Beli Rumah Pertama, Ini 4 Pelajaran yang Didapat

Tahun ini menjadi tahun bersejarah buat saya. Keinginan saya dari kecil, yaitu memiliki rumah sendiri, akhirnya tercapai. Alhamdulillah. Memang banyak tenaga, pikiran, dan pastinya uang yang keluar. Namun semoga semuanya sepadan dan berguna di masa depan.

Sebagai orang yang tidak punya pengalaman membeli rumah, saya mau cerita pelajaran-pelajaran yang saya dapat ketika beli rumah pertama.

Ilustrasi foto rumah, demi privasi.


1. DP 0% hanyalah trik marketing

Kita pasti sering melihat banyak promo perumahan yang menawarkan DP 0%. Too good to be true, right? Padahal DP rumah idealnya 30% dari harga rumah. Kalau rumahnya 500 juta, berarti DP-nya 150 juta. Ada juga beberapa developer yang DP-nya boleh 10%. Jadi, kalau rumahnya 500 juta, maka DP-nya 50 juta.

Kemarin saya tertarik ambil rumah yang DP 0%, agar tabungan saya bisa dipakai untuk mengisi rumah. Setelah KPR saya diterima, pihak developer bilang kalau KPR saya turun plafon. Maksudnya turun plafon adalah kalau harga rumahnya 500 juta, pihak bank cuman kasih pinjaman 450 juta.

Plafon saya turun sekitar 50 juta. Kalau kata teman saya yang punya pengalaman beli rumah, itu adalah hal yang biasa. Turun plafon bisa sampai 50-100 juta.

Selain turun plafon, saya juga harus bayar biaya akad sekitar 20 juta. Jadi, total yang saya keluarkan di awal sekitar 70 juta. Sama saja seperti bayar DP, kan?

"Ya, pihak bank mana berani terima yang tanpa DP, Nia," jawab teman saya ketika mendengar curhatan saya ini.

Saya pikir pasti pihak marketing paham mengenai hal ini. Cuman sedari awal dia selalu promosi "Nanti cuman keluar 15 juta doang kok buat biaya akad KPR" atau "Kalau dilihat dari riwayat kredit ibu dan gaji, kemungkinan turun plafonnya sangat kecil." 

Lama-lama, angka yang dia infokan semakin naik. Misal, awalnya marketing bilang plafon saya turun sekitar 20 jutaan saja. Saya setuju buat lanjut proses KPR. Namun, beberapa lama kemudian, dia bilang bahwa ternyata turunnya jadi sekitar 50 juta. Karena saya sudah lelah urus administrasi, banyak merepotkan pihak HRD terkait surat-surat, ya sudah akhirnya saya setuju juga untuk dilanjut proses KPRnya.

Menurut saya sih memang ini trik marketing ya. Harga awalnya dibuat seolah-olah ringan, tapi lama-lama dinaikkan juga. Apalagi ketika pembeli sudah merasa sejauh itu urus KPRnya dan sudah pengen cepat punya rumah juga.

2. Tidak ada gratis biaya balik nama SHM, AJB, Notaris, dan BPHTB 

Saat tanda tangan akad di depan notaris, saya baru tahu harga rumah yang sebenarnya adalah setengah dari harga yang ditawarkan ke saya. Kalau harga rumah saya 500 juta, maka harga aslinya 250 juta. 

Harga yang ditawarkan ke saya itu ya sebenarnya sudah termasuk balik nama SHM, AJB, biaya notaris, dan biaya BPHTB. Ya sebenernya saya juga yang bayar, bukan gratis yang seperti dipromosikan di brosur. Hehe. Namanya juga jualan yak?

Sebenarnya ini bukan hal yang buruk sih, karena biaya-biaya tersebut jadi masuk ke plafon cicilan kita. Kebayang engga kalau kita sudah harus bayar puluhan juta di awal, terus developer bilang kalau saya masih harus nambah biaya balik nama SHM, AJB, notaris, dll yang jumlahnya juga pasti jutaan. Wah, pasti jadi terasa berat, apalagi kita harus menyediakan cash di awal. 

3. Marketing tidak hapal produk rumahnya

Ketika proses serah terima kunci, suami saya bertemu dengan kontraktor developernya untuk urus pompa air. Saat awal survei rumah, pihak marketing bilang kalau pembuatan sumur bor sudah termasuk dari harga jual. Ternyata, untuk rumah saya, sistem airnya lebih baru dibandingkan rumah-rumah lainnya. Jadi, air tidak diambil dari sumur bor, tapi ada satu sumur bor milik developer yang mengalirkan air ke semua rumah.

... dan pihak marketing baru tahu tentang hal ini. Apa karena ia tidak update? Atau pura-pura tidak tahu?

Sistem air terpusat seperti ini ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya, saya enggak perlu repot beli pompa dan torent air, hanya mengadalkan aliran dari sumur milik developer. Sisi buruknya, kalau semua rumah pakai air berbarengan, semprotan airnya bisa jadi kecil. Selain itu, gimana kalau torent di pusatnya kosong, kami jadi tidak ada air dong?

Pihak developer menawarkan agar kami membuat ground tank. Nanti, kami tinggal pasang pompa air untuk menarik air dari ground tank tersebut. Mulanya suami saya enggak mau karena pompa air akan jalan terus setiap kami buka keran. Namun, akhirnya kami memutuskan untuk beli pompa yang menyedot air dari ground tank, lalu airnya dialirkan ke torent yang disimpan di atas rumah kami. Ini lebih hemat listrik.

Sekarang agak susah untuk bikin sumur bor. Pihak developer bilang sekarang pemerintah punya kebijakan masyarakat dilarang bikin sumur bor/pakai air tanah karena permukaan tanah yang semakin menurun.

4. KPR berarti semua sertifikat ditaruh di bank

Saya baru tahu banget kalau kita KPR ke bank, artinya semua sertifikat asli disimpan di bank sampai kita dapat melunasi semua cicilannya. Saya hanya bisa dapat fotokopiannya. Saya tanya ini ke notaris, dia bilang memang begitu karena rumah bisa digadai oleh pemilik kalau sertifikat aslinya dipegang oleh mereka. Hmm, makes sense sih.

Karena "pemilik" rumah sekarang adalah bank, saya harus lapor kalau mau melakukan beberapa hal, seperti: bangun rumah jadi bertingkat atau rumahnya disewakan. Pembangunan yang mengubah kontruksi, seperti bangun rumah jadi bertingkat, pastinya akan mengubah perhitungan asuransi kebakaran. Ibaratnya mereka membayar plafon buat 1 lantai, tahunya kerugian yang dialami adalah 2 lantai. 

Saya harus lapor ke bank kalau rumah saya mau disewakan, karena nanti pihak bank akan membuat surat kepada penyewa bahwa rumah ini sedang dalam proses cicilan. "Nanti kasihan penyewa kalau sudah bayar sewa full 1 tahun, tiba-tiba rumahnya disita di tengah jalan. Jadi, surat ini berguna supaya si penyewa tahu," kata notaris. 

Meski banyak "jebakan batman"-nya saat beli rumah pertama, saya dan suami tetap senang punya rumah. Ada rasa kebanggaan sendiri lihat rumah berdiri. Setidaknya kami jadi lebih bebas, jadi lebih mandiri. Saya juga bisa mewariskan aset kepada Elora, anak saya. Setidaknya beban dia di masa depan bisa berkurang.

Buat teman-teman yang mau mengajukan KPR untuk beli rumah pertama, semangat ya! Semoga artikel ini berguna untuk kalian. 


----------

Photo by Birgit Loit on Unsplash

0 comments:

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.