Insecurity is Driving Me to Omah Elora

Setelah menulis dua hal teknis hal-hal yang harus diperhatikan saat membeli rumah pertama dan cara mengajukan KPR, saya mau bercerita alasan emosional kenapa saya memberi rumah.

Saya telah memimpikan punya rumah semenjak kecil. Semenjak kecil, saya dan mamah menumpang di rumah kakek yang kini jadi milik kakak sepupu. Tentu ada rasa enak dan tidaknya. Sisi enaknya adalah rumahnya sangat besar dan nyaman, dan enggak perlu mikir biaya makan, air, dan listrik. Sedangkan tidak enaknya adalah tidak bebas menentukan sesuatu. Kadang, kalau ada barang yang rusak, saya disalahinmeski bukan salah saya.

Perasaan ingin punya rumah sendiri semakin besar ketika sudah menikah. Saya pikir, "Wah, saya enggak bisa membiarkan Elora hidup seperti saya. Saya ingin dia punya ruang yang besar untuk tumbuh dan berkembang.. dengan bebas." Selain itu, saya juga ingin memiliki aset yang bisa diwariskan kepadanya saat ia besar nanti.



Akhirnya, setelah melalui darah, keringat, dan air mata.. keinginan tersebut terkabul. Memang ada rumahnya tidak sempurna (seperti jauh dari keluarga, berada di kota yang panas, dan fasilitas sekitar yang kurang karena letaknya di kabupaten), tetapi semuanya adalah hasil jerih payah sendiri. Saya berhasil menunjukkan kepada diri saya bahwa saya mampu untuk hidup mandiri.

Sepertinya saudara-saudara sepupu cukup bangga dengan pencapaian ini. Saya berbeda dari sepupu lainnya yang mungkin sudah terlahir dengan privilege, seperti kedua orang tua yang lengkap dan bekerja, sehingga bisa kasih 'modal' hidup untuk anak. Sedangkan mamah saya tidak bekerja. Saya hidup berdasarkan 'sumbangan' keluarga. 

Untungnya semuanya itu berakhir ketika saya bekerja, karena bisa kasih ke orang tua dan membiayai hidup sendiri. Oke, saya mungkin masih belum mapan dibandingkan sepupu yang lain, tapi setidaknya saya tidak pernah meminta.

Buat teman-teman yang masa lalunya sama seperti saya, atau sedang mengalami hal yang sama, semoga segala kesusahan bisa jadi amunisi untuk berjuang dan mendapatkan hidup yang lebih baik.

Perjuangan saya juga belum selesai. Rumah masih perlu dirawat, anak juga masih harus dibesarkan. Semangat!

0 comments:

Post a Comment

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.