (gak rebahan dulu di kasur!). Cuci baju yang dipakai ke luar. Jadi, enggak ada tuh namanya numpuk celana jeans dan tetep dipakai selama enggak bau. Hehe.
- Pakai tangga darurat daripada lift. Tangga darurat di kantor pintunya selalu terbuka, jadi mengurangi tertular lewat gagang pintu.
- Bawa mukena sendiri saat salat di musala. Sayangnya, lupa bawa sajadah sendiri. Wkkk!
- Bawa alat makan dan minum sendiri.
- Kalau nerima paket, lap paketnya pakai tisu antibakteri.
- Setelah kerja di kantor, laptop, mouse, dan meja dilap pakai tisu antibakteri.
- Enggak pegang-pegang hp pas di jalan supaya enggak kotor.

Untuk urusan Elora, saya percayakan pada suami saya. Dia tahu cara mencegahnya dengan baik. Dia juga bisa bantu mengawasi ibu saya. Semoga semua diberi kesehatan dan keselamatan.

Di tengah lingkungan yang penuh dengan risiko virus corona, pilihan satu-satunya hanya bergantung pada sistem imun yang ada di diri. Sedih enggak ketemu anak dan keluarga kayaknya emang kudu disingkirkan dulu.

We need to adapt. We have no choice.

Review Spray Usir Kucing

Buat sebagian orang, kucing adalah binatang yang lucu. Miara kucing (atau kedatangan kucing liar) itu bisa mengesalkan kalau dia kencing, spraying, atau pup sembarangan. Nah, ini terjadi di rumah saya.

Setelah browsing, ternyata cara mengusir kucing itu engga perlu kasar, tapi bisa pakai semprotan. Cuman apakah spray tersebut efektif untuk toilet training kucing? Saya mau kasih tahu pengalaman saya pakai Go Cat. Tulisan ini enggak disponsori Go Cat yaa!

cara mengusir kucing
Dok. pribadi

Apa kandungan yang ada di Go Cat?
Go Cat ternyata buatan IPB. Di dalamnya ada cairan essential oil yang bikin kucing enggak berani ngedeketin. Ternyata ada dua jenis Go Cat, ada yang isinya essential oil dan ada yang isinya asam kayak kotoran harimau. Kayaknya saya beli yang essential oil.

Aroma-aroma ini bertujuan supaya di kucing enggak berani ngedeketin karena ini bukan daerah teritorialnya. Terus klaimnya bisa tahan 24 jam dari minyak ini disemprotkan.

Jadi semprotan ini harusnya enggak beracun ya. Jadi, kita engga perlu takut akan bunuh kucing. Tapii, jangan semprotkan kandungan ini ke makanan.

Gimana khasiatnya?
Setelah semingguan dipakai pada pagi dan sore hari, semprotan ini enggak bener-bener manjur sih karena si kucing masih spraying beberapa kali di tempat yang sama. Tapi, frekuensi spraying si kucing mulai berkurang. Nah, sementara ponakan saya merasa kurang manjur pakai yang versi gel karena kucing masih pup atau kencing di keset.

Apakah saya merekomendasikan produk ini? Sejujurnya saya kurang puas sih. Namun kalau bisa mengurangi frekuensi, itu lebih baik daripada enggak ada perubahan sama sekali. Soalnya ganggu banget liat bercak pipis atau spraying kucing di lantai.

Ada yang punya cara mengusir kucing dengan metode yang baik? Jangan jawab pakai anjing ya! Soalnya di rumah enggak boleh miara anjing. Hihi.