Anak, Korban Pandemi Covid-19 yang Terlupakan

Kita udah tahu kalau pandemi Covid-19 ini membuat sosialisasi kita terbatas. Jelas, pandemi membuat kita cemas. Enggak bisa ngantor, enggak bisa hangout, enggak bisa kumpul keluarga. Kita juga sering curhat betapa kangen teman-teman, betapa bosan di rumah., betapa stresnya mengajarkan anak SFH. Namun, ingatkah kita bahwa si anak yang tampak cerah ceria ini juga merasakan dampaknya? Kecemasan anak selama pandemi Covid-19 juga banyak terjadi lho.


Dari awal pandemi, Elora udah stop main perosotan dan ayunan di taman dekat rumah. Ia pernah beberapa kali ke taman, tapi kami cari yang enggak ada permainannya supaya dia enggak pegang-pegang. Di beberapa kesempatan, dia sempat berinteraksi dengan anak-anak lainnya, tapi itu juga kami melihatnya dengan perasaan was-was.

Awal-awal pandemi dia masih suka bilang kalau pengin main perosotan di taman. Namun kami jelaskan bahwa lagi ada virus korona, jadi belum bisa main di taman. Sekarang ini, dia udah enggak minta main lagi. Dia juga udah tahu harus pakai masker, pakai hand sanitizer, dan cuci tangan. Social distancing? Wah, jangan harap, mana bisa dia.

Kegiatan sosialisasi Elora yang kurang jadi semakin berkurang. Kami memutuskan untuk stop dulu bermain dengan teman-teman sebayanya yang mau main ke rumah. Mungkin tampak lebay ya? Bagaimana pun kami enggak mau ambil risiko. Apalagi anak-anak kan susah main pakai masker.

Asisten rumah tangga di rumah sempat bawa anaknya bekerja. Si anak ini sempat dua minggu enggak dibawa karena sakit flu. Setelah dia masuk ikut ke rumah lagi, waah.. kami enggak izinkan itu si Elora main sama dia. Jadinya, kami bikin dia sebetah mungkin di kamar.

Contoh kejadian lain yang enggak terhindarkan adalah pengunjung cafe yang bahwa anak ke rumah (kebetulan di depan rumah ada restoran). Elora ingiiin sekali main sama mereka. Kadang kami biarkan, kadang kami larang (karena mereka 'kan mau makan). Si Elora suka sedih kalau kami larang. Bahkan tidak jarang ia nangis.

Elora sedih, kami juga sedih melihat dia karena anak ini punya kebutuhan sosialisasi tapi kami belum bisa memenuhinya dengan maksimal.

Hal tidak terhindarkan lainnya adalah kalau ada saudara yang berkunjung bawa anak. Ya sudahlah, itu keluarga. Kalau ada apa-apa, jadi tanggung jawab bersama dan kita lebih mudah tracking-nya. 

Saya coba memenuhi kebutuhan interaksi Elora dengan cara mengikutkan kelas daring. Dia lumayan senang sih, tapi tetap saja tidak menggantikan interaksi langsung. Salah seorang teman sempat mengajak ikutan kelompok bermain yang katanya menerapkan protokol kesehatan, tapi saya juga belum berani. Waduh, sekolah yang wajib aja masih tutup, ini kelompok bermain kok berani-beraninya udah buka. Saya makin enggak rela kalau Elora ketularan karena kegiatan yang enggak prioritas. 

Kadang kami jalan-jalan, tapi ke tempat yang terbuka dan sedikit orang seperti main sama rusa di Taman Hutan Ir. H. Juanda. Biar dia tetap melihat dunia luar. Atau ke cafe yang saat itu hanya kami saja pengunjungnya seperti Musat di Jl. Cilaki Bandung.

Doa dari tahun lalu sampai sekarang masih sama, semoga pandemi segera berlalu ya, agar Elora dan anak-anak kita segera ketemu lagi dengan teman-temannya.

Comments

  1. Semoga Pandemi segera berlalu dan Adik Elora bisa bermain dengan riang gembira

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Wajib Dicatat! Ini Cara Menghemat Kuota Telkomsel yang Efektif

Pasang IUD di Puskesmas