Ketipu Kenalan dari Online

Let's talk about The Tinder Swindler, film dokumenter yang dirilis oleh Netflix. Awalnya, saya kurang tertarik karena menyangka film ini adalah karya fiksi yang dibuat ala ala dokumenter. Namun, setelah banyak baca headline berita, ternyata merupakan kisah nyata Simon Lieve, seorang penipu ulung yang banyak memakan korban.


Bagi yang belum nonton, The Tinder Swindler ini berkisah orang-orang yang ketipu sosok pacar bernama Simon Lieve alias Shimon Hayut yang mereka kenal dari aplikasi kencan, Tinder. Di aplikasi tersebut, Simon merepresentasikan dirinya sebagai pengusaha berlian yang sukses, kaya, dan suka keliling dunia. Tentunya ini menarik untuk para korban. Setelah mereka bertemu dan pacaran, sebulan kemudian Simon meminjam uang hingga ratusan ribu dolar AS dengan alasan ia mengalami masalah besar yang mengancam nyawa. Para korban ini merasa kasihan dan ingin menolong. Bahkan ada yang rela pinjam ke beberapa bank hingga mencapai sekitar Rp3,2 miliar. Setelah korban menstransfer kemudian menagih hutangnya, Simon memberikan cek kosong.

Pernah dirampok kenalan online

Saya merasa relate ketika menonton The Tinder Swindler. Pasalnya, saya juga pernah ketipu. Haha! Memang saat itu masih SMA, jadi masih bodoh banget lah. Jadi, saya kenalan sama orang di MIRC atau Yahoo Messenger gitu. Dari awal memang sudah ada feeling malas ketemu orang ini, mana usianya lebih tua dari saya. Karena ada perasaan enggak enak menolak ajakan, akhirnya saya setuju ketemuan di Pizza Hut Dago. Lalu, saat makan, dia tiba-tiba mau pinjam hp dan bilang mau nelepon keluarganya. Entah kenapa kok saya mau-maunya minjemin hp. Terus dia pura-pura cari sinyal, keluar restoran, dan tidak pernah kembali. Hp Nokia saya digondol si bangsat. Hahaha.

Jujur sih, saat itu mah saya gemeter waktu menyadari hp saya dicuri. Dengan berat hati, saya pinjam hp pengunjung sebelah meja untuk menghubungi nomor saya yang pastinya gak diangkat. Mereka awalnya curiga, tapi kasian juga setelah saya ceritakan kejadiannya. Saya juga menghubungi sahabat saya untuk minta jemput (karena saya down banget—tapi dia pun tidak hadir). Akhirnya, saya bayar pizza sendiri, dan pulang dengan langkah gontai.

Pas pulang ke rumah, bukannya disemangati, malah saudara bilang bahwa saya dihipnotis lah. Padahal mah ya, gak perlu dihujani asumsi atau judgement. Cukup beri pelukan aja gitu. Ah.

Ingin menjadi pahlawan

Salah satu korban di film dokumenter, Cecile Fjellhøy, mengaku bahwa ia jatuh cinta dengan sosok Simon karena Cecile diberikan perhatian yang tidak pernah didapatkan. Saat mereka ena~ena, Cecile melihat ada luka panjang di punggungnya Simon. Saat melihat luka tersebut, Cecile merasa kasihan dan melihat Simon sebagai sosok rapuh yang harus ia lindungi.

Oke, lagi-lagi saya relate dengan ini. Dulu saat SMA dan kuliah, saya senang mendekati cowok yang problematik, misterius, dan rapuh. Kalau kata Coldplay mah "I will try to fix you." Hahaay. Mungkin ada perasaan gimanaa gitu saat saya merasa dibutuhkan sama orang lain. Setelah dewasa, saya menyadari mending cari cowok mah yang sehat jiwa raga, tidak rumit, dan malah dia yang harusnya bisa 'mengangkat' kita. Hidup sudah susah, tidak perlu membebani diri dengan merawat orang lain!

Salah sendiri kok matre!

Sepanjang film, saya menyalahkan korban kenapa kok bisa ketipu. Andai mereka tidak mencari pria bergelimang harta, mungkin mereka tidak akan mengalami hal ini. Namun, pemikiran tersebut kok rasanya sama seperti menuduh pelecehan seksual yang terjadi akibat baju yang dikenakan oleh perempuan.

