Enak WFH, Kenapa Kembali ke Jakarta?


Sejak awal pandemi, kantor tempat saya bekerja berbaik hati mengizinkan saya untuk kerja dari rumah. Itu jadi oase di tengah gurun, karena mental saya mulai melemah akibat saya enggak bisa ketemu Elora. Saya pun menjalani WFH dengan senang hati. Kerjaan sih enggak ada bedanya. Saya bisa keep up dengan deadline karena memang sudah biasa kerja freelance.

Awal-awal memang ada adaptasi, terutama meeting harus dilakukan lewat Zoom. Itu jadi hiburan buat saya karena masih bisa lihat teman-teman. Namun setelah teman-teman mulai masuk kantor dan Zoom berkurang, saya jadi khawatir hubungan pertemanan melonggar.

Kantor pun tidak pernah memanggil saya untuk kembali WFO. Kadang teman suka tanya kapan saya balik ke Jakarta, dan saya selalu jawab nunggu panggilan kantor. Memang posisi saya bukan yang tipe harus hadir di kantor karena menulis bisa dilakukan jarak jauh. Apalagi atasan saya juga lebih setuju kalau saya kerja dekat dengan Elora.

Waktu berjalan dan mulai ada keinginan untuk beli ini itu yang lebih besar. Saya dan suami diskusi bahwa sepertinya saya harus kembali ngantor supaya slip gaji kembali normal (WFH bikin beberapa tunjangan terpotong), status kepegawaian bisa naik, dan dapat fasilitas lainnya. Dengan berat hati meninggalkan Elora tetapi tidak ada jalan lain, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta.

Meninggalkan Elora

Iya, berat sekali meninggalkan Elora. Apalagi dia semakin pintar, semakin peka dengan situasi. Kalau situasinya seperti dulu yaitu bisa PP Bandung-Jakarta setiap minggu, mungkin saya santai menghadapinya. Sekarang 'kan enggak bisa PP tiap minggu. Saya enggak mau ambil risiko menularkan keluarga dan teman kantor. Lagipula ternyata harus izin atasan, CCO, HRD, dan tes swab PCR kalau mau mudik. Waa.. pokoknya repot. 

Saya sudah bilang ke suami bahwa sepertinya akan pulang per dua atau tiga bulan sekali. Bayangkan tidak ketemu Elora selama itu.

Sebelum pergi, Elora sempat sakit panas secara tiba-tiba. Banyak yang bilang sepertinya dia tahu bahwa akan ditinggal pergi ibunya. Hal itu bikin saya sedih. Setelah dia sembuh, saya akhirnya pergi juga. Ya, dia menangis kencang ketika saya masuk mobil dan dia enggak ikut. Itu bikin saya patah hati dan ingin sekali membawanya.

Saya dan suami sepakat bahwa ia dan Elora akan tinggal di Bandung untuk sementara. Pertama, Elora sudah sekolah di playschool. Kedua, kami malas ngontrak (karena mending ditabung untuk beli rumah). Ketiga, kasus Covid-19 di Bandung lebih sedikit daripada Jakarta. Keempat, rumah di Bandung besar dan nyaman.. memang sebaiknya dia di sana saja.

Saya menyangka Elora hanya akan bete saat ditinggal saja, setelahnya dia akan ceria lagi seperti biasa. Namun ternyata saya salah. Dia enggak mau makan, enggak mau sekolah. Maunya tiduran, nonton tv, tidur membelakangi ayahnya, dan bilang ia marah sama ayahnya (karena melarang ikut ibunya). Bahkan dia enggak mau bahas tentang kepergian saya, bahkan ia selalu mengalihkan pembicaraan. Waduh!

Elora ternyata sudah dewasa. Ia peka dengan keadaan, emosinya juga lebih kompleks. Artinya, saya dan suami enggak bisa bertindak atau ngomong seenaknya dengan pikiran "Ah, dia masih kecil, pasti enggak akan ngerti atau cepat lupa." Elora sudah jadi manusia.

Menahan rindu selalu

Saya bukan orang yang didesain sebagai orang tua yang bisa jauh dengan anaknya. Jadi, hampir setiap malam saya nangis kangen Elora. Bahkan saya mimpi dia ikut ke Jakarta dan terbangun karena saking sedihnya.

Teman-teman dekat selalu meyakinkan bahwa Elora baik-baik saja di rumah. Keluarga saya memang jadi memanjakan dia seperti dikasih barang-barang atau dianter ke sekolah. Iya sih, dia memang tampak happy-happy aja.

Teman-teman dekat juga meyakinkan bahwa suatu saat Elora mungkin akan mengerti perjuangan ini, bahwa ibunya ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Mungkin ini akan jadi cerita manis di suatu hari nanti.

Semoga.

Comments

  1. Peluk Nia. Gue bisa bayangin patah hatinya. Semoga Elora tetep ngerasain bahwa apapun situasinya, cinta ibu-bapaknya selalu utuh...

    ReplyDelete
  2. Peluk Nia, sabarrr yaaa. Sesama emak-emak tahu betapa beratnya ninggal anak..

    ReplyDelete
  3. Ngilu bacanya, Nia. Dari anak-anak, kita memang udah kenal rasa sayang, kehadiran, dan perpisahan ya Semoga keadaannya bakalan terus membaik, dan pada saatnya keluarga elu bisa tinggal sama2 lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.

Popular posts from this blog

Wajib Dicatat! Ini Cara Menghemat Kuota Telkomsel yang Efektif

Review Clodi Ecobum, Cluebebe, Babyland, dan Little Hippo. Mana yang Terbaik?

Cara Hemat Listrik 900 Watt yang Cermat agar Pengeluaran Tetap Terkontrol