Pengalaman Pertama Kali Tes Swab PCR di Jakarta

Selama 1,5 tahun pandemi berlangsung, akhirnya saya merasakan pengalaman pertama kali tes swab PCR di Jakarta. Bukan, bukan karena memiliki gejala, tetapi karena mengikuti syarat untuk bisa balik ke kantor. Ternyata lumayan deg-degan juga.

Foto ilustrasi dari Unsplash/Mufid Majnun

Saya melakukan tes swab PCR di Klinik Kasih ProSehat, Jl. Palmerat Barat, Jakarta. Harga tes yang express atau H+1 adalah Rp800 ribu. Klinik buka pukul 8 pagi. Ketika saya datang pukul 8.30, ternyata sudah banyak yang mengantre dan semuanya periksa tes rapid antigen.

Pada Juni ini, saya memutuskan untuk stop work from home dan kembali ngantor karena berbagai alasan. Setelah bekerja dan dekat dengan anak selama 1,5 tahun, rasanya berat juga. Mungkin saya akan cerita lebih detail gimana pergulatan batin seorang ibu yang harus pisah jauh dengan anak.

Pegawai di sana sudah default aja kerjanya, jadi orang-orang yang datang dianggap mau tes rapid antigen. Hehe. Jadi begitu saya ke pendaftaran, mereka langsung minta data-data saya tanpa ditanya mau tes apa. Setelah jawab pertanyaan staf, saya bilang mau tes swab PCR, dia agak kaget dan mengubah data-data yang udah dimasukkin. Hehe.

Jadi penting yaa buat kamu untuk bilang dari awal kalau akan tes swab PCR.

Staf di Klinik Kasih ProSehat yang muda dan cepat tanggap.

Begitu setelah masuk ruangan, saya ditanya-tanya lagi seperti pernah kontak dengan orang yang positif engga, habis dari luar kota, atau merasa sakit atau sehat. Berbeda dengan orang-orang yang tes rapid antigen yang langsung duduk sesuai antrean. Begitu masuk ke ruang swab, petugas juga nanya lagi kenapa saya PCR.

Saya pikir, wah kayaknya spesial sekali perlakuan orang yang mau swab PCR. Hehe. Mungkin mereka jadi ekstra hati-hati ya.

Petugas swab juga nanya apakah saya sudah pernah swab sebelumnya. Saya jawab belum. Dia terlihat agak kaget, "Termasuk antigen?" Saya jawab iya. Jadi, selama 1,5 tahun ini saya cukup menerapkan protokol kesehatan yang ketat di rumah, jarang ke luar rumah, dan tidak pernah merasa gejala Covid-19.

Saya bilang kalau saya deg-degan juga mau di-swab. Petugas bilang saya untuk rileks dan menginfokan hal-hal yang harus saya lakukan saat di-swab, seperti:

1. Kepala menengadah.

2. Saat sedang dicolok idungnya, napas lewat mulut. Jadi, kita harus tarik nafas panjang lalu keluarin perlahan-lahan lewat mulut.

3. Kepala sama tangan usahakan tidak bergerak.

4. Saat dicolok lewat mulut, buka mulut lebar-lebar dan julurkan lidahnya.

Rasanya? Pedeesss. Mata jelas berair, dan pengen nangis. Bukan karena sakit, pedes aja gitu. Belum lagi sama dia diputer-puter di dalam hidung kiri dan kanan. Kalau di bagian mulut mah enggak terlalu gimana-gimana, karena kita biasa masuk makanan 'kan?

Setelah di-swab, saya pulang dan menunggu pemberitahuan lewat email dan WhatsApp. Jujur, semalaman itu saya parno. Gimana kalau saya positif? Saya akan bikin cemas keluarga dan merepotkan orang-orang. Kalau saya terinfeksi dari Bandung, artinya keluarga saya juga harus swab dong? Saya juga jadi enggak bisa masuk kantor dan bakal isolasi sendirian di kamar kos. Lalu bagaimana jika gejalanya berat? Gimana saya bisa ke Wisma Atlet?

Wah pokoknya overthinking. Saya terus menerus meyakinkan diri bahwa saya sehat, tidak ada gejala, indra penciuman dan pengecap pun tidak ada gangguan. Saya pasti sehat.

Bangun tidur, saya langsung cek WhatsApp dan email. Belum ada email dari mereka. Baru sekitar pukul 8.30 pagi, sebuah WhatsApp masuk. Dilihat dari notifikasi, foto profil pengirimnya adalah klinik tersebut. Wah, here we go..

Setelah diunduh filenya, ternyata hasilnya ... negatif!

Sumpah langsung sujud syukur. Terkesan lebay sih ya, tapi saya selega itu. Hahaha.

Jadi saya bisa masuk kantor lagi nih. Dan dengan leganya saya mengabarkan ini pada HRD, atasan, dan keluarga saya.

Saya jadi inget masa-masa pertama kali rapid tes di April 2020. Saat itu belum ada swab, baru tes antibodi dan rapid tes biasa. Waktu itu tesnya diambil darah dari lengan dan dari ujung jari. Memang sedikit tidak horor dibandingkan dicolok hidungnya.

Semoga kita sehat selalu yaaa. Tentu hasil negatif tes swab PCR di Jakarta ini enggak jadi surat sakti saya bebas berkeliaran di mana aja, apalagi tanpa masker. Namun yang jelas ini jadi surat sakti masuk kantor. Hehe. Sampai ketemu di postingan selanjutnya!

Comments

Popular posts from this blog

Wajib Dicatat! Ini Cara Menghemat Kuota Telkomsel yang Efektif

Cara Hemat Listrik 900 Watt yang Cermat agar Pengeluaran Tetap Terkontrol

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?