Satu-satunya yang pantas dituduh ya Simon, bukan para korban. Apalagi ternyata para korban masih harus membayar hutangnya hingga kini. Simon juga dipenjara dengan masa tahanan yang lebih pendek dari tuntutan, dengan alasan dia berbuat baik dan ada pandemi Covid-19 juga. Kini, ia bebas berkeliaran di mana-mana. Meski demikian, Tinder segera mengambil langkah dengan ngeblok dia di aplikasi tersebut.

Beberapa korban sepertinya udah cinta banget dengan sosok Simon. Emosi mereka dimanipulasi oleh Simon. Saat tahu kebenaran tentang Simon, mereka tidak hanya sedih karena kehilangan uang, tetapi juga sedih karena hilangnya sosok yang mereka cintai atau harapkan. 

Kayaknya tidak adil juga menyalahkan 'kebodohan' korban karena perasaan tulus seperti itu. Mereka tidak perlu diingatkan 'kamu sih mau-maunya', 'kamu sih bodoh', 'kamu sih mengedepankan perasaan', atau 'kamu sih tidak rasional'. Mereka sudah tahu kok, mereka cuman perlu 'OK, saya berduka atas apa yang terjadi padamu. Apa langkah selanjutnya? Ada yang bisa saya bantu?'

Ingat, bisa saja kita berada di posisi mereka.

Menjadi pengingat kita semua

Di zaman digital seperti sekarang dengan mudahnya akses dan banyaknya aplikasi kencan, mudah sekali mencari kenalan atau pacar online. Banyak yang berhasil dan akhirnya menikah, tetapi mungkin banyak juga yang kena scam seperti di atas.

Memang bertemu orang secara online enggak melulu harus berujung pacaran. Kita banyak ketemu teman baru. Saya pernah masuk komunitas online di masa SMA dan masih berkomunikasi dengan mereka di grup WhatsApp hingga sekarang. Sudah beberapa kali ketemu mereka juga. 

Film The Tinder Swindler mengingatkan kita untuk berhati-hati untuk membagikan dan percaya pada apapun secara online. Kita tidak tahu siapa yang ada di balik layar. Bisa jadi seekor anjing yang mengetik keyboard-nya.


----------

Photo by Shayna Douglas on Unsplash

4 comments:

  1. Aku udah masukin film ini ke dalam list, secara semua temen lagi heboh bilang filmnya bagus 😄. Penasaran. Aku sendiri ga ada pengalaman tertipu dengan kenalan online. Mungkin krn pekerjaan yang menuntut untuk selalu curiga dengan siapa saja, jadi memang aku ga mudah percaya 😅. Apalagi ngasih data2 pribadi..

    Tapi aku punya bbrp temen yg ketipu dengan orang2 bajingan begini. Ada yg menghilang pas H-2 wedding day mereka. Kenalannya orang Prancis. Sedih sih kalo sampe ada temen yg tertipu begini . Bener sih mba, yg patut disalahkan, ya penipunya. Bukan korban. Ya namanya kita kenalan Ama dating apps, pasti tujuannya utk cari pasangan atau temen Deket dulu setidaknya. Udah pasti lama2 jadi suka dengan apa yang kita denger atau lihat di awal, walo masih saling jauh.

    Pas temenku ketipu, aku juga ngerasa keseeel banget Ama itu cowo. Berharap dia kena ganjarannya suatu saat. Temenku mungkin ga terlalu banyak tertipu, tapi malu nya secara undangan udah disebar, segalanya utk pernikahan udah dibayar.

    ReplyDelete
  2. aku sudah nonton ini, suka dengan ceritanya

    ReplyDelete
  3. Waaahh.. turut bersedih buat temennya, mb :( ah iya, selain malu, kan perasaan suka atau sayangnya nyata ya. Pasti dia patah hati :(

    ReplyDelete
  4. Bisa jadi seekor anjing yang mengetik keyboard-nya.

    Suka banget sama kalimat penutupnya.

    Ah jadi pengen nonton film lengkapnya juga.

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.