"Elora Mau Motor"

Sudah 6 bulan kami tinggal di rumah baru, memulai hidup baru. Semuanya tampak berjalan lancar. Cicilan KPR bisa dibayar, makan pun nikmat, dan mengisi rumah dengan perlahan tapi pasti. Elora juga dapat sekolah yang nyaman dan bagus—yang didatangi oleh ia dan ayahnya menggunakan sepeda.


Elora dan ayahnya cukup terkenal dan banyak disapa oleh para anak dan orang tua di sekolah. Pasalnya, mereka adalah satu-satunya orang yang memakai sepeda ke sekolah. Banyak juga orang yang memuji hal ini, dan akhirnya ada satu orang yang mengikuti kebiasaan naik sepeda ke sekolah.

Berbeda dengan apresiasi yang datang dari orang lain, Elora justru merasa "tertinggal" karena ia naik sepeda ke sekolah. Ia ingin punya motor, seperti teman-temannya. Ia ingin naik motor, karena dianggap bisa sampai lebih cepat.

Mendengar hal itu, kami jadi merasa gundah juga, karena ada beberapa alasan kenapa kami belum punya motor.

Pengen punya motor listrik

Mungkin terkesan idealis, tapi saya dan ayahnya Elora betul-betul mencoba mengurangi sampah dan jejak karbon (klik Not Feeling That Well untuk membaca tulisan saya tentang sustainability). Setiap harinya, saya naik sepeda gowes ke stasiun, lanjut naik kereta api, dan jalan kaki ke kantor. Di rumah, saya juga menggunakan kompor listrik (selain itu, saya juga takut kompor elpigi meledak di dapur kami yang tertutup) untuk masak sehari-hari. Kami juga mencoba memilah sampah di rumah, rutin membawa tas belanja ke pasar, dan tidak menutup pekarangan rumah dengan beton. :)

Motor bekas bertenaga BBM yang murah memang banyak, tetapi motor listrik yang bagus memang rada mahal. Salah satu motor listrik yang sering saya lihat di jalanan seharga hampir 20 juta. 

Harga BBM juga kian mahal. Saya sempat tanya ke beberapa pengemudi ojol yang pakai motor listrik, mereka bilang bisa hemat 1/4 kali jika dibandingkan pakai motor BBM.

Belum bisa cicil barang lagi

Tentu ada alasan uang juga dibalik kenapa saya belum bisa beli motor. Selain masih ada cicilan KPR rumah, saya dan suami juga masih fokus untuk mengisi rumah terlebih dahulu. Selain itu, kami juga belum melihat urgensi beli motor listrik, karena masih bisa pakai sepeda dan ojol kalau mau pergi-pergi.

Cara menjelaskan ke Elora

Elora sudah berkali bilang kalau dia pengen naik motor ke sekolah. Keinginan ini cukup bikin ayahnya sedih, karena ia enggak ingin Elora merasa left out dari teman-temannya dan tidak percaya diri. Ayahnya jadi ingin buru-buru beli motor listrik bekas, padahal belum tentu juga kondisinya baik.

Saya pengen Elora tahu bahwa keputusan kami belum punya motor bukan karena semata-mata belum ada uangnya, tetapi ada sebuah kepercayaan yang kami pegang teguh, yaitu demi lingkungan. Oleh karena itu, saya coba jelasin ke Elora dengan bahasa yang seringan mungkin bahwa asap motor bikin bumi kita jadi panas. Saya juga hubungkan dengan buku yang pernah ia baca tentang global warming. "Nah, kan Elora pernah baca buku tentang bumi yang jadi panas karena ada asap dan nebang pohon.. biar bumi enggak kepanasan, kita bisa pakai sepeda yang enggak ngelurain asap. Malah, harusnya Elora bilang ke temen-temen untuk pakai sepeda aja ke sekolah, biar bumi enggak kepanasan," jelas saya.

Tau enggak Elora bilang apa? "Oke nanti aku bilangin ke temen-temen. Aku juga mau pakai sepeda aja," katanya.

Saya pengen Elora tahu bahwa kalau dia tidak punya sesuatu, dia enggak perlu bersedih. Elora bisa cuek, atau malah berbangga karena dia punya alasan yang kuat. Saya pengen Elora bisa melihat sesuatu kekurangan bukan dari sisi negatifnya, tapi dari positifnya. Karena, saat dia besar nanti, dia akan banyak menghadapi hal-hal yang belum tentu bisa ia dapat. Dan Elora harus bisa kuat menghadapinya.


Baca artikel lainnya tentang kegiatan ramah lingkungan:

2 comments:

  1. Anonymous1:21 PM

    Seru-seru mengharukan gini ya cerita ttg berkompromi dengan keinginan : )

    Dika

    ReplyDelete

Komentar di blog ini akan dimoderasi agar penulis dapat notifikasi komentar terbaru.