Mengapa Kita Senang Melihat Orang Susah?

Photo by Jakayla Toney on Unsplash

Akhir tahun lalu, tanah air kita dihebohkan oleh berita seorang artis yang tersandung skandal video dewasa. Beritanya terus digoreng, kolom media sosialnya penuh hujatan, sindiran, melecehkan, bahkan jadi bahan tawaan. Kayaknya orang-orang puas aja gitu melihat kemalangan dia.

Atau, mungkin kita pernah nyetir mobil dan disalip oleh orang lain. Di depan, mobil yang menyalip itu ditilang polisi. Pas lihat itu, kita merasa puas dan senang karena merasa mereka mendapatkan ganjarannya.

Kenapa sih kita senang melihat ketika seseorang mengalami kegagalan atau kejadian yang tidak mengenakkan?

Iri bilang, bos!  

Arthur Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, melontarkan istilah "Schadenfreude" atau "harm-joy" untuk menggambarkan fenomena di atas. Schadenfreude adalah pengalaman menyenangkan atau memuaskan saat melihat orang lain mengalami masalah, kegagalan, bahkan hal memalukan.

Ini bisa dialami anak kecil juga? Bisa banget. Inget enggak kita suka ngetawain temen yang jatuh atau kepeleset? Nah, itulah schandenfreude.

Penyebabnya? Agresi dan persaingan. Orang yang punya self-esteem rendah (misal, kita) lebih cenderung ngerasain pengalaman ini lebih sering dan intens. Kita ngerasa kesuksesan yang dialami orang lain mengancam persepsi kita kepada diri kita sendiri (sense of self). Dan melihat orang "hebat" sedang jatuh dapat jadi sumber kenyamanan karena kita jadi melihat diri kita mengalami sebuah improvement.

Dih, jadi harus merendahkan orang lain dulu ya supaya jadi pede.

Alasan lainnya adalah ternyata kejadian buruk yang menimpa orang lain itu memiliki manfaat pada kita, misalnya meningkatkan superioritas kita.

Kebayang enggak sih, untuk menjaga kepedean itu atau perasaan superior tetap tinggi, kita harus membuat orang terus ada "di bawah". Seperti kasus artis di atas, semenjak kasusnya meruap, hampir semua posting-nya berisi hujatan, sindiran, tawa. 

Contoh lainnya, para influencer luar negeri banyak yang kena "cancel culture", yaitu saat mereka melakukan kesalahan, mereka dijelek-jelekkin hingga mereka berhenti produksi konten untuk beberapa waktu atau membuat perusahaan-perusahaan memustukan kontrak kerja sama dengan mereka.

Saya mencium aroma-aroma iri di sini. Orang-orang yang enggak bisa bersaing secara materi dan popularitas memilih merasa puas melihat pesaingnya ini jadi enggak populer dan miskin lagi agar setara dengan mereka.

Apakah ini hal yang jahat?

Kalo kata Schopenhauer, "Merasa iri itu manusiawi, tapi menikmati kejadian buruk yang dialami oleh seseorang itu kejam." 

Kalo kata saya, perasaan ini kalo dipupuk terus menerus, jadinya akan mengecilkan kemampuan kita untuk berempati pada orang lain. Ya kalau hanya sekadar seseorang jatuh kemudian kita menertawakannya. Tapi gimana kalau menertawakan kematian seseorang, seperti yang saya baca di kolom komentar social media berita saat ibunda presiden kita wafat? 

Ini jadi reality check juga buat saya sih. Harusnya kita, atau saya, bisa merasa superior atau berharga tanpa perlu senang melihat orang susah. 

Comments

  1. Gue nggak tega baca hujatan orang-orang ke artis yang kayaknya lo maksud itu, Ni. Tadinya gue nggak ngerti kenapa orang sampe harus sesadis-sadis itu ke si artis, mustinya ya udahlah, cukup, udah berlebihan banget, kasian.

    Tulisan lu bikin gue jadi ngerti sudut pandang netijen, walaupun tetep nggak membenarkan. Self reminder juga buat kita sendiri biar selalu aware sama respons ya...

    Thank you, Ni...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Deaa, udah berlebihan banget. Sekarang kayaknya orang² terus menghujat meski udah di luar konteks. Dia ngomongin apa, tetep komentarnya balik lagi ke situ.

      Thanks udah mampir, Deaa..

      Delete
  2. Thankyu NJ sharingna.
    Terutama bagian "perasaan superior tetap tinggi, kita harus membuat orang terus ada "di bawah" .. kayak tipe2 buliers di jaman sekolah dulu jg bgt tampaknya.
    Gw jd ngerti sudut pandang org yg suka nge bully gw wkt skolah. Hehehe.
    Nuhun NJ

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Wajib Dicatat! Ini Cara Menghemat Kuota Telkomsel yang Efektif

Cara Hemat Listrik 900 Watt yang Cermat agar Pengeluaran Tetap Terkontrol

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?