Jika Saya Menjadi Ibu ...

Sejak usia dewasa awal, saya sudah memiliki gambaran sosok ibu ideal buat anak saya. Nah, karena sekarang sudah punya anak, saya berusaha memenuhi standar ibu ideal tersebut. Memang ibu yang sempurna itu engga ada, tapi saya memiliki standard sendiri yaitu anak saya bisa berbahagia memiliki ibu seperti saya.

Meretas tabu, anak tidak melulu dekat dengan ibu

Photo by Julien Pouplard on Unsplash

Iklan di media selalu menggembar-gemborkan betapa romantisnya hubungan ibu dengan anaknya. Bahkan sosok ibu posisinya bisa di atas ayah. Tapi nyatanya tidak. Ada anak yang lebih dekat dengan ayahnya, ada ibu yang lalai, ada juga yang kedua orang tuanya abai. Hubungan orang tua dan anak tidak seromantis itu!

Saya percaya bahwa semua anak mencintai orang tuanya.. tanpa syarat. Saya melihat hal ini pada Elora. Meski kadang ia dimarahi dan dibentak, dia selalu mencari saya. Dia selalu mencubit pipi saya pertanda gemas, dia selalu bilang karya macrame yang saya buat itu bagus, dan selalu menghujani dengan ciuman. Di mata Elora yang usianya tiga tahun, saya sempurna.

Saya jadi merefleksikan hubungan ini kepada saya dan ibu saya. Sepertinya, di awal kehidupan, saya seperti anak pada umumnya: selalu ingin dekat dengan ibu. Saya selalu ingin ikut jika ia pergi ke pasar. Terkadang mandi pun sama-sama. Saya ada di bawah badannya dan menerima kucuran air yang ia basuh ke badannya.

Namun, lama kelamaan, sosok ibu ini banyak mematahkan hati saya. Misalnya, ketika saya mengadu kalau saya dimarahi oleh guru di sekolah, ibu menuduh itu akibat perbuatan nakal saya. Ia menghakimi tanpa tahu cerita seutuhnya. Misalnya, ketika saya butuh pendamping saat mendaftar sekolah, ibu tidak ada. Sejak SMP, saya selalu daftar sekolah sendiri.

Saya merasa ia kurang berjuang agar kami mendapatkan kehidupan yang baik. Saya merasa dia egois tidak menjaga kesehatannya sendiri, sehingga saya yang selalu kena tegur keluarga: dianggap cuek, tidak mengurus, dan harus melakukan serangkaian hal. Padahal ibu yang diam-diam menyembunyikan kopi sachet penuh gula di bawah bantal, ia pula yang membeli gorengan dan memakannya sendirian di kamar.

Sudah dibilang dengan baik-baik? Sudah. Sudah dibilang dengan keras? Sudah juga. Sudah menjadikan cucu sebagai alasan? Apalagi itu!

Saat belum nikah, sebagai anak tunggal, saya harus menanggung beban itu semua. Harus ke rumah sakit naik angkot berdua saja. Harus membuat keputusan sendiri atas kehidupan ibu saya. Sejujurnya, semenjak menikah, beban saya jadi terbagi ke suami. Setidaknya ada teman tertawa miris jika saya merasa kesulitan menghadapi ibu saya.

Sedari sekolah, saya selalu merasa iri dengan teman-teman yang diantar oleh orang tuanya. Saat dewasa, saya iri dengan teman-teman yang bisa dekat dengan ibunya, memberikan kata mutiara saat hari ibu. Jujur, karena kedekatan itu tidak pernah terbangun, saya geli melakukannya.

Ya, kami dekat, namun karena ia satu-satunya orang tua saya dan saya satu-satunya anaknya. We're stuck each other.

"Nia, tapi kan dia IBU kamu. Dia yang melahirkan kamu. Kamu harus sayang!"

Eneg sekali mendengar kata-kata tersebut. Pertama, tidak meminta untuk dilahirkan. Kedua, mengapa ia tidak membangun kedekatan itu sedari awal. Ketiga, saya sudah kenyang dipaksa menyayangi seseorang, seperti harus menerima sosok ayah yang hampir tidak ada itu. Rasanya, kenapa saya harus mengerti perasaan orang lain, tapi engga ada yang mengerti saya.

Engga, saya juga engga mau jadi anak yang durhaka. Semua keluh kesah itu berusaha saya tahan, dan berusaha memenuhi kewajiban anak aja: bawa ke rumah sakit kalau sakit, kasih uang bulanan buat makan, doa ke Tuhan agar dosa-dosa kami diampuni.

Jadikanlah saya buah yang jatuh jauh dari pohonnya

Saya tidak mengidolakan ibu saya, justru saya ingin jauh dari image-nya. Saya ingin jadi ibu yang bisa diandalkan oleh Elora, ibu yang kuat dan jadi garda terdepan membela anak, ibu yang selalu ada saat Elora perlu.

Saya juga ingin menjadi ibu yang pintar agar Elora bisa bicara apa pun pada saya. Ibu yang selalu mendengarkan, dan ibu yang bisa membantu hidup anaknya. Ibu yang sehat sehingga tidak menyusahkan anaknya. Ibu yang bisa membuat Elora berseru bangga, "Itu ibuku!"

Ya, tentu ibu saya bukan tidak memiliki hal positif sama sekali. Dengan segala keterbatasannya, ia selalu berusaha memberi untuk Elora. Ia selalu berupaya memberi kami makanan meski itu mengambil milik anggota keluarga lain. Hehe. Ini kadang membuat saya maluuu sekali.

Ya, ibu sangat mengajarkan banyak hal: tidak ingin menjadi sepertinya, dan tidak ingin anak saya merasakan hal yang sama. Terima kasih, Ibu!

Comments

  1. Peluk dari jauh! Jadi inget pernah dibeliin nyokap elu mie dalam perjalanan kereta ke Yogyakarta.

    Makasih ya udah berbagi sisi hubungan orang tua dengan anak yang nggak biasa muncul di iklan (karena kurang menjual?) Meski konflik nggak terhindarkan, semoga Nia dan nyokap senantiasa akur dan sehat-sehat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dikaa, peluk dari jauh juga! Thank you, Dika, buat doanya.

      Delete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Wajib Dicatat! Ini Cara Menghemat Kuota Telkomsel yang Efektif

Cara Hemat Listrik 900 Watt yang Cermat agar Pengeluaran Tetap Terkontrol